Ramadan dapat kita maknai sebagai momentum khidmat untuk mengoptimalkan ibadah. Namun, pemaknaannya kadang menyempit hanya mencakup praktik ritual seperti salat, puasa, dan membaca Alquran.

Di dalam salah satu diskusi Husein Ja’far Al Hadar dan Muhammad Quraish Shihab tentang Ramadan, penilaian tersebut diperluas dengan menempatkan ibadah sebagai pengalaman yang mencakup dimensi spiritual, sosial, bahkan akhlak sehari-hari.

Sosok muda yang akrab disama Habib Ja’far itu menjelaskan, ibadah tidak hanya terbatas pada aktivitas ritual yang diatur secara formal. Ibadah mencakup segala bentuk penghambaan kepada Allah SWT yang dilandasi ketundukan dan keikhlasan, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. 

Husein Ja’far menegaskan, makna ibadah juga mencakup sikap dan perilaku sehari-hari. “Diam saat diprovokasi, tersenyum, atau memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan juga termasuk ibadah,” ujarnya.

Dan ibadah puasa, khususnya saat Ramadan, diposisikan sebagai latihan pengendalian diri. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga mengelola emosi, ucapan, dan reaksi terhadap situasi di sekitar kita.

Husein Ja’far berpendapat, puasa seharusnya menjadi perisai dari perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, bukan justru menjadi alasan untuk mudah marah.

Pandangan tersebut selaras dengan penjelasan Quraish Shihab. Cendekiawan muslim ini menyoroti bahwa ibadah tidak semata diukur dari kuantitas, melainkan dari kehadiran hati dan keikhlasan. Ibadah yang dilakukan tanpa kesadaran batin berisiko kehilangan makna meskipun secara lahir tampak benar.

Perbincangan keduanya didokumentasikan melalui saluran YouTube Najwa Shihab bertajuk “Mengoptimalkan Ibadah Ramadan bersama Habib Husein Ja’far”. Husein Ja’far dan Quraish Shihab juga menyinggung pentingnya istiqomah dalam beribadah.

Husein mengingatkan, peningkatan ibadah selama Ramadan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Artinya, jangan terpaku untuk melakukan aksi besar tetapi hanya musiman. Melakukan aksi kecil atau terkesan sederhana juga tetap bisa bernilai ibadah, apalagi jika dilakukan secara konsisten. 

Pemahaman tersebut relevan dengan dinamika kehidupan modern yang sering kali membuat ibadah mudah terhenti setelah Ramadan berakhir. Oleh karena itu, Husein mengajak kita memahami Ramadan tak semata sebagai lonjakan aktivitas ibadah sementara melainkan sebagai proses pembiasaan. 

Ibadah juga perlu dilihat sebagai upaya membentuk akhlak yang terus terbawa hingga memasuki hari-hari usai bulan suci, termasuk dalam cara berinteraksi dengan orang lain dan merespons situasi sehari-hari. 

Husein Ja’far juga menekankan agar Ramadan dimanfaatkan sebagai periode pembelajaran untuk memperbaiki hubungan melalui pengendalian emosi sembari menumbuhkan empati. 

Pasalnya, pengendalian emosi memang menjadi salah satu misi utama ibadah puasa. Tapi praktik ini semakin menantang mengingat kita hidup pada era modern, yang masyarakatnya cenderung rentan tersulut marah termasuk di ruang digital.

Oleh karena itu, imbuh Husein, ibadah pada Ramadan perlu dipahami lebih mendasar agar tak hanya menjadi ruang peningkatan ritual ibadah. Bulan suci justru menjadi momentum latihan memperbaiki akhlak, menjaga hubungan, serta menata ulang pengendalian diri.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.