Bulan suci Ramadhan selalu menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Hal ini dikarenakan segala amal yang dikerjakan pada bulan suci akan diganjar pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT.

Bulan ini juga kerap dijadikan momen bagi umat Muslim untuk menyebarkan ajaran Islam. Salah satunya melalui kultum, yaitu salah satu media dakwah dimana waktu penyampaiannya berlangsung dalam waktu terbatas, sekitar 7 menit.

Maka dari itulah, kultum juga kerap disebut sebagai kuliah tujuh menit. Kultum sendiri umunya dibawakan oleh seorang pemuka agama, ustadz, Kyai menjelang waktu berbuka puasa atau setelah pelaksanaan salat Shubuh dan Tarawih.

Tema yang diangkat pun beragam. Salah satunya yaitu mengenai ikhlas yang merupakan salah satu fondasi spiritual terpenting dalam Islam. Ini juga menjadi topik menarik dan banyak dicari karena memiliki kaitan penting dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.

Berikut di bawah ini beberapa contoh kultum singkat tentang ikhlas beserta dalilnya yang bisa dijadikan sebagai referensi.

Contoh Kultum Singkat tentang Ikhlas

Berikut ini lima contoh kultum singkat dari berbagai sumber yang bisa dijadikan referensi bila ingin mengangkat tema ikhlas dalam kultum yang akan dibuat.

Contoh Kultum Singkat tentang Ikhlas (India Today NE)

1. Makna Ikhlas

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji dan Syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat serta berkah-Nya kepada kita, umat islam. Shalawat dan salam kita curah limpahkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan semua pengikutnya.

Rasulullah SAW. berpesan kepada umatnya: "Sungguh, sahnya amal itu tergantung niat. Bagian setiap orang (dari amalnya) adalah niatnya. Barang siapa hijrahnya karena Allah SWT dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah SWT dan rasul-Nya (diterima dan mendapat pahala). Barang siapa hijrahnya karena dunia yang dicapai atau perempuan yang dinikahi maka hijrahnya karena tujuan tersebut (tercela, tidak diterima di sisi Allah SWT dan tidak mendapat pahala)."

Begitu luas makna dari hadis di atas, bahkan dikatakan hadis tersebut merupakan separuh ilmu. Bagaimana tidak, amal yang dikerjakan oleh setiap orang muslim sangat-sangat bergantung pada niat. Bahkan tidak berlebihan kiranya jika dikatakan niat lebih utama daripada amal. Sebab, balasan dari amal seorang muslim tergantung oleh niatnya.

Az-Zarnuji dalam Ta'lim al-Muta'allim menjelaskan: "Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia, lalu menjadi amal akhirat karena bagusnya niat, dan banyak pula amal yang berbentuk amal akhirat, kemudian menjadi amal dunia karena buruknya niat."
Andai kita mau berangan-angan, sekilas orang yang tidak makan sejak fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat puasa itu sama saja dengan orang yang tidak makan tanpa niat puasa.

Mereka berdua sama-sama kehausan, sama-sama kelaparan, lemas dan kurang tenaganya karena tidak makan dan minum. Akan tetapi orang yang pertama mendapat pahala ibadah puasa karena telah niat puasa. Sementara orang yang kedua tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar dan haus. Karena apa? Tentu jawabannya karena tidak terbesit di dalam hatinya untuk niat puasa, beribadah kepada Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah, maka dari itu sangat penting kiranya kita murnikan setiap aktifitas yang kita jalankan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menjelaskan, ikhlas adalah sebagaimana sabda Rasulullah SA ketika ditanya tentang ikhlas. Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan:

"Penjelasan yang tuntas (terkait ikhlas) adalah penjelasan pemimpin setiap makhluk yakni Nabi SAW saat ditanya perihal ikhlas. Rasulullah SAW menjelaskan (ikhlas adalah) kamu berkata: 'Allah SWT adalah Tuhanku." Lantas kamu konsisten sebagaimana kamu diperintah. Artinya jangan kamu sembah hawa nafsu kamu, jangan kamu sembah selain Tuhan kamu dan kamu konsisten dalam beribadah kepada Allah SWT. Penjelasan demikian memberi isyarat untuk menghilangkan selain Allah dalam pandangan dan inilah hakikatnya ikhlas."

Sederhananya, yang dapat mengukur taraf keikhlasan adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita mengarahkan hati dan pikiran supaya beramal murni untuk Allah SWT. Menghilangkan tujuan-tujuan lain yang dapat merusak amal sehingga apa yang kita lakukan tidak ada artinya.

Terakhir, mari kita berdo'a bersama semoga kita bisa meluruskan niat dalam beribadah kepada Allah serta semoga amal kita diterima di sisi Allah SWT. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Ikhlas Menghadapi Ujian

Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Hadirin sekalian yang saya hormati, pertama sekali, marilah kita memanjatkan puji syukur yang tiada terhingga kepada Allah SWT. Karena Allah telah memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar.

Karunia dan nikmat itu ialah umur yang panjang, kesehatan yang baik, dan kesempatan yang luang sehingga kita semua bisa menghadiri acara kultum ini.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Untuk mengukur sejauh mana kadar keimanan dan kesabaran seseorang, maka Allah lalu menimpakan suatu ujian. Semua manusia pasti mendapatkan cobaan atau ujian. Hanya saja ujian itu ada yang ringan dan ada pula yang berat.

Ujian itu adakalanya berupa kenikmatan, misalnya harta benda, jabatan, dan sebagainya. Ada pula dalam bentuk yang tidak menyenangkan, seperti musibah dan penderitaan.

Terhadap ujian itu, baik yang mengandung kenikmatan atau musibah, maka sifat ikhlas dan sabar adalah sesuatu yang dapat menjadikan penawar.

Ikhlas akan memancarkan sinar yang memelihara seseorang sehingga ia tidak jatuh kepada kekufuran. Sebab banyak kasus, orang yang ditimpa musibah kemudian imannya menjadi lemah lalu kufur (murtad).

Jika ujian hidup dihadapi dengan sabar, ikhlas, tidak berkeluh kesah, tetapi berikhtiar mencari jalan pemecahannya secara baik, maka Allah pasti memudahkan bagi kita dalam urusan ini.

Di samping dapat memecahkan masalah yang kita hadapi, tentu Allah akan memudahkan bagi kita terhadap masalah hisab.

Allah akan memberi pahala, memberkati kehidupan sehingga timbangan amal pahala kita lebih berat dibandingkan dengan dosa kita.

Jadi, jika seseorang itu mampu menghadapi ujian dengan sabar dan ikhlas, maka ia termasuk orang yang lulus dalam menempuh ujian itu. Jika tidak sabar dan ikhlas, berarti ia gagal dan masuk dalam golongan orang yang berputus asa.

Semua manusia pasti mengalami ujian hidup, termasuk Rasulullah. Lantas, apa yang dilakukan Rasulullah ketika menghadapi ujian? Beliau tetap sabar dan beribadah kepada Allah.

Demikianlah akhlakul karimah berupa ikhlas dan sabar yang harus kita tanamkan dalam jiwa ini. Jika kita menjadi orang yang ikhlas, insya Allah kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih mudah.

Demikianlah kultum singkat yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan ini. Jika ada kesalahan, maka hal itu karena khilaf dan kebodohan ilmu saya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

3. Iklhas Sebagai Pemisah Syirik Kecil

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ikhlas menjadi lawan sejati dari syirik, lebih khusus syirik kecil atau syirkul asghar. Contoh syirik kecil adalah riya’ atau cenderung pamer. Siapa sangka meski sepele, jika ada rasa pamer sedikit dalam hati, amal ibadah bisa rusak seluruhnya tanpa disadari. Ikhlas memisahkan segala amal kita dari berbagai bentuk keinginan duniawi.

Hadirin yang dimuliakan, kita harus mewaspadai musuh tersembunyi amal, yakni Riya.asulullah SAW bersabda seperti dalam buku Hadist Arbain An-Nawawiyah: 

" إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى "

Artinya: "Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika niat kita bercampur dengan hasrat ingin dilihat orang, maka balasan kita datang hanya dari orang itu. Jika ada riya’ Allah tidak menganggapnya sebagai ibadah yang murni dan ikhlas. Marilah kita senantiasa menjaga niat agar murni, selamat dari riya.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Contoh Kultum Singkat tentang Ikhlas (Unsplash)

 

4. Ikhlas Menjalankan Syariat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jamaah majelis rahimakumullah, marilah senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Salah satu caranya dengan senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang telah Allah karuniakan.

Tidak lupa, shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang syafaatnya kita nanti-nantikan hingga Hari Kiamat nanti.

Jamaah rahimakumullah, Allah merupakan satu-satunya dzat yang patut disembah dan tidak boleh diduakan. Dialah yang menciptakan bumi seisinya, memelihara, hingga kemudian mematikannya. Maha Besar Allah dengan segala firmannya, maka dari itu sudah sepantasnya manusia mensyukuri setiap nikmat yang diberikan padanya. Dalam QS Ghafir: 65, Allah berfirman,

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Huwal-ḥayyu lā ilāha illā huwa fad’ụhu mukhliṣīna lahud-dīn, al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

“Dialah yang Maha Hidup, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, satu-satunya yang berhak untuk disembah. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebesaran Allah yang pada akhirnya menolong umat manusia, maka dari itu jangan sekalipun menyekutukan-Nya. Selain itu dalam beribadah kepadanya senantiasa lakukan dengan hati yang lapang dan ikhlas, jangan biarkan niat duniawi mengganggu ibadahmu.

Kaum muslimin muslimat, saya hendak menutup kultum kali ini dengan mengutip kalimat indah sahabat Umar bin Khattab, “Hatiku selalu tenang karena apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak pernah melewatkanku.”

Akhirul kalam. wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

5. Ikhlas Berjuang di Jalan Allah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta kesempatan untuk berkumpul di tempat ini dalam rangka memperdalam ilmu agama.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan kali ini, marilah kita membahas tentang pentingnya ikhlas dalam berjuang di jalan Allah.

Ikhlas adalah salah satu nilai yang sangat mendasar dalam Islam.

Ikhlas berarti melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan pujian, balasan, atau keuntungan duniawi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."

Hadirin sekalian,

Dalam konteks berjuang di jalan Allah, ikhlas menjadi kunci utama agar amal kita diterima oleh-Nya.

Berjuang di jalan Allah bisa bermakna luas, termasuk berdakwah, membantu sesama, membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan berbagai amal kebaikan lainnya.

Semua itu harus dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab r.a.:

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa niat yang ikhlas sangat menentukan nilai amal kita di sisi Allah. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apa pun bisa menjadi sia-sia.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Berjuang di jalan Allah dengan ikhlas juga berarti kita harus siap menghadapi berbagai ujian dan rintangan.

Kita tidak boleh mundur atau berhenti hanya karena tidak mendapatkan apresiasi atau karena mendapat celaan dari orang lain.

Ingatlah bahwa Allah SWT selalu melihat dan mengetahui apa yang kita lakukan.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 105:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya: "Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'”

Hadirin yang berbahagia,

Marilah kita senantiasa menjaga keikhlasan dalam setiap perjuangan kita di jalan Allah.

Lakukan segala amal dengan niat yang murni karena-Nya. Jangan biarkan niat kita tercemar oleh keinginan duniawi atau pujian dari manusia.

Hanya dengan ikhlas, kita bisa meraih ridha Allah dan pahala yang berlipat ganda di akhirat kelak.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan dan keikhlasan dalam berjuang di jalan-Nya.

Amin ya Rabbal 'alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Itulah lima contoh kultum singkat tentang ikhlas sebagai referensi bila ingin membuat kultum dengan tema serupa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.