Kualitas Ramadan tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita tahan secara fisik, tetapi juga yang kita pilih di ranah digital. Mengelola pola konsumsi media secara bijak adalah bagian dari menjaga makna bulan suci itu sendiri.
Mengutip publikasi bertajuk Ramadhan dan Media Sosial dari situs resmi jatim.nu.or.id dijelaskan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga tetapi juga melatih pengendalian diri termasuk dalam interaksi digital.
Di dalam praktiknya, Ramadan bukan hanya mengubah jadwal makan dan ibadah kita tetapi juga membentuk pola konsumsi media yang khas. Menurut survei YouGov, waktu menjelang berbuka, setelah tarawih, hingga sebelum sahur kerap diisi dengan aktivitas digital.
Di tengah intensitas ibadah yang meningkat, konsumsi konten ternyata menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritme bulan puasa. Hal ini tercermin dalam Databoks berikut ini.
Data tersebut bersumber dari YouGov berjudul Ramadan 2026: Consumer Insight Snapshot. Laporan ini tak hanya menyorot soal jenis konten yang paling disukai tetapi juga memaparkan, mayoritas setara 50 persen responden lebih aktif berselancar di internet ketika sore hari atau sebelum waktu berbuka puasa.
Kemudian, sekitar 39 persen responden lebih sering berinteraksi secara daring setelah tarawih, yakni antara jam 9 malam sampai tengah malam. Sementara itu, sekitar 21 persen lainnya saat berbuka puasa.
YouGov melakukan survei tersebut kepada 1.864 responden muslim yang mengakses internet di Indonesia pada Desember 2025.
Tantangan yang disorot dari pola konsumsi media pada Ramadan bukan hanya paparan konten negatif. Tapi juga terkait risiko kecanduan media sosial sehingga seseorang melalaikan ibadah.
Tanpa pembatasan waktu, konsumsi konten dapat membuat seseorang menghabiskan berjam-jam di dunia maya. Kondisi ini berpotensi membuat kita melewatkan salat, mengabaikan anjuran memperbanyak baca Alquran, atau kehilangan fokus dalam berzikir.
Selain persoalan waktu, ruang digital juga rentan menjadi arena perdebatan tanpa manfaat dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Di dalam konteks puasa, hal ini bertentangan dengan esensi pengendalian lisan dan sikap.
Namun demikian, media sosial sebetulnya tak selalu menjadi distraksi. Platform yang sama bisa menjadi medium dakwah dan wadah menjalin silaturahmi sehingga memperkuat nilai Ramadan. Misalnya, jika kita lebih memilih konten kajian, pengingat ibadah, tadarus daring, hingga kampanye sedekah.
Dengan kata lain, Ramadan sebetulnya bukan tentang menjauhi media tetapi mengelolanya. Konten yang dipilih, waktu yang dibatasi, dan niat yang diluruskan akan menentukan apakah ruang digital menjadi penguat ibadah atau sekadar pengisi waktu.
Konsumsi digital yang lebih sadar dapat membantu Ramadan tetap menjadi ruang refleksi. Langkah praktis seperti mengaktifkan fitur screen time atau pengingat penggunaan aplikasi dapat membantu menjaga waktu tetap proporsional.