Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan amalan sunah Puasa Syawal. Ibadah ini memiliki keutamaan luar biasa, menjanjikan pahala setara berpuasa satu tahun penuh bagi siapa saja yang melaksanakannya dengan ikhlas dan konsisten.

Puasa Syawal sendiri adalah puasa sunnah yang dikerjakan selama enam hari di bulan Syawal setelah Hari Raya Idulfitri (1 Syawal).

Melansir buku Panduan Praktis Ibadah Puasa karya Drs E Syamsuddin Ahmad Syahirul Alim Lc, puasa Syawal dilakukan sebagai penyempurna amalan puasa Ramadhan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِرًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal maka ia seakan puasa sepanjang tahun." (HR. Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi)

Lantas, puasa Syawal 6 hari sebaiknya dilakukan kapan? Berikut di bawah ini penjelasan lengkapnya.

Puasa Syawal 6 Hari Sebaiknya Dilakukan Kapan? (Unsplash)

Puasa Syawal 6 Hari Sebaiknya Dilakukan Kapan?

Berikut di bawah ini penjelasan lengkap mengenai waktu puasa Syawal 6 hari yang bisa dilakukan:

Waktu Paling Utama, 2-7 Syawal (Berurutan)

Secara umum, puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal yang dimulai dari tanggal 2 Syawal (karena tanggal 1 Syawal diharamkan untuk berpuasa) hingga akhir bulan Syawal. Dengan demikian, umat Islam memiliki waktu sekitar satu bulan penuh untuk menunaikan puasa sunnah ini.

Namun, para ulama dari berbagai madzhab, terutama dalam pandangan Imam Syafi'i, Imam Ahmad, dan ulama lainnya, menyatakan bahwa waktu yang paling utama untuk melaksanakan puasa Syawal adalah dimulai sehari setelah Idul Fitri (tanggal 2 Syawal) dan dilakukan secara berurutan selama enam hari, yaitu dari tanggal 2 hingga 7 Syawal.

Dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa bila memungkinkan, sebaiknya puasa sunnah Syawal dilaksanakan satu hari setelah hari Lebaran dan dilakukan secara berurutan. Dalam mazhab Imam Syafi'i, puasa sunnah Syawal sangat dikukuhkan untuk dikerjakan pada tanggal 2 Syawal dan dilakukan berurutan selama enam hari.

Dalil dan Dasar Pemikiran:

Keutamaan melaksanakan puasa secara berurutan ini didasarkan pada beberapa pertimbangan:

  • Mengikuti keumuman hadits: Kata "أَتْبَعَهُ" (mengikutkannya) dalam hadits menunjukkan adanya kesinambungan antara puasa Ramadan dan puasa Syawal.
  • Menjaga semangat ibadah: Melakukan puasa segera setelah Idul Fitri membantu menjaga momentum spiritual yang telah terbangun selama Ramadan.
  • Menghindari kelalaian: Dengan memulai lebih awal, seseorang terhindar dari risiko kehabisan waktu karena kesibukan di akhir bulan.

Boleh di Awal, Tengah atau Akhir Syawal

Meskipun waktu yang paling utama adalah tanggal 2-7 Syawal secara berurutan, para ulama menegaskan bahwa seseorang tetap diperbolehkan melaksanakan puasa Syawal di luar rentang waktu tersebut, baik di pertengahan maupun di akhir bulan Syawal, dan boleh dilakukan secara tidak berurutan (terpisah-pisah).

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' menegaskan: "Bila seseorang ingin melaksanakannya dengan acak, tidak berurutan, atau baru sempat melaksanakan puasa di akhir bulan, itu tidak mengapa".

Seseorang yang memiliki kesibukan pada awal Syawal, misalnya karena pekerjaan atau pelayanan kepada tamu, tetap dapat meraih keutamaan puasa Syawal dengan melaksanakannya di waktu lain selama bulan Syawal masih berlangsung.

Niat Puasa Syawal 6 Hari

Melansir laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), waktu pelaksanaan puasa sunnah Syawal sebaiknya dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri, yakni pada tanggal 2 hingga 7 Syawal.

Jika dikonversi ke kalender Masehi, mengikuti penetapan pemerintah, puasa ini dapat dilaksanakan mulai Minggu, 22 Maret 2026 hingga Jumat, 27 Maret 2026.

Namun, puasa Syawal tetap boleh dilakukan di luar tanggal tersebut. Adapun niat puasa Syawal selama enam hari yang dilaksanakan secara berurutan dibaca pada malam hari.

Berikut bacaan niat puasa Syawal 6 hari berurutan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adai sittatin min syawwal lillahi ta'ala.

Artinya, "Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta'ala."

Niat Puasa Syawal Tidak Berurutan

Selain dilakukan secara berurutan, puasa Syawal juga dapat dikerjakan secara terpisah. Jika belum sempat menjalankannya di awal bulan, puasa tetap boleh dilakukan secara tidak berurutan hingga akhir bulan Syawal.

Apabila dilakukan secara terpisah, maka niat puasa dibaca setiap hari. Niat puasa Syawal ini dapat dibaca pada malam hari maupun siang hari.

Waktu membaca niat pada siang hari diperbolehkan, dengan catatan dari subuh di hari itu belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum.

Adapun niat puasanya yakni:

  • Bacaan niat puasa Syawal (dibaca pada malam hari):

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillaahi ta'ala.

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT."

  • Bacaan niat puasa Syawal (dibaca pada siang hari):

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillaahi ta'ala.

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT."

Puasa Syawal 6 Hari Sebaiknya Dilakukan Kapan? (iStock)

Panduan Tata Cara Pelaksanaan Puasa Syawal

Tata cara pelaksanaan Puasa Syawal pada dasarnya sama dengan puasa sunah lainnya. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan:

  1. Niat: Niat puasa Syawal dilakukan pada malam hari sebelum fajar atau pada siang hari sebelum waktu Zuhur, dengan syarat belum makan atau minum, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
  2. Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa: Puasa Syawal dilaksanakan dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa.
  3. Jumlah Hari: Puasa Syawal dilakukan selama enam hari.
  4. Fleksibilitas Hari Pelaksanaan: Puasa Syawal tidak wajib dilaksanakan secara berturut-turut. Umat Islam dapat memilih untuk berpuasa secara berurutan atau terpisah-pisah selama bulan Syawal. Meskipun demikian, Mazhab Syafi'i dan Hanafi mengutamakan pelaksanaan secara berturut-turut setelah Idul Fitri.
  5. Sahur dan Berbuka: Dianjurkan untuk melakukan sahur sebelum imsak, karena dalam sahur terdapat keberkahan. Selain itu, menyegerakan berbuka puasa saat waktu magrib tiba juga sangat dianjurkan.

Pelaksanaan puasa ini menunjukkan bahwa Puasa Syawal berfungsi sebagai penyempurna dan pelengkap pahala puasa Ramadan. Dengan memahami tata cara ini, umat Muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan benar.

Keutamaan Puasa Syawal

Berikut ini beberapa keutamaan puasa Syawal yang luar biasa:

1. Pahala Setara Puasa Setahun Penuh

Keutamaan paling utama adalah pahala seperti berpuasa selama setahun penuh. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutkannya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim No. 1164).

Ini adalah bentuk kemurahan dan kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Dengan hanya berpuasa enam hari setelah Ramadan, seorang muslim bisa meraih pahala puasa setahun penuh.

2. Menyempurnakan Ibadah Ramadan

Puasa Syawal berfungsi sebagai penyempurna bagi puasa Ramadan. Tidak ada manusia yang sempurna dalam beribadah; pasti ada kekurangan dalam puasa Ramadan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Puasa Syawal hadir untuk melengkapi kekurangan tersebut.

3. Tanda Diterimanya Puasa Ramadan

Para ulama salaf mengatakan bahwa balasan dari amal kebaikan adalah amal kebaikan selanjutnya. Jika seseorang diberi kemudahan oleh Allah untuk beramal shaleh setelah Ramadan—termasuk melaksanakan puasa Syawal—itu menjadi tanda bahwa amalannya di bulan Ramadan diterima.

Sebaliknya, jika seseorang setelah Ramadan justru kembali kepada kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan, itu bisa menjadi tanda bahwa amalannya kurang mendapatkan penerimaan di sisi Allah.

4. Bentuk Rasa Syukur kepada Allah SWT

Melaksanakan puasa sunnah di bulan syawal merupakan tanda syukur kita kepada Allah SWT atas anugerah yang melimpah di bulan Ramadhan berupa puasa, qiyamul lail (shalat malam), zakat dan lain-lain. Puasa di bulan Ramadhan sesungguhnya meniscayakan ampunan bagi orang yang menjalankannya.

Hal ini didasari dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ [وفي رواية]: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni."

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Siapa saja yang menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni." (Hr. Bukhari dan Muslim)

5. Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah Ramadhan

Berakhirnya bulan Ramadhan bukan berarti berakhir pula ibadah yang telah dijalankan. Puasa Syawal menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan ibadah agar tetap konsisten di bulan-bulan berikutnya, sebagaimana semangat yang telah dibangun selama Ramadhan.

Demikian informasi mengenai waktu pelaksanaaan puasa Syawal 6 hari beserta informasi lainnya yang penting diketahui.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.