Waspada Utang Konsumtif Saat Ramadan Tiba
Aktivitas konsumsi masyarakat kerap mengalami peningkatan selama Ramadan, khususnya menjelang Idulfitri. Di tengah tren ini, kita perlu berhati-hati agar tak terjebak utang konsumtif pada hari raya nanti.
Lonjakan konsumsi masyarakat tidak lepas dari berbagai kebutuhan musiman. Mulai dari belanja makanan berbuka, pakaian Lebaran, biaya perjalanan mudik, hingga kebutuhan rumah tangga yang sering kali meningkat bersamaan.
Sejalan, akses terhadap layanan keuangan semakin mudah, misalnya paylater dan pinjaman online (pinjol). Layanan kredit digital seperti ini membuat transaksi menjadi semakin cepat dan praktis.
Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi penting, khususnya bagi mereka yang hendak memanfaatkan kredit digital. Diharapkan, masyarakat dapat mempertimbangkan manfaat maupun risikonya mendatang.
Data menunjukkan penyaluran pembiayaan fitur paylater menjelang Ramadan mencapai Rp39,28 triliun. Di sisi lain, penyaluran pinjaman daring atau pinjol tercatat mencapai Rp98,54 triliun.
Kenaikan ini menunjukkan semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan kredit digital untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.
Namun, kemudahan tersebut membawa risiko jika tak disertai perencanaan keuangan secara matang. Belanja yang dipantik oleh dorongan sesaat dapat membuat konsumen terjebak pada cicilan yang harus dibayar. Beban tersebut sering kali terasa ketika tagihan mulai jatuh tempo di bulan berikutnya.
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mengingatkan, peningkatan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri perlu diimbangi dengan literasi finansial yang baik.
Ketua BPKN Mufti Mubarok berpendapat, masyarakat perlu lebih waspada terhadap kemudahan fasilitas pembayaran digital yang dapat memicu perilaku konsumtif.
“Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi dan pengendalian diri, termasuk dalam pola konsumsi. Kami mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam utang konsumtif hanya karena kemudahan paylater dan promo musiman,” ujarnya dikutip dari utas resmi di akun @bpknri.
Oleh sebab itu, pengelolaan keuangan selama Ramadan menjadi penting agar pengeluaran tetap terkendali. Beberapa langkah sederhana dapat membantu menjaga stabilitas finansial selama bulan puasa.
Mengutip publikasi Bank Mega Syariah berjudul “Tips Ramadan Hemat agar Tetap Berkah Tanpa Boros” dipaparkan, salah satu langkah penting adalah menghindari penggunaan paylater atau pinjaman untuk kebutuhan lebaran yang tak mendesak. Belanja pakaian baru atau kebutuhan tambahan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan finansial yang tersedia.
Selain itu, masyarakat juga disarankan lebih selektif dalam mengikuti undangan buka bersama. Agenda bukber yang terlalu sering dapat menambah pengeluaran untuk makanan maupun transportasi. Menentukan batas jumlah acara sejak awal Ramadan dapat membantu menjaga anggaran tetap terkendali.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan promo secara cerdas. Diskon atau cashback dapat membantu menghemat pengeluaran jika digunakan untuk kebutuhan yang sudah direncanakan. Tapi promo juga bisa menjadi jebakan jika mendorong pembelian barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
Pada akhirnya, Ramadan tidak hanya menjadi waktu meningkatkan ibadah, tetapi juga kesempatan melatih disiplin dalam mengelola keuangan. Belanja yang dilakukan secara sadar dan terencana dapat membantu menjaga kondisi finansial tetap sehat, sekaligus memastikan perayaan Idulfitri tidak dibayangi beban utang setelah bulan suci berakhir.