10 Kumpulan Puisi Hari Kartini yang Inspiratif dan Bermakna Perjuangan Perempuan
Puisi tentang Hari Kartini penting karena membantu kita mengingat perjuangan Ibu Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Melalui puisi, kita jadi tahu bahwa dulu perempuan tidak punya banyak kebebasan, dan Kartini berani melawan hal itu.
Lewat kata-kata di puisi, kita bisa merasakan semangat Kartini. Puisi juga mengajarkan bahwa perempuan berhak untuk sekolah dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti laki-laki.
Selain itu, puisi bisa menjadi cara kreatif untuk menunjukkan rasa kagum kepada Kartini. Kalau biasanya orang menghormati tokoh lewat upacara, puisi bisa menjadi cara yang lebih menyentuh dan penuh makna.
Berikut kumpulan puisi Hari Kartini. Jadi, puisi Hari Kartini bukan hanya untuk mengenang, tapi juga untuk menyemangati kita agar terus meneruskan perjuangannya dalam kehidupan sekarang.
Kumpulan Puisi Hari Kartini
1. Kartini
Karya: Annisa Salsa Billa
Tanpa gentir tak tersingkir
Tanpa lelah tak mau kalah
Tak putus asa memberi jasa
Tak habis jiwa tak habis raga
Penjajah harus musnah
Indonesia harus merdeka
Kita bukan budak
Yang mati dimakan gagak
Di sela wanita aku ada
Berjuang dengan semangat membara
Bagai api membakar daun
Menghanguskan setiap pendusta
Bela negara tinggal keluarga
Darah beralir semangat
Terkucur dalam keringat
Pertahankan martabat
Kartini
Bela pemuda pemudi
Tak sakti
Namun berarti
2. Ksatria Wanita Indonesia
Karya: Aisyah Nabilla
Ketika mereka menganggap wanita rendah
Disitulah kau memendam amarah
Ketika mereka berargumen wanita tak pantas sekolah
Kau datang berusaha mematahkannya
Kau datang menyelamatkan negeri ini
Dari tangisan wanita yang merindukan edukasi
Cita-citamu murni untuk negeri
Berjuang mengedepankan emansipasi
Kartini bagi perempuan laksana pahlawan
Kartini bagi perempuan laksana bintang
Kartini bagi perempuan laksana perwira
Kartini bagi perempuan laksana ksatria
Tak ada yang lebih berani darinya
Sang wanita perwira pahlawan
Negara Sang wanita yang pantang mundur sebelum setara
Memperjuangkan hak-nya dengan jiwa dan raga.
3. Antara Kartini dan Kita
Karya: Ananda Cahyo Wibowo
Sajak ini adalah antara Kartini dan Kita
Antara Hawa dan merajut bangsa
Antara ambisi, impian dan cita
Aku membuka mata
Pada pena yang mengukir lembar
Bersiratkan hukum waris yang akan kami emban:
Mengabdi, dengan sabar berbakti pada negeri
Bernyanyi inspirasi, dengan tekun memberi dan berbagi
Ketulusan hati, bagaimana ikhlas dalam menerima segala kehendak Ilahi; dan
Bermimpi. Ya, Mimpi.
Akan menggapai angan yang kami gantung bersama cita dan harapan
Menebar kasih antara sukma dan raga, dalam
Merajut sutra pada zamrud khatulistiwa
Bait ini adalah antara Kartini dan Kita
Kita, Insan yang tak letih merayu Tuhan Karena Kami tahu,
“Teruslah berharap dan berangan, Selagi Engkau masih dapat bermimpi.”
4. Demi Aku, Kartinimu, dan Bianglala
Karya: Ali Mufti
Nak, lawanlah tidurmu
Redup nyala lilin itu rayuan waktu, agar lelapmu kian bersemayam
Mimpi-mimpi itu pun kebohongan, darinya (waktu), si jahat yang mengincarmu
“Tak ada bedanya dengan apa yang ada di luar sana,
begitu kejam,
biarkan saja, Bu!
Kupeluk waktu, dipapah Ibu.”
Jangan, Nak!
Ingatlah betapa ibu paksakan senyum dahulu,
dalam payah menyajikan riangmu
Karena aku Kartinimu
Lekaslah melompat,
langkahi sanubari yang merundung
Sambutlah doa-doaku yang dijawab-Nya
Lekaslah, Nak!
Demi aku, Kartinimu.
5. Mengenang Perjuangan di Hari Kartini
Karya: Lusy
Hari itu telah berlalu ibu
Tapi perjuanganmu masih berlaku
Sungguh agung perjalananmu
Sebagai wanita aku menangis bahagia akan itu
Perjuanganmu bukan hanya untuk dikenang
Generasi mulai tumbuh hingga tak terbilang
Banyak lahir raden ajeng kartini lanjutkan perjuangan hingga jasad menghilang
Aku yakin habis gelap terbitlah terang
Kartini-kartini muda bahagia
Meneruskan perjuangan untuk jiwa dan raga
Terima kasih Ibu Kartini
Kami hanya mampu mengucapkan Selamat hari Kartini
Bagiku engkaulah Ibu kita
Pejuang emansipasi wanita
Ide-ide kini lahir dari nasionalisme kartini muda
Bukan hanya sekedar kata kata.
6. Kartini Pengajar Mimpi
Karya: Afif Maulana
Kartini-kartini pengejar mimpi
Menyusuri bukit penuh duri
Memikul mimpi yang terangkai suci
Semangatnya membelah langit dan bumi
Menggoreskan pena di dalam hati
Kartini-kartini pengejar mimpi
Terbangkan nama ibu pertiwi
Melangkah kaki di atas lautan api
Tak gentar walau musuh menghalangi
Melangkah kaki dalam kesunyian diri
Kartini yang senantiasa mengejar mimpi
Takkan lupa akan janji suci nan abadi
Senantiasa menari sepanjang khatulistiwa
Senantiasa mengukir seluas samudera
Senantiasa bersimpuh dalam doa
Kartini-kartini pengejar mimpi
Ciptakan sejarah sepanjang masa
Tiupkan seruling syahdu irama
Sinarkan lentera terangi cakrawala
Berjuang dalam sepenuh nyawa
Kartini-Kartini pengejar mimpi
Engkaulah wajah-wajah ibu pertiwi.
7. Perjuangan
Karya: Athatia
Berselimut keberanian
Dengan semangat berkobaran
Berjuang demi kesetaraan
Martabat seluruh perempuan
Wahai Kartini
Kau getarkan sanubari
Dengan perjuangan membela wanita pertiwi
Tak sekalipun mengenal kata berhenti Sebelum cahaya menghiasi hari
Wahai Kartini
Jasamu sungguh sangat berarti
Takkan pernah terganti
Selalu teringat dalam memori.
8. Ibu R. A. Kartini Pelopor Emansipasi
Karya: Taryana
Manakala kaummu tertindas
Lemah tak berdaya
Hanya berkutat di dapur
Engkau berontak
Pendidikan hanya milik kaum pria
Kesedihanmu
Dukamu
Kobarkan semangat
Engkau mengubah takdir
Revolusi kaummu untuk disetarakan
Karena engkau
Kemilau senja pun berbinar
Biasnya ke seantero jagat pertiwi.
9. Jangan Mengaku Kartini
Karya: Dean Perdana
Mereka berkata “Ibu kita Kartini.”
Siapa kalian, yang berani berkata seperti itu
Jangan mengaku kalian ibu kita Kartini
yang bersaksi kepada Nusantara yang tak berdosa itu
Mereka berlantang “Ibu kita Kartini.”
Siapa kalian, yang sengaja menjadi ibu kita Kartini
Jangan sekali-kali menjadi ibu kita Kartini
Filosofi Nusantara saja tak mengerti
Mereka berikrar “Ibu kita Kartini.”
Siapa kalian, yang sengaja berkata seenaknya
Masih saja membuang sampah di sungai
Tidak pantaslah mengaku ibu kita Kartini
Masih saja tidak cinta tanah air sendiri
Tidak pantaslah berikrar ibu kita Kartini.
10. Perempuan itu Buku
Karya: Sio Hutasoit
Apa kau tahu? Jika perempuan itu Buku
Tintanya biru teduh.
Perempuan itu Gudangnya Ilmu.
Isinya tak hanya asmara candu, namun arti dari tulus
Pengorbanan tanpa keluh
Walau dituntut harus sempurna sungguh, namun...
Perempuan tahun nikmatnya berdiri teguh, tanpa kompromi waktu
Di dalam Buku akan kau temukan cerita tentang cinta yang utuh
Walau hidup tak semanis madu, tangis menderu bahkan sakit berdentum.
Tak tak pernah ia tulis bahwa hidup sepahit empedu.
Hanya ada bait tentang nyanyian syukur
Sayangnya, Buku itu tak bisa kau beli dengan sekuntum bunga warna ungu.
Tapi tawarlah dengan rindu yang sudah kau pupuk.
Tenang saja, tak perlu ragu...
Karena, dari buku itu akan kau temukan bahwa perempuan adalah pangkal restu
Juga sajak-sajak tentang doa ibu
Yang tiap hari ia tulis dengan tangguh
Perempuan tak pernah layu
Perempuan itu Buku
Perempuan itu aku.
Itulah kumpulan puisi Hari Kartini yang dirangkum dari berbagai karya penulis. Anda bisa mencantumkannya pada unggahan media sosial, membacakannya di hari bertema Kartini, hingga untuk bacaan pribadi guna menggali semangat dan perjuangan dari dalam diri. Semoga bermanfaat.