Apa itu Krisis 2008 yang Diperingatkan oleh Bank Indonesia?

unsplash.com
apa itu krisis 2008 yang diperingatkan BI
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
10/12/2025, 20.01 WIB

Peringatan Bank Indonesia mengenai meningkatnya potensi gejolak global kembali memunculkan pertanyaan mendasar soal apa itu krisis 2008 dan mengapa  dianggap dapat muncul kembali. 

Dalam laporan terbaru Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional (PEKKI) 2025, BI menegaskan bahwa tantangan global pada periode mendatang akan dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, perang dagang, serta volatilitas pasar. 

Guna memahami hal tersebut, pemahaman mengenai apa itu krisis 2008 menjadi penting untuk disimak. Situasi global saat ini sendiri dinilai sudah berada pada fase yang sensitif terhadap perubahan kebijakan ekonomi negara-negara besar.

Apa Itu Krisis 2008

Pemahaman mengenai apa itu krisis 2008 perlu dimulai dari runtuhnya pasar properti Amerika Serikat akibat pinjaman subprime mortgage. Ketika tingkat gagal bayar meningkat, lembaga keuangan besar merugi hingga menciptakan krisis kepercayaan global. Peristiwa ini menjadikan 2008 sebagai salah satu krisis terbesar dalam sejarah ekonomi modern.

Kerentanan tersebut membesar karena instrumen securitized assets yang tersebar di berbagai negara mengalami penurunan nilai. Kebangkrutan Lehman Brothers memperkuat kepanikan pasar dan memaksa otoritas moneter menerapkan kebijakan darurat seperti quantitative easing. Situasi inilah yang kembali diperhatikan BI ketika melihat pola tekanan global saat ini.

Dalam laporan PEKKI, BI menyoroti perilaku lembaga keuangan non-bank (NBFI) yang semakin agresif dalam memanfaatkan utang pemerintah negara maju untuk menciptakan produk derivatif kompleks. Aktivitas tersebut dilakukan tanpa pengaturan margin dan modal yang memadai. Kondisi ini mengingatkan pada kerentanan yang memicu krisis global hampir dua dekade lalu.

Sinyal Tekanan Global Menurut BI

apa itu krisis 2008 (unsplash.com)
 

Otoritas menilai bahwa dinamika pasar keuangan global sedang berada pada fase yang dapat berubah cepat akibat ketegangan kebijakan moneter dan politik internasional. 

Lembaga keuangan non-bank dinilai dapat memicu aksi jual besar-besaran bila terjadi pembalikan pasar. BI menegaskan bahwa pola perilaku tersebut memiliki kesamaan dengan kondisi menjelang krisis 2008. Selain itu, perang dagang dan pergeseran kebijakan tarif oleh Amerika Serikat memperburuk arah kerja sama global. Di tengah tekanan itu, volatilitas suku bunga internasional semakin kuat.

Utang Global, Aset Digital, dan Risiko

  • Risiko dari NBFI diperburuk oleh posisi utang publik global yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Total kewajiban pemerintah dunia telah mencapai sekitar US$110,9 triliun atau 94,6% PDB global. BI menilai lonjakan utang tersebut mendorong kenaikan suku bunga internasional yang menambah beban negara berkembang.
  • Selain itu, BI menyoroti meningkatnya volatilitas dari aset digital seperti kripto, stablecoin, dan tokenisasi aset yang dilakukan pihak swasta. Minimnya regulasi dan tidak adanya standar perlindungan selevel lembaga keuangan tradisional menciptakan celah bagi risiko pencucian uang dan kerentanan konsumen. 
  • BI juga mencermati dampak perang dagang yang semakin meluas akibat kebijakan tarif sepihak Amerika Serikat. Pergeseran dari kerja sama multilateral menuju hubungan bilateral dinilai meningkatkan ketidakpastian perdagangan global. 

Pelajaran Krisis 2008 dan Prospek Indonesia

Pemahaman mengenai apa itu krisis 2008 membantu melihat bagaimana tekanan global dapat menjalar ke ekonomi domestik. Pada 2008, Indonesia mengalami pelemahan pasar saham hingga 50%, depresiasi rupiah, dan penurunan ekspor. Risiko serupa dinilai dapat muncul kembali bila gejolak global memuncak. Walau demikian, prospek ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan.

  • BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 berada di rentang 4,7%–5,5%. 
  • Pada 2026 dan 2027, pertumbuhan diproyeksikan meningkat ke kisaran 4,9%–5,7% dan 5,1%–5,9%. 
  • Dengan inflasi di sekitar 2,5±1% dan kredit perbankan tumbuh 8%–12%, fondasi ekonomi domestik dinilai cukup solid. 

Pemahaman mengenai apa itu krisis 2008 menjadi dasar membaca risiko global yang kini kembali meningkat. Dengan berbagai tekanan baru dari NBFI, utang global, aset digital, dan geopolitik, BI menegaskan perlunya kewaspadaan yang lebih tinggi. Ketahanan ekonomi domestik tetap penting, tetapi dinamika global menjadi penentu utama arah perekonomian ke depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Izzul Millati