25 Kata-Kata Sindiran untuk Menagih Hutang, Bikin Ketar-Ketir dan Cepat Dibayar

Freepik
kata-kata sindiran untuk menagih hutang
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
27/1/2026, 09.27 WIB

Urusan utang piutang kerap menjadi persoalan sensitif dalam kehidupan sosial. Proses penagihan seringkali memicu ketegangan, terutama ketika disampaikan secara langsung dan terlalu lugas. Situasi tersebut membuat banyak pihak mencari cara komunikasi yang lebih halus.

Dalam praktiknya, kata-kata sindiran sering dipilih sebagai jalan tengah. Kata-kata sindiran untuk menagih hutang kerap digunakan sebagai pesan pengingat tanpa harus berhadapan langsung secara frontal. Langkah ini dinilai lebih aman secara sosial karena tidak langsung menekan, namun tetap menyiratkan tuntutan agar kewajiban segera dipenuhi. 

25 Contoh Kata-Kata Sindiran untuk Menagih Hutang dalam Bentuk Pantun

Berikut ini kumpulan 25 kata-kata sindiran untuk menagih hutang dalam bentuk pantun, cocok digunakan untuk ‘menyentil’ orang yang berhutang agar segera membayar. 

  1. Pergi ke taman memetik delima,
    Langkah pelan menyusuri senja,
    Janji lama masih tersimpan rapi di kepala,
    Hutang lama semoga segera kembali aja ya.
  2. Angin sore berhembus terasa merata,
    Langit jingga menutup hari yang renta,
    Ucapan dulu masih terjaga maknanya,
    Kewajiban lama menunggu ditunaikan juga.
  3. Burung kecil hinggap di dahan cemara,
    Daun gugur menyentuh tanah desa,
    Kepercayaan lahir dari sikap bertanggung jawab yang nyata,
    Hutang yang dibayar menjaga hubungan tetap terjaga.
  4. Pagi cerah membuka cerita lama,
    Mentari naik menyinari semesta,
    Kesepakatan bukan sekadar kata-kata,
    Janji hutang sebaiknya segera dilunasi bersama.
  5. Jalan panjang menuju kota lama,
    Langkah ringan menyusuri asa,
    Hak orang lain bukan sekadar cerita,
    Hutang yang kembali membawa rasa lega.
  6. Hujan turun membasahi halaman kebun,
    Tanah basah menahan langkah perlahan,
    Janji lama bukan sekadar angan-angan kan?,
    Hutang yang tertunda menunggu kepastian.
  7. Senja datang bersama angin pelan,
    Bayang sore memanjang di halaman,
    Manusia dilihat dari cara menjaga kepercayaan,
    Kewajiban lama sebaiknya segera dituntaskan.
  8. Perahu kecil berlayar ke seberang danau tenang,
    Air beriak memecah kesunyian lapang,
    Ucapan dulu masih tercatat jelas di ingatan,
    Hutang lama menanti itikad penyelesaian.
  9. Pagi hari menjemur harapan di halaman,
    Mentari naik perlahan memberi kehangatan,
    Tanggung jawab tidak mengenal alasan,
    Kesepakatan lama menunggu pelunasan.
  10. Langit biru membentang tanpa awan,
    Burung terbang bebas mencari tujuan,
    Hak yang tertunda tetap menjadi beban,
    Hutang seharusnya dikembalikan dengan kesadaran.
  11. Pergi berlayar menyusuri teluk tenang,
    Ombak kecil berkejaran di karang,
    Janji lama jangan dibiarkan menghilang,
    Hutang tertunda sebaiknya segera pulang.
  12. Mentari sore perlahan merunduk tenang,
    Bayang panjang jatuh ke ladang,
    Kepercayaan tidak tumbuh dari janji yang hilang,
    Hutang lama menunggu untuk segera dibayar terang.
  13. Angin laut membawa kabar senang,
    Perahu kecil kembali pulang,
    Kesepakatan awal jangan dianggap ringan,
    Hutang yang dibayar menjaga hubungan tetap seimbang.
  14. Langkah pagi menyusuri jalan panjang,
    Embun menetes di ujung ilalang,
    Janji bukan hiasan untuk dikenang,
    Hutang lama sebaiknya tidak terus mengambang.
  15. Malam tiba membawa bulan terang,
    Bintang bertabur di langit lapang,
    Tanggung jawab bukan beban yang mengerikan,
    Hutang yang lunas memberi ketenangan panjang.
  16. Pergi pagi membawa rindu,
    Langkah ringan menyapa waktu,
    Janji lama masih menunggu temu,
    Hutang tertunda semoga segera bertemu penutupnya itu.
  17. Langit cerah memeluk pagi baru,
    Angin sejuk menyentuh kalbu,
    Ucapan dulu bukan sekadar lalu,
    Hutang lama menunggu itikad yang jujur dan satu.
  18. Burung terbang mencari arah tuju,
    Sayap mengepak membelah biru,
    Kepercayaan tumbuh dari sikap bermutu,
    Hutang dibayar menjaga hubungan tetap bersatu.
  19. Jalan panjang menuju rumah kayu,
    Langkah pelan menahan ragu,
    Hak orang lain bukan milik semu,
    Hutang lama sebaiknya segera kembali ke pangku.
  20. Senja turun menyisakan sendu,
    Langit redup berwarna abu,
    Janji lama masih teringat jelas selalu,
    Hutang yang lunas membawa hati kembali teduh.
  21. Pagi cerah menyambut niat,
    Langkah pasti menyusun tekad,
    Kesepakatan lama masih terikat kuat,
    Hutang tertunda menunggu untuk segera dilunasi tepat.
  22. Mentari naik memberi semangat,
    Udara pagi terasa hangat,
    Janji bukan hiasan untuk diingat,
    Hutang lama sebaiknya segera diselesaikan dengan niat.
  23. Langkah sore menyusuri pematang sawah yang lebat,
    Angin sepoi menemani waktu yang lewat,
    Kepercayaan lahir dari sikap yang taat,
    Hutang dibayar menjaga hubungan tetap erat.
  24. Malam datang membawa sunyi yang pekat,
    Bulan naik memantul cahaya lembut,
    Tanggung jawab bukan sekadar isyarat,
    Hutang lama menunggu tindakan yang tepat.
  25. Hari berganti tanpa menunggu cepat,
    Waktu berjalan dengan arah yang pasti dan bulat,
    Hak orang lain seharusnya tidak tersesat,
    Hutang yang lunas menutup cerita dengan hormat.
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.