Nuklir Rusia jadi Salah Satu yang Terkuat di Dunia: Ini Alasannya
Nuklir Rusia jadi salah satu yang terkuat di dunia. Rusia memiliki hak untuk menggunakan senjata nuklir jika menghadapi serangan rudal konvensional, dan Moskow menegaskan bahwa setiap serangan yang didukung oleh kekuatan nuklir akan dianggap sebagai serangan kolektif.
Perubahan doktrin nuklir resmi ini dilakukan Kremlin sebagai respons terhadap pertimbangan Amerika Serikat dan Inggris terkait kemungkinan izin bagi Ukraina untuk meluncurkan rudal konvensional Barat ke wilayah Rusia.
Alasan Nuklir Rusia jadi Salah Satu yang Terkuat di Dunia
Apakah benar nuklir Rusia terkuat di dunia? Rusia memiliki persenjataan nuklir terbesar di dunia, dengan sekitar 5.459 hulu ledak nuklir dan 1.718 rudal. Negara ini juga mewarisi program senjata biologi dan kimia besar dari era Uni Soviet, yang diduga masih dilanjutkan.
Rusia termasuk salah satu dari lima negara yang secara resmi diakui memiliki senjata nuklir menurut Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir dan merupakan salah satu dari empat negara dengan triad nuklir, yang mencakup rudal antarbenua, kapal selam nuklir, dan pesawat pembom strategis.
Pada 2025, triad nuklir strategis Rusia terdiri dari 2.832 senjata, termasuk 1.254 hulu ledak pada 333 rudal balistik antarbenua, 992 hulu ledak pada 192 rudal kapal selam, dan 586 hulu ledak pada rudal jelajah atau bom yang dibawa 67 pesawat pembom strategis. Mayoritas hulu ledak Rusia menggunakan kendaraan masuk kembali (MIRV) dengan daya ledak sekitar 100 kiloton.
Selain itu, Rusia memiliki sekitar 1.500 hulu ledak nuklir taktis yang dapat diluncurkan lewat darat, laut, atau udara, dan sejak 2022 menyediakan beberapa senjata nuklir taktis ke Belarus. Sistem pertahanan rudal dan peringatan dini, termasuk radar Voronezh dan Don-2N, satelit Oko dan EKS, serta sistem rudal A-135, S-400, dan S-300, semuanya dapat dilengkapi hulu ledak nuklir.
Uni Soviet, pendahulu Rusia, melakukan 715 uji coba nuklir dari 1949 hingga 1990, termasuk uji termonuklir pertama pada 1955 dan Tsar Bomba pada 1961 dengan daya ledak 50 megaton, yang menjadi uji coba terbesar dalam sejarah. Rusia mewarisi cadangan plutonium dan uranium yang diperkaya tinggi terbesar di dunia, secara teoritis setara dengan lebih dari 40.000 senjata nuklir.
Dalam sejarah, Uni Soviet memiliki persenjataan nuklir terbesar, yaitu 45.000 hulu ledak pada 1986. Bersama Amerika Serikat, Rusia menguasai 88% total senjata nuklir global. Perjanjian New START membatasi jumlah senjata nuklir yang dapat dikerahkan oleh masing-masing negara hingga berakhirnya masa berlaku pada Februari 2026. Penggunaan senjata nuklir Rusia secara resmi memerlukan persetujuan Presiden, yang ditandatangani bersama Menteri Pertahanan atau Kepala Staf Umum.
Selama konflik di Ukraina sejak 2022, Rusia sering mengancam dengan senjata nuklir, termasuk berbagi senjata dengan Belarus dan menunjukkan simbol rudal balistik jarak menengah. Sejak 2024, kebijakan Rusia secara luas memungkinkan penggunaan nuklir pertama dalam kondisi tertentu, misalnya terhadap serangan senjata pemusnah massal atau ancaman serius terhadap kedaulatan dan integritas wilayah.
Rusia juga mempertahankan program senjata biologis dan kimia dari era Soviet, yang secara luas dianggap ilegal oleh hukum internasional. Program biologis dimulai sejak 1920-an, sedangkan program kimia resmi dinyatakan menghancurkan 39.967 ton pada 2017.
Namun, Rusia dituduh menggunakan agen saraf Novichok dalam kasus keracunan Skripal dan Navalny, serta gas CS selama perang di Ukraina, dan polonium-210 dalam peracunan Alexander Litvinenko di London. Semua ini menunjukkan bahwa Rusia tetap menjadi salah satu negara dengan kapasitas senjata pemusnah massal terbesar dan paling kompleks di dunia.
Nuklir Rusia menjadi salah satu yang terkuat di dunia. Adanya warisan program senjata biologi dan kimia Soviet menambah dimensi kekuatan militer Rusia. Pengawasan ketat melalui sistem radar, satelit, dan pertahanan rudal membuat Rusia tetap menjadi salah satu pemain utama dalam keseimbangan kekuatan nuklir internasional.