Musim Kemarau 2026 Menurut BMKG akan Datang Lebih Awal

Freepik.com
Musim kemarau 2026
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
5/3/2026, 13.50 WIB

Musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal dibandingkan biasanya. Kondisi ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 yang kemudian bertransisi ke fase netral, serta adanya kemungkinan berkembang menuju El Niño pada pertengahan tahun.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudra Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada di sekitar minus 0,28, yang masih tergolong dalam kondisi netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.

Namun, memasuki pertengahan tahun, peluang terbentuknya El Niño dengan kategori lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 diperkirakan mencapai sekitar 50–60 persen sehingga perlu diwaspadai. Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole diproyeksikan tetap berada pada kondisi netral sepanjang tahun.

Musim Kemarau 2026

Musim kemarau 2026 (Freepik.com)

Musim kemarau 2026 menyatakan bahwa pergantian angin baratan (Monsun Asia) menjadi angin timuran (Monsun Australia) merupakan salah satu tanda dimulainya musim kemarau. Berdasarkan catatan BMKG, sekitar 114 zona musim atau 16,3 persen wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Jumlah tersebut bertambah menjadi 184 zona musim atau 26,3 persen pada Mei 2026, dan 163 zona musim atau 23,3 persen wilayah lainnya pada Juni 2026.

Apabila dibandingkan dengan kondisi normalnya, awal musim kemarau diproyeksikan terjadi lebih cepat di 325 zona musim atau sekitar 46,5 persen wilayah. Sementara itu, 173 zona musim (24,7 persen) diperkirakan mengalami awal kemarau yang sesuai dengan pola normal, dan 72 zona musim (10,3 persen) diprediksi mengalami keterlambatan.

Wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih awal meliputi banyak daerah di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026, mencakup sekitar 429 zona musim atau 61,4 persen wilayah. Selain itu, sebagian wilayah lainnya diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).

Puncak kemarau pada Agustus diperkirakan meluas ke berbagai daerah, termasuk banyak wilayah di Kalimantan dan Sulawesi, sementara pada September kondisi puncak kemarau masih dirasakan di beberapa wilayah seperti Sulawesi bagian utara dan timur serta sebagian Maluku.

Musim Kemarau Cenderung Lebih Kering dan Berpotensi Lebih Panjang

BMKG memprakirakan bahwa musim kemarau tahun 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Hal ini diperkirakan terjadi pada sekitar 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah.

Sementara itu, sekitar 245 zona musim atau 35,1 persen wilayah diproyeksikan mengalami kondisi kemarau yang masih berada dalam kisaran normal. Adapun wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih basah dari biasanya sangat terbatas, yaitu hanya sekitar 3 zona musim atau 0,4 persen, yang berada di daerah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.

Selain itu, BMKG juga memperkirakan bahwa durasi musim kemarau di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan berlangsung lebih lama dibandingkan rata-rata normalnya.

Imbauan BMKG

BMKG menegaskan bahwa peringatan dini terkait kondisi iklim perlu diterjemahkan menjadi langkah-langkah nyata di lapangan. Pada sektor pangan, para petani disarankan menyesuaikan waktu tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih efisien dalam penggunaan air, tahan terhadap kekeringan, dan memiliki masa panen yang lebih singkat.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat melalui optimalisasi tampungan air dan perbaikan sistem distribusinya. Upaya kesiapsiagaan juga perlu ditingkatkan, terutama dalam mengantisipasi penurunan kualitas udara dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Menyambut musim kemarau 2026, penting menerapkan kesiapsiagaan di berbagai sektor. Terutama pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan, agar dampak musim kemarau dapat diantisipasi sejak dini melalui langkah adaptasi yang tepat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.