Seberapa Kuat Rudal Tomahawk AS yang Digunakan Lawan Iran?

Katadata
Kekuatan rudal Tomahawk AS
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
6/3/2026, 11.40 WIB

Rudal jelajah jarak jauh Tomahawk milik Amerika Serikat kembali disebut sebagai salah satu senjata untuk melawan Iran dalam operasi Epic Fury. Selain drone LUCAS, Rudal Tomahawk dianggap sebagai “anak emas” milik militer AS karena bisa menyerang target sejauh 2500 km dengan akurasi yang sangat presisi. Dengan cara ini, militer tidak perlu mengirim pesawat tempur berawak masuk ke wilayah yang dilindungi pertahanan udara musuh.

Kekuatan Rudal Tomahawk yang besar membuat Ukraina bahkan rela melobi AS bertahun-tahun untuk mendapatkan rudal ini. Akan tetapi, presiden Trump menilai Ukraina terlalu dini untuk mendapatkannya. 

Mengapa Rudal Tomahawk AS Dikenal Berbahaya?

Rudal Tomahawk AS dikenal sebagai rudal jelajah untuk serangan jarak jauh yang dapat melaju hingga jarak 1500 sampai 2500 km. Senjata ini memungkinkan serangan standoff atau menembak dari jarak yang relatif aman, bahkan bisa diluncurkan dari kapal perang atau kapal selam. Hal ini jadi kelebihan tersendiri bagi AS karena militer bisa memiliki strategi perang yang lebih banyak tanpa perlu terhalang kondisi geografi. 

Kelebihan rudal Tomahawk tersebut membuat Kementerian Pertahanan Rusia was-was jika seandainya suatu saat Amerika mengirim Tomahawk ke Ukraina. Menurut pihak Moskow, kehadiran Tomahawk dapat memungkinkan Ukraina menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia, termasuk pangkalan militer, pusat logistik, lapangan udara, hingga markas komando yang selama ini relatif berada di luar jangkauan sistem senjata Ukraina.

Spesifikasi Rudal Tomahawk

Rudal Tomahawk AS memiliki panjang sekitar 6,1 meter, dengan bentang sayap sekitar 2,6 meter, serta bobot kira-kira 1.510 kilogram. Ukuran yang lumayan besar ini menunjukkan bahwa rudal Tomahawk AS memang dirancang sebagai senjata untuk melumpuhkan infrastruktur vital lawan, bukan sekadar untuk memecah konsentrasi musuh. 

Oleh karena itu, rudal Tomahawk AS kerap dipakai untuk menyerang fasilitas komando, sistem pertahanan, gudang amunisi atau logistik yang jika lumpuhkan dapat mengacaukan operasi lawan secara lebih cepat.

Ketajaman akurasi serangan rudal Tomahawk milik Amerika Serikat juga ditopang oleh sistem pemandu yang canggih. Ini karena rudal Tomahawk memiliki berbagai macam teknologi radar di dalamnya, yaitu navigasi inersia, GPS, dan pemetaan medan (radar altimeter). Dengan dukungan teknologi tersebut, rudal Tomahawk mampu menyesuaikan rute secara presisi hingga mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Dengan berbagai kelebihan tersebut, Rudal Tomahawk AS memerlukan biaya yang lumayan besar untuk produksinya. Rudal yang diproduksi oleh Raytheon, anak perusahaan RTX ini menghabiskan biaya produksi rata-rata sekitar 1,3 hingga 2,5 juta USD per unit. 

Sejarah Penggunaan Rudal Tomahawk

Berikut sejarah penggunaan Rudal Tomahawk:

  • 17 Januari 1991: Amerika Serikat dan koalisi melancarkan Operation Desert Storm melawan Irak dalam Perang Teluk menggunakan rudal Tomahawk. 
  • 17 Januari 1993 dan 26 Juni 1993: Amerika Serikat menembakkan Tomahawk ke target di Irak, termasuk fasilitas militer dan markas intelijen di Baghdad. 
  • 10 September 1995: Rudal Tomahawk digunakan oleh NATO dalam Operation Deliberate Force melawan pasukan Serbia Bosnia di Bosnia.
  • 3 September 1996: Tomahawk kembali digunakan terhadap target pertahanan udara di Irak dalam Operation Desert Strike.
  • 20 Agustus 1998: Amerika Serikat menembakkan rudal Tomahawk ke target yang diduga milik Al-Qaeda di Afghanistan dan Sudan dalam Operation Infinite Reach
  • 16 Desember 1998: Rudal ini kembali digunakan terhadap Irak dalam Operation Desert Fox. 
  • Pada tahun 1999: Tomahawk juga digunakan oleh NATO selama pengeboman Yugoslavia yang menargetkan wilayah Serbia dan Montenegro. 
  • 7 Oktober 2001: Rudal Tomahawk digunakan dalam serangan awal perang melawan Taliban dan Al-Qaeda di Afghanistan setelah serangan 11 September.

Penggunaan besar berikutnya terjadi pada 2003 saat invasi Irak, di mana ratusan rudal Tomahawk diluncurkan untuk menyerang berbagai target militer. 

Setelah itu, rudal ini juga digunakan dalam operasi militer terbatas, seperti serangan terhadap militan di Somalia pada 3 Maret 2008, di Yaman pada 17 Desember 2009, dan dalam serangan Amerika Serikat ke pangkalan udara Shayrat di Suriah pada 7 April 2017.

Sejak 2015 sampai 2026, rudal Tomahawk masih sering digunakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya dalam berbagai operasi militer. 

Pada 2016, Amerika Serikat menggunakan rudal Tomahawk untuk menyerang target ISIS di Suriah, khususnya dalam operasi terhadap fasilitas minyak dan posisi militan.

Penggunaan Tomahawk yang paling terkenal terjadi pada 7 April 2017, ketika Amerika Serikat meluncurkan 59 rudal Tomahawk dari kapal perang di Laut Mediterania untuk menghancurkan pangkalan udara Shayrat di Suriah sebagai respons atas dugaan serangan senjata kimia oleh pemerintah Suriah. 

Serangan ini kembali diikuti operasi lain pada 14 April 2018, ketika Amerika Serikat bersama Inggris dan Prancis menembakkan lebih dari 100 rudal (termasuk Tomahawk) ke beberapa fasilitas senjata kimia di Suriah.

  • Pada 2019, Amerika Serikat meluncurkan Tomahawk dari kapal selam untuk menyerang target ISIS di Suriah.
  • Kemudian pada awal 2020-an, rudal ini juga digunakan dalam beberapa operasi rahasia dan serangan presisi terhadap kelompok teroris di Timur Tengah.
  • Pada 2024 Amerika Serikat dan Inggris menembakkan rudal Tomahawk ke posisi pemberontak Houthi di Yaman sebagai respons terhadap serangan terhadap kapal dagang di Laut Merah.
  • Pada 2025, Amerika Serikat menggunakan Tomahawk untuk menyerang target ISIS di Nigeria dan juga meluncurkan sejumlah besar rudal terhadap kelompok Houthi di Yaman.
  • Memasuki 2026, Tomahawk masih menjadi salah satu senjata utama serangan presisi jarak jauh militer Amerika Serikat. Bahkan karena sering digunakan dalam operasi di Yaman, Nigeria, dan Iran, stok rudal ini dilaporkan menurun sehingga pemerintah Amerika Serikat meningkatkan produksi hingga lebih dari 1.000 rudal per tahun untuk memenuhi kebutuhan militer.
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.