Fenomena Pink Moon akan Terjadi Pada Bulan April: Ini Puncak Waktunya

pexels.com
Fenomena Pink Moon
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
27/3/2026, 18.25 WIB

Fenomena Pink Moon diperkirakan akan kembali terjadi pada April 2026. Fenomena ini menjadi salah satu momen yang dinantikan oleh pengamat astronomi maupun masyarakat umum, karena menampilkan fase bulan purnama yang tampak lebih terang dari biasanya.

Saat Pink Moon muncul di dekat cakrawala, bulan sering terlihat sangat besar. Fenomena ini dikenal sebagai ilusi bulan (moon illusion). Kondisi tersebut, terjadi karena otak manusia membandingkan ukuran bulan dengan objek di sekitarnya, seperti pepohonan atau bangunan. Akibatnya, otak kita tertipu dan menganggap bulan tampak lebih besar dibandingkan ketika posisinya sudah tinggi di langit yang kosong.

Apa itu Fenomena Pink Moon?

Pink Moon (pexels.com)

Istilah Pink Moon merujuk pada fase bulan purnama yang terjadi setiap bulan April. Meski disebut “pink”, bulan tidak benar-benar berubah menjadi berwarna merah muda. Nama tersebut berasal dari latar belakang sejarah dan budaya tertentu.

Fenomena ini dapat diamati tanpa memerlukan alat khusus. Namun, bagi para pecinta astronomi, momen ini menjadi kesempatan untuk mengamati permukaan bulan secara lebih jelas dengan bantuan alat optik seperti teleskop atau binokular.

Sebutan Pink Moon berasal dari bunga liar Phlox subulata yang tumbuh di wilayah timur Amerika Utara dan dikenal sebagai creeping phlox atau moss phlox. Bunga yang juga dijuluki “moss pink” ini biasanya mekar bersamaan dengan datangnya bulan purnama di bulan April.

Selain disebut Pink Moon, bulan purnama April juga memiliki berbagai nama lain dari beragam budaya, seperti “Breaking Ice Moon” (Algonquin) dan “Bulan Saat Sungai Kembali Dapat Dilayari” (Dakota). Menggambarkan es mencair dan meningkatnya aktivitas di awal musim semi.

Waktu Puncak Fenomena Pink Moon di Indonesia

Menurut situs astronomi Time and Date, fase bulan purnama Pink Moon akan mencapai puncaknya pada 2 April 2026 pukul 09.11 WIB. Meski puncaknya terjadi pada pagi hari, fenomena ini tetap dapat diamati pada malam harinya. Pada fase ini, bulan tampak penuh dan bersinar terang, serta biasanya terlihat hampir sepanjang malam terbit saat senja dan terbenam menjelang fajar.

Tips Mengamati Fenomena Pink Moon

Terkait fenomena bulan purnama, Anda bisa mengamatinya secara langsung tanpa bantuan alat apa pun. Namun, untuk mendapatkan pengalaman yang lebih maksimal, penggunaan binokular atau teleskop sangat disarankan. Berikut beberapa tips mengamati fenomena Pink Moon:

• Gunakan Filter Bulan: Pasang filter pada teleskop untuk mengurangi silau sehingga detail permukaan lebih jelas.
• Pilih Lokasi yang Tepat: Cari area terbuka dengan pandangan luas dan minim polusi cahaya.
• Manfaatkan Alat Bantu: Gunakan binokular atau teleskop kecil untuk melihat efek distorsi atmosfer, terutama saat bulan baru terbit.
• Perhatikan Lunar Rays: Amati garis-garis terang yang memancar dari kawah besar seperti Tycho atau Copernicus.
• Amati Fenomena Librasi: Cermati bagian tepi bulan untuk melihat kawah yang biasanya tersembunyi.
• Periksa Efek Atmosfer: Perhatikan kemungkinan munculnya halo atau korona di sekitar bulan saat langit sedikit berawan.

Fenomena Pink Moon menjadi salah satu peristiwa langit yang menarik untuk disaksikan setiap tahunnya, khususnya pada bulan April. Meski tidak benar-benar berwarna merah muda, keindahan bulan purnama yang tampak terang, serta berbagai fenomena pendukung seperti ilusi bulan menjadikannya momen istimewa bagi pengamat astronomi maupun masyarakat umum.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.