Profil Metta Dharmasaputra CEO Katadata
Katadata Indonesia akan kembali menggelar Indonesia Data and Economic (IDE) Katadata Future Forum 2026 pada 15 April 2026 di The Ballroom, Djakarta Theater. Bertajuk "Adapting to What Comes Next", acara ini merupakan forum strategis yang mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor untuk membahas arah kebijakan, ekonomi, dan inovasi berbasis data di Indonesia.
IDE Katadata Future Forum 2026 juga akan menjadi ruang diskusi untuk memahami tantangan dan peluang ke depan serta menyiapkan langkah strategis menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Acara ini akan dibuka oleh CEO Katadata, Metta Dharmasaputra.
Pendiri Katadata ini berpengalaman sekitar 20 tahun sebagai jurnalis dengan spesialisasi di bidang ekonomi, bisnis dan investigasi. Sejumlah penghargaan pernah diraihnya, antara lain Udin Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia pada 2008.
Metta Dharmasaputra juga menuliskan hasil investigasi mengenai kasus Asian Agri dalam buku berjudul Saksi Kunci (Key Witness). Pada 2007, ia dianugerahi the Best Indonesia Journalist of The Year oleh PWI Reformasi.
Secara lebih lengkap, berikut profil singkat Metta Dharmasaputra pendiri sekaligus co-founder Katadata yang akan membuka IDE Katadata Future Forum 2026.
Profil Metta Dharmasaputra
Mengutip laman Linkedin, Metta Dharmasaputra adalah jurnalis investigasi dan penulis yang mengkhususkan diri pada isu ekonomi dan bisnis. Ia memulai karier jurnalistiknya pada tahun 1998 sebagai asisten peneliti di biro Jakarta Asiaweek selama satu tahun, sebelum kemudian bergabung dengan harian Bisnis Indonesia hingga tahun 2001.
Saat ini, ia menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Katadata, perusahaan media berita Indonesia yang berfokus pada ekonomi dan bisnis, yang ia dirikan pada tahun 2012. Ia juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi hingga tahun 2018.
Sebelumnya, ia bekerja di Tempo Media Group pada periode 2001 hingga 2012 dengan berbagai posisi, antara lain sebagai Executive Editor Koran Tempo dan Managing Editor Majalah Tempo. Lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada tahun 1969, Metta menyelesaikan pendidikan menengah di Regina Pacis, Bogor.
Ia kemudian meraih gelar sarjana di bidang Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, serta gelar magister Manajemen Strategis dari Prasetiya Mulya Business School, Jakarta. Pada tahun 2008, ia mengikuti Jefferson Fellowship untuk jurnalis Asia-Pasifik di East West Center, Hawaii.
Metta Dharmasaputra telah menghasilkan sejumlah laporan investigasi. Salah satu kasus terbesar yang ia ungkap adalah dugaan suap dan penghindaran pajak oleh Asian Agri Group (2006–2007) dengan estimasi kerugian negara mencapai sedikitnya Rp1,3 triliun (sekitar 108 juta dolar AS).
Mahkamah Agung kemudian menjatuhkan denda sebesar Rp2,5 triliun (sekitar 227 juta dolar AS) kepada Asian Agri, yang menjadi salah satu denda terbesar dalam sejarah Indonesia. Pada tahun 2014, Metta menerbitkan buku berjudul “Saksi Kunci” (versi bahasa Inggris: Key Witness, 2015) yang memuat kisah lengkap kasus tersebut, yang ditulisnya selama enam tahun.
Atas liputan investigasinya terkait Asian Agri, ia menerima Penghargaan Udin dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tahun 2008 dan dinobatkan sebagai Jurnalis Terbaik 2007 oleh Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI Reformasi). Buku selanjutnya berjudul “Mengejar Fajar” (2018) mengisahkan fakta dan latar belakang kasus bailout Bank Century yang ia tulis selama delapan tahun.
Saat ini, Metta Dharmasaputra juga aktif di sejumlah organisasi nirlaba, antara lain sebagai anggota Dewan Pengawas Transparency International Indonesia, Dewan Penasihat Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Komite Etik Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), serta Dewan Penasihat Yayasan 17000 Pulau Imaji.
Ia juga merupakan pendiri Perkumpulan Pelestarian Muarojambi dan penggagas gerakan MediaLawanCovid19 untuk penanganan pandemi Covid-19.