Israel Serang Lebanon, Apakah Selat Hormuz Ditutup Lagi?

ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am
Apakah Selat Hormuz Ditutup Lagi?
Penulis: Anggi Mardiana
Editor: Safrezi
13/4/2026, 12.57 WIB

Apakah Selat Hormuz ditutup lagi? Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) dinilai mengalami sejumlah pelanggaran, terutama terkait serangan Iran ke Lebanon.
Media Iran, Fars News, melaporkan bahwa langkah penutupan tersebut diambil karena Israel melanggar kesepakatan dengan melancarkan serangan ke Lebanon. Pada Rabu (8/4/2026), Israel disebut melakukan serangan besar-besaran yang menewaskan 254 orang dan melukai lebih dari seribu lainnya.

Iran memandang bahwa perjanjian gencatan senjata mencakup perlindungan serangan terhadap Lebanon. Namun, Israel memiliki pandangan berbeda dan menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian tersebut.

Apakah Selat Hormuz Ditutup Lagi?

Ilustrasi Selat Hormuz (Reuters/Jonathan Raa, Sipa USA)

Pada 9–10 April 2026, Iran kembali menutup Selat Hormuz bagi kapal tanker, khususnya yang dianggap berasal dari pihak musuh. Penutupan ini dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik setelah serangan Israel ke Lebanon, yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Langkah tersebut, berpotensi mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga memicu kekhawatiran akan krisis energi. Selain itu, mendorong negara-negara, terutama di Asia, untuk segera melakukan langkah mitigasi guna menjaga stabilitas pasokan dan harga energi.

Penutupan Selat Hormuz terjadi hampir bersamaan dengan serangan militer Israel ke Lebanon pada Rabu lalu, yang dilaporkan menewaskan ratusan korban jiwa. Padahal sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Ia juga sempat memperingatkan akan meluncurkan serangan besar ke Teheran apabila Iran tetap nekat memblokade Selat Hormuz.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyampaikan sikap tegas negaranya melalui platform X. Ia menegaskan bahwa ketentuan gencatan senjata antara Iran dan AS sudah jelas, yakni Washington harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau melanjutkan konflik melalui Israel, dan tidak bisa menjalankan keduanya sekaligus.

Jalur Alternatif Selain Selat Hormuz

Sebelum kembali menutup Selat Hormuz, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sempat memperkenalkan jalur alternatif bagi kapal tanker untuk menghindari gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Fars News melaporkan bahwa kapal dapat memasuki Teluk Persia melalui jalur di utara Pulau Larak di Laut Oman, sementara untuk keluar, kapal diarahkan melintas di selatan pulau tersebut menuju Laut Oman.
Pulau Larak, yang berada dekat daratan utama Iran, sebelumnya juga pernah dimanfaatkan sebagai rute alternatif oleh sejumlah kapal saat konflik AS-Iran, seperti dilaporkan Chosun Ilbo.

IRGC menyediakan rute ini sebagai langkah antisipasi terhadap potensi ranjau anti-kapal di jalur utama Selat Hormuz. Dalam pengumumannya, IRGC mengimbau kapal-kapal yang hendak melintas agar mengikuti panduan rute alternatif tersebut.

Selain itu, IRGC juga menyertakan peta navigasi yang menampilkan detail jalur pengganti, termasuk penandaan “zona bahaya” di area Traffic Separation Scheme (TSS) yang biasa digunakan kapal. Berdasarkan peta tersebut, kapal yang masuk diarahkan melalui celah sempit antara Pulau Larak dan Pulau Qeshm, yang dekat dengan wilayah Iran, sementara kapal keluar diminta mengitari sisi selatan kedua pulau untuk menghindari daerah berisiko.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada 7 April 2026. Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) hingga 8 April 2026, dua kapal berbendera Yunani dan Liberia tercatat berhasil melintasi Selat Hormuz.

Iran juga disebut telah memberi tahu mediator bahwa mereka akan membatasi jumlah kapal yang melintas hingga 12 kapal per hari, serta dikenakan biaya bagi kapal yang lewat. Namun, serangan Israel ke Lebanon memicu kemarahan Iran.

Apa Dampak Selat Hormuz Ditutup?

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran akibat eskalasi konflik dengan AS dan Israel pada Maret–April 2026 memicu krisis energi global serta menaikan harga minyak, karena terganggunya jalur distribusi perdagangan minyak dunia. Melansir Bnpp.go.id, berikut beberapa kemungkinan dampak Selat Hormuz ditutup:

1. Krisis Energi

Apabila konflik besar benar-benar pecah dan Selat Hormuz ditutup sepenuhnya, dunia berisiko menghadapi krisis energi paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Harga minyak global diperkirakan dapat melambung hingga 150–200 dolar per barel, yang berpotensi memicu lonjakan inflasi secara signifikan dan mempercepat terjadinya resesi ekonomi global.

Negara-negara industri maju mungkin masih memiliki cadangan energi untuk meredam dampak tersebut. Namun, negara berkembang seperti Indonesia akan berada dalam posisi yang jauh lebih rentan terhadap guncangan ini.

2. Efek Domino pada Logistik dan Inflasi

Penutupan Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu rantai pasok global secara luas. Biaya pengiriman laut diperkirakan melonjak tajam seiring meningkatnya premi asuransi akibat risiko perang, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga berbagai barang impor.

Bagi Indonesia, dampaknya bisa dirasakan di banyak sektor, mulai dari industri manufaktur hingga kebutuhan pangan. Selain itu, komoditas ekspor Indonesia seperti CPO, batu bara, dan tekstil juga berisiko menghadapi lonjakan biaya logistik yang signifikan.

3. Perhatian Dunia Akan Bergeser ke Selat Malaka

Apabila Selat Hormuz ditutup, jalur alternatif dalam perdagangan global akan menjadi semakin krusial. Salah satu rute yang diperkirakan mendapat perhatian besar yaitu Selat Malaka. Selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran paling sibuk di dunia dan menjadi penghubung utama antara Samudra Hindia dan Pasifik.

Dalam kondisi krisis global, tekanan dari komunitas internasional terhadap Indonesia untuk menjaga keamanan jalur tersebut diperkirakan akan meningkat signifikan. Situasi ini menuntut kesiapan optimal dari TNI AL dan aparat keamanan maritim untuk memastikan kelancaran dan stabilitas pelayaran internasional.

Apakah Selat Hormuz ditutup lagi? Situasi saat ini masih dinamis dan penuh ketidakpastian. Meskipun sebelumnya Iran sempat membuka jalur alternatif dan membatasi lalu lintas kapal, ketegangan kembali meningkat setelah serangan Israel ke Lebanon yang memicu reaksi keras dari Teheran.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.