Apa Itu El Nino Godzilla hingga Oktober 2026? Ini Dampaknya

Freepik
El Nino Godzilla
Penulis: Tifani
Editor: Safrezi
15/4/2026, 15.27 WIB

Fenomena iklim El Nino Godzilla diperkirakan akan terjadi hingga Oktober 2026. Istilah ini ramai dibahas karena dikaitkan dengan potensi cuaca ekstrem berupa kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan di wilayah Indonesia.

Terlebih, fenomena ini disertai dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada beberapa bulan mendatang. Kombinasi fenomena ini membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering.

Periode ini menjadi krusial karena dampaknya bisa lebih terasa dibandingkan waktu lain dalam setahun. Lantas, apa itu El Nino Godzilla hingga Oktober 2026 dan Seberapa Besar Dampaknya?

Apa Itu El Nino Godzilla?

Kekeringan dampak El Nino (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/YU)

 

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), istilah “Godzilla” bukan merupakan terminologi resmi dalam klimatologi. Secara ilmiah, El Nino hanya diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu lemah, moderat, dan kuat.

Istilah “Godzilla” populer untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas. Di Indonesia, istilah ini digunakan setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut potensi kombinasi El Nino kuat dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memperparah kondisi kering.

Sementara itu, fenomena El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, sehingga memengaruhi pola cuaca global. Dalam kondisi normal, angin di wilayah khatulistiwa mendorong air laut hangat ke arah barat, termasuk Indonesia.

Proses ini membantu pembentukan awan hujan di wilayah Nusantara. Namun saat El Nino terjadi, angin ini melemah.

Akibatnya, air hangat bergeser ke tengah dan timur Pasifik, sehingga pusat pembentukan awan hujan ikut menjauh dari Indonesia. Berdasarkan proyeksi BRIN, potensi kombinasi El Nino dan IOD positif dapat terjadi pada periode musim kemarau, yakni April hingga Oktober 2026.

Namun, BMKG menegaskan bahwa saat ini kondisi ENSO masih berada dalam fase netral dan belum dipastikan berkembang menjadi El Nino.

Dampak El Nino Godzilla

Melalui Instagram resmi BRIN, @brin_indonesia, BRIN menyebut kondisi ini sebagai El Nino ekstrem atau "Godzilla". Fenomena iklim El Nino Godzilla ditandai dengan pendinginan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa, yang turut menghambat pembentukan awan hujan.

Akibatnya, sebagian besar wilayah Indonesia bisa mengalami penurunan curah hujan secara signifikan. Kombinasi fenomena El Nino kuat dan IOD positif dapat memperkuat penurunan curah hujan di Indonesia.

"Godzilla El Niño + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya enggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia," tulis BRIN di Instagramnya.

Dampak nyata dari El Nino Godzilla adalah kekeringan panjang, krisis air, dan peningkatan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah. Meskipun demikian, dampak fenomena ini tidak akan dirasakan secara merata di seluruh Indonesia.

Dampak paling nyata akan dirasakan di wilayah selatan Indonesia, terutama Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Daerah-daerah ini berpotensi mengalami kemarau yang lebih panjang dari biasanya, dengan curah hujan yang jauh berkurang.

Kondisi tersebut membuka risiko kekeringan luas, mulai dari berkurangnya pasokan air bersih hingga terganggunya sektor pertanian. Penurunan curah hujan juga diperparah oleh efek IOD positif yang menyebabkan suhu laut di sekitar Sumatera dan Jawa menjadi lebih dingin.

Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan semakin terhambat, sehingga potensi hujan semakin kecil. Dampak lanjutan yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Saat tanah dan vegetasi mengering, potensi munculnya titik panas akan meningkat tajam. Hal ini dapat memicu kebakaran skala besar seperti yang pernah terjadi pada periode El Nino sebelumnya.

Di sisi lain, tidak semua wilayah mengalami dampak kekeringan. Wilayah timur laut Indonesia seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi.

Selain kekeringan, kondisi panas dan kering juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Suhu tinggi dan kualitas udara yang menurun bukan hanya menyebabkan rasa tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit serius.

Suhu tinggi dapat meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, sekaligus memperberat penyakit kronis seperti jantung dan paru-paru. Di sisi lain, meningkatnya polusi udara berkontribusi pada lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.