Saat ini, banyak orang tua memilih dongeng sebagai media pengantar tidur untuk anak dikarenakan sarat pesan moral sehingga bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan sedini mungkin.

Tidak hanya itu, membacakan dongeng juga dapat membantu meningkatkan imajinasi dan kreativitas anak. Hal tersebut tentu penting, mengingat di era digital ini, mungkin anak-anak lebih terpapar dengan gadget dan tayangan televisi.

Bagi yang sedang mencari bacaan dongeng untuk anak, berikut di bawah ini kumpulan dongeng sebelum tidur yang bisa dijadikan pilihan.

Dongeng Sebelum Tidur

Berikut ini sepuluh dongeng yang edukatif dan penuh pesan moral untuk dibacakan sebagai pengantar tidur anak.

Dongeng Sebelum Tidur (Freepik)

1. Kucing Hitam

Kucing Hitam mempunyai anak berwarna kuning, tetapi anaknya kesal karena mempunyai induk yang jelek dan hitam. Ia pun berpikir untuk mengganti ibunya dan mencari yang lebih hebat.

Keluarlah ia dari kandangnya, melihat matahari yang cantik dan bersinar. Ia berfikir bahwa matahari cocok untuk menjadi ibunya, lalu bertanya kepada matahari, "Wahai Matahari maukah kau menjadi ibuku?"

Lalu Matahari berkata, "Jangan. Kalau datang awan, nanti ditutupnya aku, maka hilang cahayaku."

Lalu Kucing Kuning bertanya kepada awan, "Wahai Awan maukah kau menjadi ibuku?"

Awan berkata, "Jangan. Nanti datang angin itu, diembuskannya aku, maka aku akan terbang ke mana-mana sampai tidak kelihatan."

Ia bertanya pada Angin, "Angin maukah kau menjadi ibuku?" Angin berkata, "Jangan, kami tidak akan bisa lewat kalau ada gunung itu."

Gunung berkata, "Jangan, nanti datang tikus itu dilubanginya aku, maka aku akan hancur." Lalu ia bertanya pada Tikus, "Tikus maukah kau menjadi ibuku?"

Tikus berkata, "Jangan, nanti datang Kucing Hitam itu, dimakannya aku dan anak-anakku." Kemudian Kucing Kuning pun berpikir dan merasa bahwa ibunya lebih hebat dari yang lain dan tidak ada yang bisa menggantikan ibunya.

2. Ari dan Kebun Binatang

Ari adalah seorang anak yang sangat suka mengunjungi kebun binatang. Setiap akhir pekan, Ari bersama kedua orangtuanya selalu mendatangi kebun binatang di kotanya. Ia sangat senang melihat berbagai macam binatang, seperti jerapah, singa, dan gajah.

Suatu hari, ketika Ari sedang bermain di kebun binatang, ia melihat seekor burung merpati yang terkurung dalam sangkar kecil. Ari merasa sedih melihat burung itu karena ia merasa binatang sebaiknya hidup dengan bebas di alam bebas, bukan terkurung dalam sebuah sangkar kecil.

Ari lalu bertanya kepada penjaga kebun binatang tentang burung merpati tersebut. Penjaga kebun binatang menjelaskan bahwa burung merpati itu terluka dan sedang menjalani perawatan agar segera sembuh. Sangkar kecil hanya sementara dan burung merpati akan dilepaskan kembali ke alam bebas setelah sembuh.

Ari merasa lega mendengar penjelasan tersebut. Ia juga belajar bahwa kita tidak boleh mengurung binatang karena binatang sebaiknya hidup dengan bebas di alam bebas.

Setelah itu, Ari mulai memperhatikan binatang-binatang lain di kebun binatang dan merasa lebih menghargai kebebasan mereka. Ia berjanji akan selalu memperhatikan dan menghargai binatang, serta tidak akan mengurung mereka.

Dari kisah Ari, kita dapat belajar bahwa kita tidak boleh mengurung binatang karena binatang sebaiknya hidup dengan bebas di alam bebas. Semua makhluk hidup berhak atas kebebasan dan hak untuk hidup dengan bebas. Kita harus menghargai dan menjaga kebebasan binatang agar mereka bisa hidup dengan bahagia dan sehat di alam bebas.

3. Kelinci yang Lupa Waktu

Di sebuah padang rumput, hiduplah kelinci kecil bernama Lilo. Lilo sangat suka berlari. Ia bisa berlari cepat sekali, lebih cepat dari teman-temannya.

Suatu sore, Lilo dan kura-kura bernama Timo bermain kejar-kejaran.
“Ayo lomba lari sampai pohon besar!” kata Lilo dengan percaya diri.

Timo mengangguk. “Baik, aku akan mencoba.”

Begitu lomba dimulai, Lilo langsung melesat jauh. Ia tertawa senang.
“Ah, Timo pasti masih jauh di belakang,” pikirnya.

Karena merasa aman, Lilo berhenti sebentar. Ia duduk, melihat bunga, lalu tertidur tanpa sadar.

Sementara itu, Timo berjalan pelan tapi terus maju. Langkahnya kecil, tapi tidak berhenti.

Saat Lilo terbangun, matahari hampir tenggelam. Ia kaget dan langsung berlari. Namun ketika sampai di pohon besar, Timo sudah menunggunya sambil tersenyum.

Lilo menunduk malu.
“Aku lupa waktu,” katanya pelan.

Timo tersenyum, “Tidak apa-apa. Besok kita main lagi.”

Sejak hari itu, Lilo belajar untuk tidak meremehkan waktu.

4. Si Singa dan Si Tikus

Di sebuah hutan, hiduplah seekor tikus yang sangat jahil. Suatu hari, Si Tikus jahil tersebut tengah mengerjai Si Singa yang sedang tidur pulas. Si Tikus pun membangunkan Si Singa.

Tanpa disangka, Si Singa yang tengah tidur nyenyak pun sangat marah. Si Singa pun menangkap Si Tikus dan hendak memakannya. Namun, Si Tikus langsung menangis sambil memohon-mohon agar Si Singa memaafkannya.

Si Singa pun berbesar hati untuk memaafkan dan melepaskan Si Tikus. Sambil sedikit ketakutan, Si Tikus kemudian berterima kasih dan berjanji akan membalas kebaikan Si Singa suatu hari nanti.

Beberapa hari kemudian, Si Singa tertangkap jerat yang dipasang oleh para pemburu. Si Singa pun merasa sangat ketakutan akan dibunuh sambil menangis semalaman.

Mendengar tangis Si Singa, Si Tikus pun menghampiri. Ia melihat Si Singa yang pasrah sudah diam di dalam jerat tak berdaya.

Teringat akan kebaikan Si Singa, Si Tikus pun menggerogoti jaring tersebut hingga putus untuk membantu melepaskannya. Singa pun terbebas. Sejak saat itu, Si Singa dan Si Tikus pun bersahabat.

Pesan moral dari cerita ini adalah agar Si Kecil mengerti untuk tidak melupakan kebaikan orang lain. Bahkan, sebagai manusia, kita tidak perlu sungkan untuk membalas kebaikan tersebut.

5. Pashol, Panda Anak Sholeh

(sumber: buku 5 Dongeng Anak Dunia karya Dedik Dwi Prihatmoko)

Di daerah perbukitan China yang dingin, hiduplah habitat panda. Dalam habitat tersebut, tinggalah Pashol, seekor panda kecil bersama keluarganya. Hari ini Pashol tampak sedih. Ia berdiam diri di bawah rerimbunan pohon bambu.

Ia bangun kesiangan sehingga tidak dapat berangkat ke masjid. Ibu Pashol mendekati anaknya yang nampak sedih. "Ada apa, Pashol?"

"Bu, pukul aku! Hari ini aku bangun kesiangan dan tidak sholat subuh," jawab Pasal sambil menundukkan kepala. Mendengar ucapan itu. Ibu Pashol tersenyum. "Lihat ibu!" Pashol pun secara perlahan mencoba menengadahkan kepala dan menatap ibunya.

"Ibu tidak akan memukulmu, ibu tahu kamu anak baik! Lupa itu wajar. Kamu sudah pintar karena tahu kesalahanmu," ungkap ibu menasehati, "Yang penting jangan diulangi lagi, Nak!" tambahnya.

Mendengar perkataan ibunya, Pashol pun segera meminta maaf dan memeluk ibunya. "Sekarang hapus rasa sedihmu dan ingat, jangan tidur larut malam! Agar dapat bangun lebih awal. Dan segeralah ambil air wudhu setelah terbangun di waktu pagi dan sholatlah, Nak!" ungkap ibu.

Pashol mengangguk mendengarkan nasihat ibunya. Segera ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat. Usai sholat, ia kembali kepada ibunya. "Sholat itu ibarat balas budi. Kita bebas menghirup udara, melihat indahnya dunia, itu semua pemberian Allah SWT semata. Maka, sudah sepantasnya kita bersyukur atas karunia-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya," ungkap ibu Pashol padanya kemudian.

Ibu Pashol tidak bosan untuk mengingatkan. Bahwa sholat termasuk bagian perintah agama yang wajib hukumnya. Ibu Pashol selalu memberikan contoh kepada Pashol untuk menjaga sholat lima waktunya.

"Terima kasih ibu untuk nasihatnya. Pashol berjanji akan memperbaiki sholat Pashol. Pashol juga janji, tidak akan tidur terlalu malam lagi agar bisa bangun lebih awal bersama ayam-ayam," ungkap Pashol dengan selipan tawa ringan.

Ibu Pashol pun tertawa bahagia mendengar ucapan putranya dan denganbangga memeluknya. "Ibu sayang sama Pashol," bisik ibu padanya.

Dongeng Sebelum Tidur (Pexels)

6. Goldilocks dan Tiga Beruang

Di tengah hutan yang tenang, hiduplah tiga beruang dalam sebuah rumah kecil nan nyaman: Ayah Beruang yang besar, Ibu Beruang yang bijak, dan Beruang Bayi yang ceria. Suatu pagi, mereka pergi berjalan-jalan ke sungai sambil menunggu bubur sarapan mereka yang masih terlalu panas.

Tak jauh dari sana, seorang gadis kecil bernama Goldilocks sedang menjelajah hutan. Saat melihat sebuah rumah mungil tanpa dikunci, rasa penasarannya muncul. “Sepertinya tak ada orang...” gumamnya sambil masuk perlahan.

Di dalam, aroma bubur segar menggoda hidungnya. Ia mencicipi dari mangkuk besar. “Terlalu panas.” Lalu dari mangkuk sedang. “Terlalu dingin.” Terakhir, ia mencoba dari mangkuk kecil. “Ini pas!” serunya sambil menghabiskan isinya.

Setelah kenyang, Goldilocks melihat tiga kursi. Ia duduk di kursi besar. “Terlalu keras.” Kursi sedang terasa terlalu empuk. Saat ia duduk di kursi kecil, ia tersenyum, “Ini nyaman sekali!” Tapi… krek! Kursi itu patah.

Merasa lelah, Goldilocks naik ke lantai atas dan menemukan tiga tempat tidur. Tempat tidur besar terasa terlalu keras. Tempat tidur sedang terlalu lembut. Tapi yang kecil “Ini sempurna!” dan ia pun tertidur pulas.

Tak lama, ketiga beruang kembali dan terkejut melihat rumah mereka berantakan. “Siapa yang memakan buburku?” tanya Beruang Bayi. Mereka naik ke lantai atas dan menemukan Goldilocks tidur di tempat tidur kecil.

Goldilocks terbangun dan terkesiap. “Maafkan aku… aku tak seharusnya masuk ke sini tanpa izin,” katanya gugup. Namun Ayah Beruang hanya mengangguk. “Kami senang kau mengakui kesalahanmu.” Ibu Beruang menambahkan, “Kami bisa buatkan bubur baru kalau kau lapar.” Beruang Bayi tersenyum hangat, “Kamu bisa duduk di kursiku… kalau tidak patah lagi!”

Goldilocks pun belajar tentang sopan santun dan pentingnya menghargai rumah orang lain. Ia mengucapkan terima kasih dan berjanji akan lebih berhati-hati. Dengan hati yang hangat dan pelajaran berharga, ia melanjutkan petualangannya di hutan.

7. Tantangan Raja

Pada zaman dahulu, berdirilah sebuah negeri makmur bernama Kerajaan Ditu. negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana. Sang raja memiliki dua orang putri, yaitu Putri Lily dan Putri Kemuning.

Sejak kecil, kedua putri mendapatkan pendidikan yang sama. Namun, watak mereka sangat bertolak belakang. Putri Lily cenderung terburu-buru dan mengandalkan keyakinan tanpa perhitungan yang matang. Sebaliknya, putri Kemuning dikenal lebih teliti dan selalu mempertimbangkan segala hal sebelum bertindak.

Ketika usia raja semakin lanjut, ia mulai memikirkan siapa yang pantas menggantikan dirinya sebagai penerus takhta kerajaan. Sang raja mengadakan sebuah ujian untuk para putrinya selama enam bulan. Kedua putrinya diminta untuk menanam satu biji semangka dan hasil panen nantinya harus dijual di pasar. Siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari penjualan tersebut, ia akan menjadi penerus takhta berikutnya.

Putri Lily menerima tantangan itu dengan penuh percaya diri. Ia yakin jumlah panen adalah kunci kemenangan. Ia pun rajin bertanya kepada orang-orang istana demi menghasilkan buah sebanyak mungkin. Sementara itu, Putri Kemuning mengandalkan pengetahuan yang ia peroleh dari buku-buku. Ia menanam biji semangka dengan sabar dan penuh perhatian. Putri Kemuning memahami bahwa setiap tanaman membutuhkan proses untuk ditanam.

Tiga bulan berlalu. Tanaman Putri Kemuning menghasilkan tiga buah semangka, sedangkan milik Putri Lily menghasilkan empat buah semangka. Melihat hasil itu, Putri Lily merasa sudah pasti menang dan langsung membawa semangkanya ke pasar untuk dijual.

Putri Kemuning justru merenung. Dalam hatinya ia bertanya, mengapa ayahnya sang raja memberi waktu hingga enam bulan jika semangka bisa berbuah hanya dalam tiga bulan. Dari situlah ia menemukan ide, ia memotong semangka miliknya dan membagikannya kepada para nelayan. Setelah selesai, ia mengumpulkan lagi biji-biji semangka yang tersisa. Sisa biji semangka itu ada seratus, lalu ia menanamkannya kembali dengan penuh kesabaran.

Tiga bulan berikutnya, tanaman itu berbuah lebat. Putri Kemuning memanen tiga ratus semangka dan menjualnya ke pasar. Putri Kemuning pun menghasilkan uang dalam jumlah yang sangat besar.

Saat menghadap raja, putri Lily dengan bangga menyerahkan hasil penjualannya. Tak lama kemudian, Putri Kemuning datang membawa uan jauh lebih banyak. Putri Lily terkejut dan berkata, "Bagaimana mungkin hasilmu sebanyak itu?".

Putri Kemuning menjawab dengan tenang, "Itu berasal dari penjualan 300 semangka".

Raja pun meminta penjelasan. Dengan sopan, Putri Kemuning menceritakan bahwa ia menanam kembali biji semangka dari panen pertama. Para nelayan yang diberi semangkanya pun dipanggil dan membenarkan ceritanya.

Mendengar itu, Putri Lily merasa malu dan menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf kepada Putri Kemuning dan menerimanya sebagai penerus takhta dengan lapangan dada.

Sang raja pun tersenyum puas. Ia akhirnya yakin bahwa kesabaran, kecerdikan, dan cara berpikir jauh ke depan milik Putri Kemuning adalah bekal terbaik untuk memimpin kerajaan.

8. Bintang Kecil yang Tak Sabar

Di langit malam yang tenang, tinggallah sebuah bintang kecil bernama Nara. Nara bersinar lembut, tapi ia selalu merasa cahayanya terlalu redup.

“Aku ingin bersinar paling terang,” gumam Nara setiap malam sambil memandang bintang-bintang besar di sekitarnya.

Ia sering membandingkan dirinya dengan Bintang Utara yang selalu bersinar stabil, atau Bulan yang disukai semua makhluk di bumi. Nara merasa tidak sabar menunggu gilirannya untuk bersinar lebih terang.

Suatu malam, Nara berkata pada angin malam, “Kapan aku bisa bersinar seperti mereka? Aku ingin semua orang melihatku.”

Angin berbisik pelan, “Setiap bintang punya waktunya sendiri.”

Namun Nara tidak puas. Ia mencoba bersinar lebih keras, memaksa cahayanya keluar. Tapi karena terlalu memaksakan diri, cahayanya justru berkedip-kedip dan hampir padam.

Nara merasa sedih dan lelah. Ia menangis pelan di langit gelap.
“Aku hanya ingin terlihat,” katanya lirih.

Tak lama kemudian, Bulan mendekat dengan cahaya lembutnya.
“Nara,” kata Bulan, “tahukah kamu? Ada anak kecil di bumi yang selalu mencari cahayamu setiap malam sebelum tidur.”

Nara terkejut. “Benarkah?”

Bulan mengangguk. “Cahayamu memang kecil, tapi cukup untuk menemaninya merasa aman.”

Mendengar itu, Nara terdiam. Ia tidak pernah menyadari bahwa cahayanya sudah berarti bagi seseorang.

Malam itu, Nara berhenti memaksakan diri. Ia bersinar pelan, stabil, dan hangat. Tidak terlalu terang, tapi cukup menenangkan.

Di bumi, seorang anak kecil tersenyum di balik selimutnya.
“Bintangnya masih ada,” gumamnya sebelum terlelap.

Sejak saat itu, Nara belajar untuk bersabar. Ia memahami bahwa tidak perlu menjadi yang paling terang untuk menjadi berarti. Bersinar dengan caranya sendiri sudah cukup.

Dan setiap malam, Nara bersinar lembut di langit, menemani anak-anak tidur dengan perasaan aman dan nyaman.

9. Anak yang Berteriak Serigala

Seorang petani meminta putranya untuk membawa kawanan domba mereka merumput setiap hari. Saat anak laki-laki itu menjaga domba-domba tersebut, dia merasa bosan dan memutuskan untuk bersenang-senang. Jadi, dia berteriak, "Serigala! Serigala!".

Mendengar hal ini, para penduduk desa berlari untuk membantunya mengusir serigala tersebut. Ketika mereka sampai di sana, mereka menyadari bahwa tidak ada serigala dan dia hanya bercanda. Para penduduk desa sangat marah dan mereka meneriaki anak laki-laki itu karena telah membuat kekacauan dan kepanikan.

Keesokan harinya, anak laki-laki itu berteriak "Serigala!" lagi dan sekali lagi penduduk desa datang untuk menolongnya serta melihat bahwa tidak ada serigala. Hal ini membuat mereka sangat marah lagi.

Pada hari yang sama, anak laki-laki itu melihat serigala sebenarnya yang telah meneror domba-dombanya. Anak itu berteriak "Serigala! Serigala! tolong bantu aku. Namun, tidak ada penduduk desa yang datang karena mereka percaya bahwa anak itu sedang bercanda.

10. Pakaian Baru

Seorang Kaisar Seorang kaisar sangat suka memakai pakaian baru yang mahal setiap hari, lebih memperhatikan penampilannya daripada tugasnya sebagai penguasa. Dua penipu mengunjungi kaisar dengan menyamar sebagai penenun.

Mereka berpura-pura menunjukkan kain yang hanya bisa dilihat oleh orang bijaksana dan jujur. Kaisar tidak bisa melihat kain itu, tetapi berpura-pura melihatnya karena ia tidak ingin dianggap bodoh dan tidak jujur. Ia mempekerjakan penipu itu untuk membuatkan pakaian untuknya.

Ketika penipu itu memberitahu kaisar bahwa jubahnya sudah siap, ia memutuskan untuk memakainya dalam prosesi yang akan datang.

Kaisar tidak bisa melihat jubah itu, tetapi tetap berpura-pura memakainya, tampil telanjang di depan banyak orang. Orang-orang tetap diam, memandang kaisar yang telanjang karena tidak ada yang ingin disebut tidak jujur dan bodoh.

Namun, seorang anak yang polos mulai tertawa terbahak-bahak melihat kaisar yang telanjang. Tertawa itu pun menyebar. Menyadari bahwa tidak ada jalan kembali, kaisar melanjutkan prosesi dan memutuskan untuk menghukum penipu itu. Tetapi pada saat itu, mereka sudah pergi dengan sejumlah uang yang besar untuk pakaian yang tidak pernah mereka buat.

Itulah sepuluh dongeng sebelum tidur edukatif dan penuh pesan moral yang bisa dibacakan untuk buah hati tercinta.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.