Pada pelajaran bahasa Indonesia, siswa akan mempelajari berbagai macam karya sastra. Salah satunya yaitu cerpen, sebuah karya sastra tentang sebuah cerita fiksi yang dikemas secara pendek, jelas, dan ringkas.
Dilansir dari KBBI, cerpen adalah sebuah tulisan tentang kisah pendek yang isinya tak lebih dari 10 ribu kata, dan berisi tentang seorang tokoh.
Adapun dari segi penulisan, jumlah kata pada cerpen tidak boleh lebih dari 10.000 kata atau batas panjang maksimal 20 halaman. Hal ini bertujuan agar pembaca bisa menyelesaikannya dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar 30 menit hingga dua jam.
Kemudian, inti dari kisah yang diangkat pada cerpen hanya memuat satu permasalahan utama saja.
Bila tertarik untuk membaca karya sastra ini, berikut di bawah ini beberapa ccontoh cerpen singkat yang menarik dibaca.
Contoh Cerpen Singkat
Berikut ini sepuluh contoh cerpen singkat menarik dan penuh makna yang bisa dibaca saat waktu luang.
1. Sungai yang Kembali Bersuara
Desa Kedungombo adalah desa yang hidup dari sungai. Dahulu, Sungai Brantas mengalir jernih, membawa rezeki ikan melimpah, dan suara riaknya adalah musik pengantar tidur. Namun, dalam lima tahun terakhir, perusahaan tekstil di hulu mulai membuang limbah. Sungai Brantas berubah menjadi keruh, berbau, dan sunyi.
Pak Tani (60 tahun), seorang nelayan yang kini beralih menjadi buruh serabutan, merasa kehilangan separuh jiwanya. Anak-anak di desa sering sakit kulit. Ikan-ikan mati mengambang. Warga sudah mencoba berdemonstrasi, namun perusahaan itu terlalu kuat. “Tidak ada lagi harapan,” kata sebagian warga.
Lia (15 tahun), cucu Pak Tani, adalah satu-satunya yang masih memiliki semangat. Ia membuat jurnal dan mendokumentasikan setiap perubahan warna air, setiap ikan yang mati, dan setiap penyakit yang diderita tetangganya. Ia sadar, data adalah senjata. Ia mengirim laporannya ke berbagai lembaga lingkungan, namun tak ada respons signifikan.
Suatu malam, Lia nekat menyusuri sungai ke hulu. Ia menemukan pipa besar yang memuntahkan cairan ungu pekat ke sungai. Ia segera memotretnya. Namun, saat ia berbalik, dua penjaga pabrik menangkapnya.
“Mau apa kamu di sini?!” hardik salah satu penjaga. Lia gemetar, tapi ia teringat suara riak sungai yang hilang. Ia memberanikan diri. “Saya hanya ingin sungai kami kembali jernih! Kalian merusak rumah kami!”
Penjaga itu merampas ponsel Lia, menghapus semua bukti foto. Namun, sebelum mereka menyita ponselnya, Lia telah berhasil mengirimkan satu video ke grup chat warga. Saat Lia dibawa kembali ke desa, ia melihat pemandangan tak terduga.
Seluruh warga desa, dipimpin oleh Pak Tani, sudah berkumpul di tepi sungai. Mereka tidak membawa pentungan atau spanduk; mereka membawa tanaman air dan karung berisi arang aktif. Mereka mulai menanam di sepanjang tepian sungai, memasang filter air sederhana di sekitar pipa pembuangan. Mereka melakukan aksi damai pemulihan lingkungan yang mustahil diabaikan.
Berita tentang aksi damai warga Kedungombo, yang didukung video Lia, viral di media sosial. LSM lingkungan akhirnya turun tangan. Perusahaan tekstil itu mendapat sanksi berat dan diwajibkan membangun instalasi pengolahan limbah yang layak.
Setelah beberapa bulan, dengan upaya warga yang tak kenal lelah, air Sungai Brantas perlahan berubah. Warna ungu hilang, digantikan oleh warna cokelat muda. Ikan-ikan kecil mulai muncul. Suatu sore, Pak Tani memancing lagi. Ia tidak mendapatkan ikan, tetapi ia mendengar sesuatu yang sangat dirindukannya: suara riak air sungai yang kembali bersuara. Ia tahu, alam dan manusia harus hidup berdampingan, karena kerusakan pada satu akan selalu melukai yang lain.
2. Kejadian Lucu di Hari Pemilihan Ketua OSIS
Hari pemilihan ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMA Antares menjadi salah satu momen paling menghibur bagi Maya, Rian, dan Dika. Ketiganya adalah sahabat yang selalu mencari cara untuk membuat kekacauan dengan cara yang lucu.
Pada hari pemilihan ketua OSIS, suasana di sekolah menjadi tegang. Para kandidat memberikan pidato mereka dengan serius di depan seluruh siswa. Namun, di tengah-tengah acara itu, Maya, Rian, dan Dika berencana untuk memasukkan sentilan kecil yang membuat semua orang tersenyum.
Ketika giliran Rian untuk memberikan pidato, dia tiba-tiba terdiam dan berkata, "Maaf, kata-kata saya ketinggalan di rumah." Maya dan Dika, yang duduk di baris depan, terkekeh melihat ekspresi bingung di wajah Rian. Rian kemudian berlanjut dengan pidatonya dengan wajah serius, tetapi tidak bisa menahan tawa Maya dan Dika yang terus mencubitnya di samping.
Ketika giliran Maya untuk berbicara, dia berdiri dengan gagah dan menyatakan, "Jika saya terpilih menjadi ketua OSIS, saya akan memastikan bahwa setiap hari adalah hari libur!" Serentak, suara tepuk tangan riuh rendah terdengar di ruangan, dan para siswa mulai tertawa melihat ekspresi kaget di wajah guru-guru.
Terakhir adalah giliran Dika. Dia bangkit dengan percaya diri, tetapi ketika dia membuka mulutnya untuk berbicara, suara nyaring dari belakang ruangan memotongnya. Seekor kucing liar yang masuk melalui jendela terbuka mulai meneriakkan "meow" dengan kerasnya, membuat semua orang tertawa.
Meskipun kekacauan dan kegilaan yang mereka sebabkan, ketiganya akhirnya berhasil mendapatkan suara mayoritas. Pada akhirnya, suasana hati yang ringan dan tawa yang mengalir di seluruh ruangan menjadi hadiah terbaik di hari pemilihan ketua OSIS yang penuh warna di SMA Antares.
3. Jejak Langkah Kecil
Di sebuah desa kecil yang terpencil, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Adi. Adi adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Meski hidup dalam keterbatasan, Adi memiliki semangat yang besar untuk membantu orang lain.
Setiap hari, Adi akan pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar bersama teman-temannya. Suatu hari, mereka menemukan seekor burung kecil yang terluka. Tanpa berpikir panjang, Adi membawa burung itu pulang dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Setelah beberapa waktu perawatan, burung itu sembuh dan terbang bebas ke langit.
Pada suatu hari lain, desa itu dilanda bencana banjir yang besar. Rumah-rumah di sekitar sungai hancur, dan banyak orang kehilangan tempat tinggal mereka. Adi dan neneknya juga terkena dampaknya. Meski demikian, Adi tetap tidak menyerah.
Dengan semangatnya yang besar, Adi meminta bantuan teman-temannya. Mereka bekerja keras, walau hanya dengan alat yang sederhana, untuk membantu membangun kembali rumah-rumah yang hancur. Meski langkah mereka terasa kecil, bantuan mereka membuat perbedaan besar bagi warga desa.
Saat pekerjaan mereka selesai, warga desa berkumpul dan merayakan keberhasilan mereka. Adi merasa bangga dan bahagia bisa membantu orang lain meskipun dengan keterbatasan yang dimilikinya.
4. Bukan untuk Aku
Mamat berlibur ke rumah neneknya di desa. Kedatangan Mamat disambut dengan sukacita oleh neneknya. Agar cucunya betah, nenek Mamat memperlakukan Mamat dengan istimewa.
Untuk makan Mamat, neneknya menyediakan makanan yang enak-enak. Sebelum Mamat tidur, neneknya mendongeng. Setelah Mamat tidur, neneknya tetap terjaga di dekat Mamat untuk menjaga Mamat dari gigitan nyamuk. Pokoknya, nenek Mamat memperlakukan Mamat dengan istimewa.
Suatu pagi nenek Mamat menyediakan sarapan. Menunya nasi goreng, dua potong ayam kampung goreng, pisang, dan segelas air putih. Nenek Mamat juga menunggui cucu kesayangannya itu saat sarapan.
"Bagaimana, Mat, masakan Nenek enak?"
"Wah, enak sekali, Nek," puji Mamat yang membuat neneknya senang.
"Nasi goreng bikinan Nenek enak banget. Ayam gorengnya enak banget. Pokoknya semuanya enak banget."
"Kalau kamu di rumah, bagaimana dengan sarapanmu?"
"Kadang istimewa dan kadang juga biasa-biasa saja, Nek," jawab Mamat jujur. "Tergantung keuangan ibu, kan, Nek?"
Nenek Mamat tersenyum dan mengelus-elus rambut Mamat.
"Tapi kalau Mamat sedang sarapan di rumah, ibu selalu membuat satu gelas susu, dua lembar roti bakar, dan dua butir telur setengah matang," jawab Mamat.
Nenek Mamat menganggukan kepala.
Keesokan harinya, Mamat terheran-heran dengan menu sarapan yang disediakan neneknya. Di meja makan telah tersedia dua lembar roti bakar, dua butir telur ayam kampung setengah matang, dan satu gelas susu.
"Kenapa Mat?" nenek Mamat terkejut karena dilihatnya Mamat kurang suka dengan sarapan yang sudah ia sediakan.
"Bukankah sarapan seperti ini yang biasa kamu makan di rumah?"
"Nek," kata Mamat, "Yang biasa sarapan dengan dua lembar roti bakar, dua butir telur ayam kampung setengah matang dan satu gelas susu itu ibu! Bukan Mamat, Nek!"
5. Amplop
Nisa memandang amplop-amplop yang dia pegang. Amplop ukuran terkecil berwarna putih bersih. Ada sekitar 20 lembar.
Di atas meja ada uang sepuluh ribuan, dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan. Di atas meja itu juga tergeletak buku kecil yang terbuka dan sebuah bolpoin.
***
"Sa, ini tolong dimasukkan ke dalam amplop-amplop ini..", pinta ibu.
"Dan ini ada buku catatan. Ini uangnya..", lanjut ibu lagi.
Sejurus kemudian Nisa menerima amplop, buku catatan dan sejumlah uang dari tangan ibu. Nisa waktu itu masih sekolah jenjang SD kelas lima.
Nisa membaca catatan di buku ibu. Kemudian dia mendapati tulisan nama-nama yang tak asing. Dan sekaligus ada catatan nominal uang.
"Mengko nek wis diamplopi, tolong dikasihkan ke nama-nama itu ya..", pinta ibu.
"Nggih, bu..", jawab Nisa.
"Kita harus berbagi, Sa. Sedikit atau banyak rezeki yang kita miliki itu ada hak orang lain..", kata ibu.
"Dengan begitu harta yang kita miliki akan bersih, Sa. Percayalah, dengan memberi kamu tidak akan menjadi miskin.. Justru kamu akan menjadi kaya.. Kaya hati, Sa", lanjut ibu.
Nisa mendengarkan perkataan ibu sambil memasukkan uang- uang itu ke dalam amplop.
***
Nisa masih memegang amplop-amplop putih baru ukuran kecil itu. Masih teringat jelas nasehat dengan pemberian contoh langsung dari almarhumah ibunya.
"Alhamdulillah, ini tahun pertamaku mendapatkan gaji dari kerjaku. Dan pertama kali membagi ini untuk tetangga-tetanggaku yang kekurangan..", batin Nisa.
Nisa mulai memasukkan uang-uang miliknya ke dalam amplop. Sesuai dengan catatan, amplop A berisi berapa, amplop B berisi berapa, dan seterusnya. Mungkin tak seberapa, tapi akan memberi manfaat bagi yang benar-benar membutuhkan.
Jika dulu Nisa membantu ibunya, sekarang Nisa mengeluarkan sedekah ini hasil jerih payahnya sendiri.
6. Aku dan Dia
Aku dan dia, kami berdua adalah teman sekelas. Kami berdua selalu bersama, bercanda, tertawa, dan bahkan mengerjakan tugas bersama. Aku tahu dia suka kepadaku, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
Suatu hari, aku mengajaknya keluar untuk makan malam. Dia menyetujuinya dengan senyum manisnya. Kami berdua berjalan di taman kota, menikmati suasana malam yang indah. Aku merasa sangat nyaman saat berada di sampingnya.
Kami berdua berbicara tentang hal-hal yang kami sukai dan tidak sukai. Dia menceritakan tentang keluarganya dan aku menceritakan tentang keluargaku. Kami berbagi cerita tentang masa lalu kami dan bagaimana kami telah berkembang sejak saat itu.
Ketika kami sedang berbicara, aku merasa ada sesuatu yang aneh di antara kami. Aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar teman sekelas. Aku merasa ada sesuatu yang lebih dalam di antara kami.
Ketika kami sedang berjalan pulang, aku memegang tangannya dan memandangnya dengan tatapan penuh cinta. Dia membalas pandangan itu dengan senyuman manisnya. Akhirnya, aku mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa dia juga mencintaiku.
Kami berdua saling memeluk dan menikmati momen indah ini bersama-sama. Aku tahu bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang indah antara kami berdua. Aku yakin bahwa kami akan bersama untuk selamanya.
7. Indahnya Berbagi dengan Sahabat“
Pagi itu hujan turun dengan deras. Ani merasa bingung bagaimana untuk berangkat ke sekolah. Ketika sedang memandang hujan, terdengar suara HP berdering dari kamar Ani, lantas saja Ani masuk ke kamar dan menjawab telepon.
Ternyata yang menghubungi Ani adalah Lia sahabatnya. Dalam teleponnya Lia mengatakan bahwa ia akan menjemput Ani, sebab Lia tahu jika Ani sedang kebingungan bagaimana untuk pergi ke sekolah.
Tak selang berapa lama, Lia sudah sampai di depan rumah Ani bersama ayahnya menggunakan mobil. Ani pun bergegas berpamitan pada orang tuannya dan keluar untuk menemui Lia.
Setelah sampai di sekolah, yang merupakan teman sebangku tersebut pun masuk menuju kelasnya. Istirahat pun tiba, keduanya pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa lapar. Ketika hendak membayar ternyata Lia lupa membawa dompet. Sehingga Ani sang sahabat membayarkannya.
8. Kucing Lucu bernama Katty
Aku punya kucing yang lucu dan manis. Namanya adalah Katty. Dia berwarna putih dengan corak abu-abu di tubuhnya. Dia memiliki telinga dan mata yang bulat. Kucingku juga sangat suka makan dan tidur seharian.
Katty adalah teman baikku. Dia selalu menemaniku untuk bermain di rumah setelah aku pulang. Dia suka mengendus-endus dan berlari-lari di sekitarku. Katty juga suka dielus dan dipeluk. Dia sangat jinak dan tidak pernah menggigit ataupun mencakar.
Aku sangat sayang Katty. Aku selalu merawatnya dengan baik. Aku pun sering memberi makan dan minum yang cukup. Tidak lupa, aku pun sering membersihkan kandangnya setiap hari. Dan juga membawanya ke dokter hewan saat Katty sakit.
Katty adalah kucing yang lucu dan manis. Aku sangat beruntung memiliki dia sebagai temanku. Aku berharap dia bisa hidup lama dan sehat selalu.
9. Pohon Mangga di Kantin
Di halaman sekolah, tumbuh pohon mangga yang rindang. Pohon mangga itu menjadi tempat favorit siswa-siswi untuk berteduh dan bermain. Setiap musim mangga, buah-buahnya yang manis selalu dinikmati bersama.
Namun, suatu hari, pohon mangga itu sakit. Daun-daunnya menguning dan buahnya berguguran. Siswa-siswi sangat sedih melihat pohon mangga kesayangan mereka sakit.
Mereka pun merawat pohon mangga dengan rajin, menyiraminya setiap hari, dan membersihkan daun-daun kering di sekitarnya. Berkat perawatan mereka, pohon mangga pun sembuh dan kembali berbuah lebat.
10. Rahasia di Balik Lukisan Tua
Di ruang seni sekolah, tergantung sebuah lukisan tua yang terlihat misterius. Lukisan itu menggambarkan seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang bermain di taman. Setiap kali melihat lukisan itu, Rani selalu merasa penasaran.
Suatu hari, Rani mengajak sahabatnya, Beni, untuk memecahkan misteri lukisan tersebut. Mereka mencari informasi tentang lukisan itu di perpustakaan sekolah dan bertanya kepada guru seni.
Akhirnya, mereka menemukan bahwa lukisan itu adalah karya dari salah seorang alumni sekolah mereka yang terkenal. Mereka juga menemukan sebuah petunjuk tersembunyi di balik lukisan itu.
Itulah sepuluh contoh cerpen singkat yang menarik dan penuh makna untuk dibaca saat waktu luang.