Apa Itu OPEC? Organisasi Pengendali Minyak Dunia yang Kini Ditinggalkan UEA

Freepik
Apa Itu OPEC
Penulis: Tifani
Editor: Safrezi
30/4/2026, 15.00 WIB

Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keputusan keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada 1 Mei 2026 mendatang. otomatis salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia ini juga keluar dari aliansi OPEC+.

Langkah UEA ini mengguncang salah satu blok paling berpengaruh dalam industri energi global, terutama industri minyak mentah. Keputusan tersebut disampaikan di tengah perang Amerika Serikat–Iran memicu gangguan distribusi minyak dan lonjakan harga global.

UEA menyebut, langkah itu diambil untuk memprioritaskan “kepentingan nasional” dan menyesuaikan strategi energi jangka panjangnya. Lantas, apa itu OPEC dan bagaimana dampak keluarnya negara ini dari organisasi tersebut?

Apa Itu OPEC?

OPEC (Katadata)

 

Mengutip laman resminya, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) adalah organisasi antarnegara produsen minyak yang didirikan pada 1960 di Baghdad oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Organisasi yang berbasis di Wina, Austria, ini dibentuk untuk menyatukan kebijakan minyak negara anggota.

Sejarah OPEC dimulai ketika muncul transisi kondisi ekonomi dan politik internasional pada 1960 karena munculnya negara-negara yang baru merdeka.

Mereka membutuhkan pasokan sumber daya alam, salah satunya minyak bumi. Namun, pasar minyak internasional didominasi oleh perusahaan multinasional The Seven Sisters.

Selain itu, negara-negara tersebut juga terpisah dari pasar minyak bekas Uni Soviet dan negara-negara dengan perekonomian besar lainnya. Akhirnya lima negara produsen minyak menggelar pertemuan bertajuk Konferensi Baghdad di Irak pada 10-14 September 1960.

Mereka adalah Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Hasilnya, mereka sepakat untuk mendirikan OPEC pada 14 September 1960.

Pada tahun berikutnya, OPEC mulai menerima anggota baru seperti Qatar pada 1961 serta Indonesia dan Libya pada 1962. Kemudian pada 1965, OPEC mendirikan Kantor Sekretariat pertama mereka di Jenewa, Swiss dan meneken deklarasi kebijakan perminyakan bagi para negara anggotanya.

Setelah itu, mereka kembali menerima anggota baru lain, seperti Uni Emirat Arab pada 1967, Aljazair pada 1969, Nigeria pada 1971, Ekuador pada 1973, dan Gabon pada 1975. Selanjutnya pada era 2000-an, bergabung pula Angola pada 2007, Guinea Khatulistiwa pada 2017, dan Kongo pada 2018.

Kendati begitu, beberapa negara memutuskan keluar seperti Indonesia pada 2009, Qatar pada 2019, dan Ekuador pada 2020. Sampai saat ini, OPEC telah menjadi salah satu organisasi yang sangat berpengaruh di dunia.

Bahkan, kebijakan OPEC menjadi acuan terhadap pergerakan harga komoditas dan saham global. Sedangkan OPEC+ adalah perluasan kerja sama OPEC yang dibentuk pada 2016 dengan melibatkan negara-negara produsen minyak di luar OPEC, termasuk Rusia, Kazakhstan, Meksiko, dan beberapa negara lainnya.

OPEC+ mengoordinasikan produksi minyak untuk menjaga stabilitas harga global. Saat ini, kelompok tersebut menguasai sekitar 40 persen lebih produksi minyak dunia.

Tujuan OPEC

Tak hanya mengatur stabilitas harga minyak dunia, OPEC juga memiliki beberapa tujuan lain seperti berikut:

1. Mengoordinasikan dan menyatukan kebijakan perminyakan di antara negara-negara anggotanya.
2. Menjamin stabilitas pasar minyak guna menjamin pasokan minyak yang efisien, ekonomis, dan teratur kepada negara-negara konsumen.
3. Mengamankan harga yang adil dan stabil serta pendapatan yang tetap bagi produsen minyak.
4. Menjaga pengembalian modal yang adil bagi mereka yang berinvestasi di industri perminyakan.

Mengapa UEA Keluar dari OPEC?

Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ disebut sebagai hasil evaluasi menyeluruh terhadap strategi energi nasional dan kapasitas produksi masa depan. Pemerintah UEA menegaskan bahwa langkah tersebut mencerminkan arah kebijakan energi jangka panjang yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan ekonomi domestik.

Merangkum dari berbagai sumber, UEA selama ini memiliki kapasitas produksi besar namun terikat oleh kuota OPEC yang dianggap membatasi ruang ekspansi. Selain itu, perbedaan pandangan dengan Arab Saudi dan beberapa anggota lain terkait kebijakan produksi juga disebut menjadi salah satu faktor ketegangan internal.

Selama ini, UEA tengah memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatiknya secara lebih independen di kawasan Timur Tengah, Afrika, hingga menjalin hubungan strategis dengan Amerika Serikat dan Israel. Keluarnya UEA dinilai dapat mengurangi kekompakan OPEC dan memperlemah kemampuan organisasi dalam mengendalikan pasokan minyak global.

Arab Saudi, sebagai pemimpin de facto OPEC, diperkirakan akan memikul beban lebih besar dalam menjaga stabilitas harga minyak dunia. Langkah ini juga terjadi di tengah situasi krisis energi global akibat perang AS–Iran yang telah mengganggu jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi utama minyak dunia.

Sejumlah negara sebelumnya juga pernah keluar dari OPEC, termasuk Qatar, Angola, Ecuador, dan Indonesia, umumnya karena perbedaan kuota produksi atau kepentingan ekonomi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.