8 Gejala Virus HantaVirus: Benarkah Perlu Waspada ke Tikus Saja?

unsplash.com
gejala virus Hantavirus
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
12/5/2026, 11.18 WIB

Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul klaster infeksi di kapal pesiar MV Hondius pada Mei 2026. Wabah yang terjadi dalam pelayaran lintas Atlantik dan Afrika itu menyebabkan sejumlah penumpang mengalami gangguan pernapasan serius dan tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kemudian mengeluarkan peringatan kewaspadaan terhadap penyebaran virus tersebut.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan meski belum ditemukan wabah besar di dalam negeri. Pemerintah menilai risiko penularan tetap ada karena Indonesia memiliki lingkungan tropis, populasi tikus tinggi, serta sejumlah wilayah rawan banjir yang dapat meningkatkan paparan virus.

Situasi tersebut membuat masyarakat mulai mencari tahu apa saja gejala virus hantaVirus, bagaimana penularannya, dan apakah ancaman penyakit ini hanya berasal dari tikus semata.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus merupakan kelompok virus dari keluarga Hantaviridae yang ditularkan dari hewan pengerat ke manusia. Virus ini pertama kali dikenali pada 1950-an di sekitar Sungai Hantaan, Korea Selatan, sehingga dinamakan Hantavirus.

Tikus rumah, tikus sawah, dan sejumlah hewan pengerat lain menjadi reservoir alami virus. Hewan tersebut umumnya tidak terlihat sakit, tetapi dapat menyebarkan virus melalui urine, air liur, dan kotoran.

Pada manusia, Hantavirus dapat memicu dua sindrom utama. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang lebih banyak menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Kemenkes mencatat Indonesia sejauh ini hanya menemukan kasus tipe HFRS dalam jumlah terbatas sejak 1991. Sementara tipe HPS yang ditemukan pada klaster MV Hondius belum pernah dilaporkan di Indonesia.

Apa Itu HantaVirus (unsplash.com)

Perhatian dunia terhadap Hantavirus meningkat setelah muncul klaster infeksi di kapal pesiar MV Hondius. WHO melaporkan virus yang ditemukan berasal dari strain Andes yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi.

Kasus itu memunculkan kekhawatiran karena beberapa pasien mengalami gagal napas akut dalam waktu cepat. Tingkat kematian HPS bahkan dilaporkan dapat mencapai 37 hingga 50 persen apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan medis.

Bagaimana Hantavirus Menular?

gejala virus Hantavirus (unsplash.com)

 

Penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui udara yang tercemar partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering.

Ketika area tercemar dibersihkan tanpa perlindungan memadai, partikel virus dapat beterbangan lalu terhirup manusia. Kondisi itu menjadi jalur penularan paling umum pada kasus Hantavirus.

Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi, kemudian tangan menyentuh mata, hidung, atau mulut. Dalam kasus yang lebih jarang, gigitan tikus juga dapat menularkan virus.

WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut sebagian besar jenis Hantavirus tidak mudah menular antar manusia. Penularan dominan tetap berasal dari hewan pengerat ke manusia.

8 Gejala Virus HantaVirus yang Perlu Diwaspadai

Mengenali gejala sejak awal menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi berat akibat infeksi Hantavirus. Penyakit ini sering terlambat terdeteksi karena tanda awalnya menyerupai flu biasa atau infeksi virus musiman lainnya. Padahal, pada beberapa kasus, kondisi pasien bisa memburuk dalam waktu singkat setelah gejala awal muncul.

Menurut Mayo Clinic, WHO, dan sejumlah jurnal kesehatan internasional, gejala virus hantaVirus umumnya muncul dalam satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus. Berikut delapan gejala virus hantaVirus yang paling sering ditemukan pada pasien.

1. Demam Tinggi dan Menggigil

Demam menjadi gejala awal paling umum pada infeksi Hantavirus. Suhu tubuh penderita biasanya meningkat di atas 37,5 derajat Celcius dan disertai rasa menggigil yang cukup intens. Pada sebagian kasus, demam muncul mendadak dan berlangsung selama beberapa hari tanpa penyebab yang jelas.

Kondisi ini terjadi karena sistem imun tubuh bereaksi terhadap infeksi virus yang mulai berkembang di dalam tubuh. Demam pada Hantavirus sering membuat pasien mengira dirinya hanya terkena flu biasa atau kelelahan akibat cuaca. Padahal, jika disertai riwayat paparan tikus atau lingkungan kotor, gejala tersebut perlu diwaspadai lebih lanjut.

2. Nyeri Otot dan Tubuh Lemas

Nyeri otot menjadi salah satu tanda khas infeksi Hantavirus. Keluhan ini umumnya muncul di bagian punggung, paha, bahu, dan pinggang. Beberapa pasien menggambarkan rasa nyeri seperti tubuh “remuk” dan sulit digunakan untuk beraktivitas normal.

Selain nyeri, penderita biasanya mengalami kelelahan ekstrem yang tidak membaik meski sudah beristirahat. Kondisi ini terjadi akibat peradangan sistemik yang mempengaruhi jaringan otot dan pembuluh darah. Pada tahap awal, banyak pasien mengira keluhan tersebut hanya akibat masuk angin atau aktivitas fisik berat.

3. Sakit Kepala

Sakit kepala pada infeksi Hantavirus biasanya muncul bersamaan dengan demam dan tubuh lemas. Rasa nyeri dapat terasa ringan hingga berat dan sering disertai tekanan di area dahi atau belakang kepala.

Gejala ini terjadi akibat respons inflamasi tubuh terhadap infeksi virus. Ketika sistem kekebalan bekerja melawan virus, pembuluh darah dan jaringan di sekitar kepala dapat mengalami peradangan sehingga memicu rasa sakit. Pada beberapa kasus, sakit kepala juga disertai sensitivitas terhadap cahaya dan rasa pusing berkepanjangan.

4. Mual dan Muntah

Hantavirus tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga dapat mempengaruhi sistem pencernaan. Banyak pasien mengalami mual, muntah, dan rasa tidak nyaman pada lambung pada fase awal infeksi.

Kondisi ini terjadi akibat peradangan dalam tubuh yang mengganggu saluran cerna. Gejala tersebut sering membuat pasien salah mengira dirinya mengalami keracunan makanan atau gangguan lambung biasa. Jika mual dan muntah berlangsung terus-menerus disertai demam tinggi dan nyeri otot, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

5. Diare

Selain mual dan muntah, sebagian pasien juga mengalami diare. Gangguan ini terjadi karena infeksi mempengaruhi pembuluh darah dan jaringan pada sistem pencernaan sehingga penyerapan cairan di usus terganggu.

Diare akibat Hantavirus dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berisiko menimbulkan dehidrasi, tekanan darah menurun, hingga memperburuk kondisi organ tubuh lain. Pada beberapa pasien, diare juga disertai nyeri perut dan rasa kram.

6. Batuk Kering

Ketika infeksi mulai menyerang paru-paru, pasien biasanya mengalami batuk kering yang terus memburuk. Pada tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), batuk terjadi akibat kebocoran cairan di jaringan paru-paru.

Batuk pada Hantavirus berbeda dengan batuk flu biasa karena sering terasa berat dan membuat dada tidak nyaman. Pada tahap ini, pasien umumnya mulai merasakan kesulitan bernapas, terutama saat melakukan aktivitas ringan. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa infeksi telah memasuki fase serius dan membutuhkan penanganan medis segera.

7. Sesak Napas

Sesak napas merupakan salah satu gejala virus hantaVirus yang paling berbahaya. Penumpukan cairan di paru-paru membuat proses pertukaran oksigen terganggu sehingga pasien merasa kekurangan udara.

Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami napas pendek, dada terasa sesak, hingga penurunan kadar oksigen secara drastis. Gejala ini sering berkembang cepat dalam hitungan jam. Karena itu, pasien dengan sesak napas setelah mengalami demam dan riwayat paparan tikus perlu segera mendapatkan perawatan di rumah sakit.

8. Detak Jantung Tidak Teratur

Infeksi Hantavirus yang berat dapat mempengaruhi fungsi jantung sehingga detaknya menjadi tidak stabil. Pasien bisa merasakan jantung berdebar lebih cepat, berdetak tidak beraturan, atau terasa sangat lemah.

Kondisi ini biasanya dipicu oleh gangguan elektrolit akibat muntah dan diare, tekanan pada organ tubuh, hingga peradangan sistemik yang mempengaruhi jantung. Jika tidak segera ditangani, detak jantung tidak teratur dapat berkembang menjadi gagal jantung, syok, bahkan kematian.

Benarkah Perlu Waspada ke Tikus Saja?

Meski tikus menjadi sumber utama penularan Hantavirus, kewaspadaan sebenarnya tidak hanya ditujukan pada hewan tersebut. Faktor lingkungan dan kebiasaan sehari-hari juga memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko infeksi.

Kemenkes menegaskan daerah rawan banjir perlu lebih diwaspadai karena banjir dapat memindahkan tikus dari habitat asal ke permukiman warga. Air banjir yang tercemar urine atau kotoran tikus juga berpotensi menjadi media penyebaran penyakit.

Selain itu, gudang tertutup, bangunan kosong, loteng, ruang bawah tanah, hingga tempat penyimpanan yang jarang dibersihkan juga menjadi lokasi berisiko tinggi. Ketika area tersebut dibersihkan tanpa masker dan sarung tangan, partikel virus dapat terhirup dengan mudah.

Kelompok pekerja tertentu seperti petani, pekerja gudang, petugas kebersihan, pengendali hama, hingga pekerja konstruksi juga memiliki risiko lebih besar terpapar Hantavirus.

Artinya, kewaspadaan tidak cukup hanya menghindari tikus secara langsung, tetapi juga menjaga kebersihan lingkungan dan memahami cara aman membersihkan area yang berpotensi tercemar.

Bagaimana Pengobatan Hantavirus?

Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Hantavirus. Penanganan medis difokuskan pada menjaga kondisi organ tubuh pasien agar tetap stabil.

Pasien dengan kondisi berat biasanya membutuhkan terapi oksigen, cairan infus, ventilator, hingga Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO) untuk membantu kerja paru-paru dan jantung.

Pada tipe HFRS, pasien juga dapat memerlukan tindakan dialisis akibat gangguan ginjal akut. Karena itu, diagnosis dan penanganan dini menjadi faktor paling penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.