Penyebab IHSG Melemah Sepanjang Hari Ini, Ada Apa Sebenarnya?

Katadata
penyebab IHSG melemah
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
18/5/2026, 17.08 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan besar sepanjang perdagangan Senin (18/5/2026). Sejak pembukaan perdagangan pagi di Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks langsung bergerak di zona merah dan terus melemah hingga sesi II perdagangan.

Data perdagangan menunjukkan IHSG dibuka turun 94,34 poin atau sekitar 1,40% ke posisi 6.628,97. Tidak lama setelah pembukaan, tekanan jual semakin besar hingga indeks sempat anjlok sekitar 2,59%.

Memasuki sesi II pada pukul 13.40 WIB, IHSG berada di level 6.472 atau turun sekitar 3,73% setara 250,72 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Posisi tertinggi indeks tercatat di level 6.631, sedangkan level terendah menyentuh 6.398.

Volume perdagangan mencapai 22,58 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp12,86 triliun dan frekuensi transaksi mencapai 1,82 juta kali.

Sebanyak 690 saham mengalami penurunan, hanya 79 saham menguat, dan 50 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut membuat IHSG menjadi salah satu indeks saham dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada perdagangan hari ini.

Situasi itu kemudian memunculkan pertanyaan besar di kalangan investor mengenai apa sebenarnya penyebab IHSG melemah cukup tajam dalam satu hari perdagangan.

IHSG Menjadi Bursa dengan Pelemahan Terdalam di Asia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 4,3% pada perdagangan intraday Senin (18/5) pukul 10.00 WIB. (Katadata / Karunia Putri)

 

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia terjadi di tengah pelemahan mayoritas bursa saham Asia. Indeks Hang Seng Hong Kong, Nikkei Jepang, CSI 300 China, Kosdaq Korea Selatan, hingga Straits Times Singapura sama-sama bergerak di zona merah. Namun, penurunan IHSG tercatat menjadi yang paling dalam di Asia dan ASEAN.

Analis menilai kondisi tersebut terjadi karena pasar domestik mengalami lag effect setelah libur panjang nasional Kenaikan Yesus Kristus. Ketika pasar Indonesia tutup, mayoritas bursa global lebih dulu mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran ekonomi global dan geopolitik.

Akibatnya, sentimen negatif yang terjadi selama libur panjang langsung tercermin pada perdagangan domestik saat pasar kembali dibuka. Selain itu, aksi jual investor asing di pasar Indonesia juga tercatat lebih agresif dibanding sejumlah negara Asia lainnya.

Penyebab IHSG Melemah: Efek MSCI dan FTSE Menjadi Tekanan Utama

Riset Samuel Sekuritas pagi ini sudah memperkirakan pasar saham melemah hari ini. Kami memperkirakan JCI (Jakarta Composite Index) atau IHSG akan melemah seiring sentimen negatif dari pasar global dan regional," seperti dikutip dalam Daily Reseach Samuel Sekuritas, Senin (18/5/2026).

Beberapa analis pun mengungkapkan salah satu faktor utama yang menjadi penyebab IHSG melemah adalah dampak lanjutan hasil evaluasi indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan FTSE Russell.

Pelaku pasar menilai sejumlah saham Indonesia berpotensi mengalami penurunan bobot dalam indeks global. Kondisi tersebut membuat investor asing mulai melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi kepemilikan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Tekanan paling besar terjadi pada saham-saham yang selama ini memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan IHSG, termasuk saham milik grup Prajogo Pangestu dan emiten besar lainnya.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat turun sekitar 14,9%, sementara saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masing-masing anjlok sekitar 14,8%.

Karena saham-saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar besar, penurunan harga yang tajam langsung memberi tekanan signifikan terhadap pergerakan indeks gabungan.

Tekanan dari MSCI dan FTSE sebenarnya sudah mulai terasa sejak pekan lalu, tetapi dampaknya masih berlanjut hingga perdagangan hari ini.

Penyebab IHSG Melemah: Konflik Timur Tengah Memicu Lonjakan Harga Minyak

Faktor eksternal lain yang menjadi penyebab IHSG melemah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.

Sentimen pasar memburuk setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran untuk segera mengambil langkah cepat terkait konflik kawasan tersebut. Di sisi lain, Iran masih menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak global. Amerika Serikat juga disebut masih melanjutkan blokade terhadap pelabuhan Iran. Kondisi tersebut membuat pasar khawatir pasokan energi global terganggu sehingga harga minyak mentah melonjak tajam.

Harga minyak Brent tercatat naik di atas US$110 per barel, sedangkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menembus level US$107 per barel. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global karena biaya energi dan transportasi meningkat. Kondisi itu biasanya membuat investor mengurangi aset berisiko seperti saham di negara berkembang.

Penyebab IHSG Melemah: Inflasi Amerika Serikat dan The Fed Membebani Pasar

Selain faktor geopolitik, pasar keuangan global juga masih dibayangi kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga di Amerika Serikat masih cukup tinggi akibat kenaikan harga energi dan kebutuhan pokok. Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga di masa mendatang.

Jika suku bunga AS tetap tinggi, investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Akibatnya, pasar saham negara berkembang termasuk Indonesia mengalami tekanan arus modal keluar (capital outflow).

Karena itu, sentimen inflasi dan kebijakan suku bunga AS menjadi faktor penting lain yang menjadi penyebab IHSG melemah hari ini.

Rupiah Tembus Level Terlemah Sepanjang Sejarah: Bahan Baku dan Transportasi Paling Terpukul

Tekanan di pasar saham domestik juga diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah tercatat melemah sekitar 1,15% hingga menembus level Rp 17.665 per dolar AS. Posisi tersebut disebut menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah perdagangan modern.

Pelemahan rupiah biasanya membuat investor asing lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar domestik karena nilai aset dalam rupiah menjadi lebih rendah jika dikonversi ke dolar AS. Selain itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi impor dan membengkaknya biaya subsidi energi pemerintah akibat kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap pasar saham dan obligasi domestik.

Pelemahan perdagangan hari ini terjadi hampir di seluruh sektor saham. Sektor barang baku menjadi sektor dengan penurunan terdalam setelah turun sekitar 8,14%. Sementara sektor transportasi melemah sekitar 6,11% dan sektor perindustrian turun sekitar 4,79%.

Tekanan pada sektor transportasi dipicu kekhawatiran kenaikan biaya operasional akibat lonjakan harga minyak dunia. Di sisi lain, sektor barang baku dan industri ikut tertekan karena investor khawatir perlambatan ekonomi global dapat menurunkan permintaan komoditas dan aktivitas manufaktur.

Pasar Menunggu Keputusan Bank Indonesia

Di tengah tekanan pasar, perhatian investor kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pekan ini. Pasar mulai memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah dan meredam arus modal keluar.

Lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dinilai meningkatkan risiko inflasi sehingga bank sentral diperkirakan perlu mengambil langkah lebih agresif. Selain menunggu keputusan Bank Indonesia, pasar juga mencermati data ekonomi China dan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pekan ini.

Beberapa analis menilai volatilitas pasar saham masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek karena sentimen global dan domestik belum stabil. Pergerakan harga minyak dunia, konflik geopolitik Timur Tengah, kebijakan suku bunga AS, pelemahan rupiah, hingga keputusan Bank Indonesia diperkirakan masih akan memengaruhi arah pasar keuangan domestik dalam beberapa waktu ke depan.

Karena itu, memahami berbagai faktor yang menjadi penyebab IHSG melemah penting dilakukan agar investor dapat membaca arah pasar dengan lebih hati-hati di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.