Inilah Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Menjelang Idul Adha

unsplash.com
keutamaan Puasa Tarwiyah
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
26/5/2026, 17.05 WIB

Puasa Tarwiyah dan puasa Arafah menjadi dua amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam menjelang Hari Raya Idul Adha. Kedua puasa tersebut dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, tepatnya pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, serta memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam.

Ilmu mengenai keutamaan Puasa Tarwiyah dan keutamaan Puasa Arafah selalu dicari oleh umat Islam setiap mendekati Idul Adha. Selain menjadi bagian dari ibadah sunnah, kedua puasa ini juga berkaitan erat dengan momentum ibadah haji yang berlangsung di Tanah Suci.

Puasa Tarwiyah dilaksanakan sehari sebelum wukuf, sedangkan puasa Arafah dilakukan bertepatan dengan pelaksanaan wukuf jamaah haji di Padang Arafah. Karena itu, kedua puasa tersebut lebih dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Dalam berbagai hadis sahih dan penjelasan ulama, puasa Arafah disebut memiliki keutamaan luar biasa karena dapat menjadi sebab diampuninya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sementara puasa Tarwiyah dipandang sebagai bagian dari amal shaleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang sangat dicintai Allah SWT.

Apa Itu Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah?

Puasa Tarwiyah merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Zulhijah. Kata Tarwiyah berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan aktivitas jamaah haji menyiapkan bekal air sebelum menuju Mina dan Arafah. Dalam tradisi ibadah haji, hari tersebut menjadi awal rangkaian penting sebelum pelaksanaan wukuf.

Sementara itu, puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah atau sehari sebelum Idul Adha. Waktu pelaksanaannya bertepatan dengan wukuf jamaah haji di Padang Arafah, Arab Saudi. Hari Arafah dikenal sebagai salah satu hari paling mulia dalam Islam karena dipenuhi ampunan dan keberkahan dari Allah SWT.

Keutamaan Puasa Tarwiyah

Pembahasan mengenai keutamaan Puasa Tarwiyah dan keutamaan Puasa Arafah dijelaskan dalam kitab fikih, hadis, dan panduan ibadah yang diterbitkan ulama maupun lembaga keagamaan. 

Keutamaan Puasa Tarwiyah berkaitan erat dengan kemuliaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tidak ada hari ketika amal saleh lebih dicintai Allah dibandingkan amal yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

Artinya: “Tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini,” yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah. (HR Bukhari)

Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak ibadah pada waktu tersebut, termasuk menjalankan puasa Tarwiyah. Meskipun hadis khusus mengenai pahala puasa Tarwiyah dinilai lemah atau dha’if oleh sebagian ulama, amalan ini tetap dianjurkan karena termasuk bagian dari amal saleh pada hari-hari mulia Zulhijah.

Dalam salah satu riwayat disebutkan:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ

Artinya: “Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun dan puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun.

Namun, para ulama menilai riwayat tersebut tidak sekuat hadis sahih lainnya. Meski begitu, keutamaan Puasa Tarwiyah tetap diakui sebagai bagian dari amalan sunnah yang dianjurkan.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami juga menjelaskan bahwa puasa pada 8 Dzulhijjah dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terlewat keutamaan hari Arafah. Penjelasan serupa disampaikan Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi yang menyebut puasa Tarwiyah penting dilakukan karena kemungkinan adanya perbedaan penetapan tanggal dalam kalender hijriah.

Keutamaan Puasa Arafah

Di antara puasa sunnah bulan Dzulhijjah, puasa Arafah menjadi ibadah yang paling banyak dianjurkan. Salah satu keutamaan Puasa Arafah yang paling dikenal adalah penghapusan dosa selama dua tahun.

Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Artinya: “Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)

Hadis tersebut menjadi dasar utama anjuran puasa Arafah bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa puasa Arafah termasuk puasa sunnah yang sangat ditekankan karena memiliki pahala besar dan menjadi sebab diampuninya dosa.

Meski demikian, para ulama menerangkan bahwa dosa yang dihapus melalui puasa Arafah adalah dosa-dosa kecil yang tidak berkaitan dengan hak sesama manusia. Sementara dosa besar hanya dapat dihapus melalui tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.

Selain itu, Hari Arafah juga disebut sebagai waktu ketika Allah SWT banyak membebaskan hambaNya dari api neraka. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:

“Tidak ada hari ketika Allah membebaskan manusia dari api neraka lebih banyak dibandingkan Hari Arafah.”

Karena itu, memahami keutamaan Puasa Arafah tidak hanya berkaitan dengan ibadah puasa, tetapi juga momentum memperbanyak doa, zikir, dan amal saleh lainnya.

Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

Niat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan puasa sunnah. Pada dasarnya, niat puasa dilakukan sejak malam hari setelah matahari terbenam hingga sebelum terbit fajar. Namun, dalam puasa sunnah, niat juga diperbolehkan pada siang hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak subuh.

Lafaz niat puasa Tarwiyah adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta‘ala.”

Sementara lafaz niat puasa Arafah adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta‘ala.”

Doa Berbuka Puasa Tarwiyah dan Arafah

Saat waktu berbuka tiba, umat Islam dianjurkan membaca doa berbuka puasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Doa berbuka puasa Tarwiyah dan Arafah pada dasarnya sama dengan doa puasa sunnah lainnya.

Doa pertama berbunyi:

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَىٰ رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin.

Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Doa kedua berbunyi:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

Dzahabadh dzama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah.

Artinya: “Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala telah ditetapkan, insyaallah.”

Dalam ajaran Islam, umat Muslim juga dianjurkan menyegerakan berbuka ketika azan Magrib berkumandang. Rasulullah SAW menyebut bahwa manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka puasa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.