Profil Nanik S Deyang, Kepala BGN yang Mundur Karena Kesehatan

ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/sg
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang menyapa wartawan sebelum konferensi pers di Kantor Pusat BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Konferensi pers tersebut memperkenalkan dua Wakil Kepala BGN yang baru Agustina Arumsari bersama Mayjen TNI Trenggono dan menyampaikan perbaikan tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 dimulai dari mengoptimalkan efisiensi anggaran.
Penulis: Tifani
Editor: Safrezi
22/7/2026, 13.41 WIB

Profil Nanik S Deyang menjadi sorotan setelah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Keputusan tersebut diambil karena ia akan menjalani pengobatan jantung di luar negeri.

"Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di LN untuk jantung saya. Rencananya hari ini, Rabu (22/7), saya berangkat," tulis Nanik melalui akun Facebook pribadinya.

Nanik menegaskan bahwa keputusannya berobat ke luar negeri bukan karena tidak mempercayai kemampuan tenaga medis di Indonesia. Menurutnya, pengobatan tersebut dilakukan untuk mendapatkan second opinion atas rekomendasi seorang rekannya.

Meski mengundurkan diri, Nanik mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto tetap memintanya ikut mengawasi jalannya Badan Gizi Nasional.

Profil Nanik S Deyang


Nanik S Deyang mundur dari jabatan Kepala BGN, Rabu (22/7) (Nanik S Deyang)
 

Nanik lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968. Ia merupakan lulusan Sarjana Biologi Universitas Jenderal Soedirman pada 1991. 

Nanik S Deyang dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Gizi Nasional pada 8 Juni 2026. Ia menggantikan Dadan Hindayana yang diberhentikan setelah tersangkut dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kini berstatus tersangka.

Pengangkatan Nanik tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18/M Tahun 2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan Kepala dan Wakil Kepala BGN serta pemberhentian Wakil Kepala BPKP. Sebelum menjadi Kepala BGN, Nanik telah bergabung di lembaga tersebut sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi sejak 17 September 2025.

Profil Nanik S Deyang dari Dunia Pers ke Politik

Karier profesional Nanik dimulai di dunia jurnalistik sebagai wartawan Tabloid Bangkit yang berada di bawah kelompok Kompas Gramedia. Pengalamannya kemudian berkembang hingga menduduki berbagai posisi strategis di industri media.

Berdasarkan Data Pers Nasional 2014, Nanik pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum Majalah Femme, Direktur Utama Tabloid Info Kecantikan, serta komisaris di sejumlah media, seperti Info Kuliner, Peluang Usaha, dan The Politic. Saat menjadi Pemimpin Redaksi The Politic, Nanik diketahui pertama kali mewawancarai Prabowo Subianto menjelang Pemilu 2014. 

Pengalaman panjang di dunia pers membuatnya aktif mengikuti isu sosial, ekonomi, dan politik, sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.

Profil Nanik S Deyang di Dunia Politik dan Pemerintahan

Setelah berkarier di media, Nanik mulai aktif di bidang politik dan pemerintahan. Pada Pemilu 2019, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Koalisi Adil Makmur yang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sebelumnya, pada 2018, Nanik sempat menjadi perhatian publik ketika memberikan kesaksian di Polda Metro Jaya terkait kasus penyebaran berita bohong yang melibatkan Ratna Sarumpaet. Menjelang bergabung ke pemerintahan, Nanik menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN), yayasan sosial kemanusiaan yang didirikan Prabowo Subianto.

Pada Oktober 2024, ia dipercaya menjadi Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin). Selanjutnya, pada 12 Juni 2025, Nanik diangkat sebagai Komisaris PT Pertamina atas arahan Kementerian BUMN dan PT Danantara Asset Management.

Kariernya di pemerintahan berlanjut saat dipercaya menjadi Wakil Kepala BGN pada September 2025 sebelum akhirnya dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional pada Juni 2026. Kini, Nanik memutuskan mengundurkan diri dari jabatan tersebut untuk fokus menjalani pengobatan jantung di luar negeri.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.