Kalender Jawa 31 Juli 2026: Weton Jumat Wage, Neptu 10, dan Wataknya
Kalender Jawa masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk mengetahui perpaduan antara hari dalam kalender Masehi dan lima pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, serta Kliwon. Perpaduan keduanya menghasilkan weton yang secara turun-temurun digunakan dalam berbagai perhitungan adat, mulai dari membaca neptu kelahiran hingga memilih hari untuk mengadakan hajatan.
Pada Jumat, 31 Juli 2026, kalender Jawa menunjukkan pasaran Wage. Pertemuan hari Jumat dengan pasaran Wage membentuk weton Jumat Wage yang mempunyai jumlah neptu 10. Tanggal tersebut juga bertepatan dengan 15 Sapar 1960 Ba’ dalam penanggalan Jawa dan 16 Safar 1448 H dalam kalender Hijriah.
Weton Jumat Wage kerap dikaitkan dengan sejumlah gambaran watak menurut primbon Jawa. Selain mengetahui karakter kelahirannya, masyarakat juga menggunakan nilai neptu weton ini sebagai dasar dalam berbagai perhitungan tradisional.
Kalender Jawa 31 Juli 2026
Berikut rincian kalender Jawa 31 Juli 2026:
Hari: Jumat
Tanggal Masehi: 31 Juli 2026
Tanggal Jawa: 15 Sapar 1960 Ba’
Tanggal Hijriah: 16 Safar 1448 H
Pasaran Jawa: Wage
Weton: Jumat Wage
Neptu: 10
Tanggal 31 Juli 2026 menjadi hari terakhir pada bulan Juli dalam kalender Masehi. Sementara itu, dalam kalender Jawa, tanggal tersebut sudah memasuki pertengahan bulan Sapar.
Neptu Weton Jumat Wage
Weton Jumat Wage mempunyai neptu 10. Jumlah tersebut berasal dari nilai hari Jumat sebesar 6 dan nilai pasaran Wage sebesar 4.
Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Jumat 6 + Wage 4 = 10
Dalam tradisi Jawa, nilai neptu dapat digunakan untuk menghitung kecocokan pasangan, memperkirakan karakter kelahiran, serta mempertimbangkan hari pelaksanaan pernikahan atau kegiatan adat lainnya.
Watak Jumat Wage Menurut Primbon Jawa
Orang yang lahir pada Jumat Wage dipercaya memiliki sifat jujur, perasaannya halus, murah hati, dan senang membantu orang lain. Pemilik weton ini juga dikenal mempunyai pendirian yang kuat.
Sisi yang perlu dijaga adalah kecenderungan mudah terkejut, boros, dan terkadang terlalu kukuh dengan pendapat sendiri. Gambaran tersebut merupakan kepercayaan dalam tradisi primbon Jawa sehingga tidak dapat dijadikan ukuran pasti terhadap kepribadian seseorang.