Bumi Makin Panas, Berapa Liter Air Digunakan untuk Edit Foto 80an Pakai AI?

Katadata
Tren edit Foto 80an di IG
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
14/9/2026, 14.36 WIB

Tren edit foto 80an sedang melanda jutaan pengguna media sosial Instagram, TikTok, hingga X pada pertengahan September 2026. Fenomena visual ini memungkinkan publik mengubah foto menjadi citra bertema studio klasik tahun 1985 dengan efek film analog, pencahayaan hangat, dan gaya rambut bervolume.

Pengguna cukup mengunggah foto diri lalu memasukkan instruksi berupa prompt 80an pada generator artificial intelligence seperti ChatGPT, Gemini, hingga Midjourney. Namun, dibalik keunikan tren ini, terdapat biaya ekologis yang sangat tinggi.

Proses komputasi berat di data center global menguras daya listrik ribuan unit pemrosesan grafis (Graphics Processing Unit/GPU) sekaligus menyedot pasokan air bersih dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan server. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para ahli lingkungan karena berkontribusi langsung pada lonjakan emisi karbon dan pemanasan global.

Konsumsi Air di Balik Tren Edit Foto 80an

Setiap kali perintah berupa prompt 80an dikirimkan oleh pengguna, server berdaya tinggi memproses jutaan parameter algoritma untuk menghasilkan tekstur visual retro yang realistis. Pemrosesan intensif ini menghasilkan suhu panas yang ekstrim pada mesin pusat data.

Untuk menjaga kinerja perangkat keras agar tidak mengalami kerusakan akibat overheating, pengelola pusat data memanfaatkan sistem pendingin evaporatif yang menguapkan air bersih secara terus-menerus.

Hasil studi riset dari University of California, Riverside bersama laporan United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memaparkan kalkulasi rinci mengenai konsumsi air pada pemrosesan instruksi AI:

  • Proses pelatihan awal model bahasa besar seperti GPT-3 diperkirakan membutuhkan hingga 700.000 liter air tawar segar untuk pendinginan mesin.

  • Pemrosesan satu instruksi gambar berbasis kecerdasan buatan membutuhkan sekitar 29 mili liter air secara langsung pada sistem pendingin server, atau setara dengan dua sendok makan air bersih.

  • Penggunaan obrolan teks singkat sebanyak 20 hingga 50 pertanyaan pada sistem AI diperkirakan setara dengan penggunaan 500 mili liter air.

  • Apabila proses pengolahan melibatkan beberapa kali revisi gambar atau penggunaan prompt 80an secara berulang, konsumsi air naik menjadi 500 mili liter, setara dengan satu botol air minum kemasan ukuran sedang.

  • Jika dihitung berdasarkan keseluruhan siklus komputasi gambar resolusi tinggi (high resolution), termasuk pasokan listrik pendukung dan pemeliharaan infrastruktur pusat data, satu gambar AI dapat menyedot antara 5 hingga 50 liter air murni.

  • UNU-INWEH memperkirakan jejak air dari operasional pusat data AI di seluruh dunia pada 2030 akan setara dengan total kebutuhan air minum harian bagi 1,3 miliar penduduk di wilayah Afrika Sub-Sahara.

Dampak Emisi Karbon dan Lonjakan Energi Listrik

Tidak hanya menguras pasokan air bersih, tren edit foto 80an berbasis kecerdasan buatan juga mencatatkan konsumsi energi listrik yang sangat boros. Riset dari Carnegie Mellon University dan Hugging Face memperkirakan bahwa pembuatan satu gambar berbasis kecerdasan buatan menghabiskan daya listrik antara 0,01 hingga 0,29 kilo watt-jam (kWh), tergantung pada jenis sistem dan proses pembuatan gambar yang digunakan.

Proses pembuatan visual (text-to-image) membutuhkan daya hingga 1.450 kali lebih besar dibandingkan perintah berbasis teks biasa karena kerumitan neural network inference.

Rincian beban energi dan jejak emisi dari setiap gambar berbasis AI meliputi:

  • Konsumsi energi pembuatan gambar AI berkisar antara 0,01 kWh pada batas bawah hingga 0,29 kWh pada batas atas. Angka 0,29 kWh ini setara dengan menyalakan lampu hemat energi selama puluhan jam.

  • Menurut kalkulasi UNU-INWEH, pembuatan satu gambar AI tipikal menghabiskan energi listrik sekitar 2,9 watt-jam (Wh), setara dengan daya untuk menyalakan satu lampu LED 10 watt selama 17 menit.

  • Energi yang dikonsumsi untuk memproses satu perintah prompt 80an setara dengan energi yang dibutuhkan untuk mengisi daya ponsel dari 0% hingga penuh

  • Apabila pemrosesan ditingkatkan menjadi bentuk video AI berdurasi 5 detik (seperti klip pendek tren retro), energi yang dibutuhkan melonjak hingga 3,4 juta joule atau lebih dari 415 watt-jam per klip.

  • Badan Energi Internasional (International Energy Agency) memproyeksikan konsumsi listrik pusat data secara global akan melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2030. Data Massachusetts Institute of Technology (MIT) mencatat kebutuhan daya pusat data di Amerika Utara melonjak dari 2.688 mega watt pada akhir 2022 menjadi 5.341 mega watt pada akhir 2023.

Dilema Perkembangan Teknologi dan Krisis Lingkungan

Kepopuleran tren gaya visual retro di berbagai platform media sosial secara tidak langsung memperlihatkan ketimpangan antara kemudahan efisiensi teknologi digital dan beban ekologis yang ditanggung bumi. Gambar di layar ponsel pintar tampak tidak berbobot, namun pembuatan setiap gambarnya membutuhkan sumber daya fisik yang riil.

Dampak ekologis dari tren digital ini mencakup seluruh rantai pasok teknologi, antara lain:

  • Beban lingkungan telah dimulai sebelum pengguna menekan tombol pemrosesan gambar. Pembuatan perangkat keras seperti GPU dan server membutuhkan ekstraksi bahan tambang, manufaktur semikonduktor, hingga pengelolaan sampah elektronik.

  • Kerugian terbesar terjadi ketika satu pengguna membuat lima hingga puluhan variasi gambar secara berulang demi memilih hasil terbaik. Ketika perilaku ini diulangi oleh jutaan pengguna media sosial, akumulasi daya komputasi yang terbuang menjadi sangat masif.

  • Di area sekitar pusat data yang mengalami musim kemarau panjang, penyedotan air tanah secara masif untuk pendingin server dapat mengancam pasokan air minum pemukiman warga.

  • Peningkatan penggunaan generator gambar yang tidak terkontrol memperlambat efisiensi emisi karbon perusahaan teknologi utama dunia dalam mencapai target netralitas karbon.

Transisi pusat data menuju energi terbarukan serta pengembangan chip yang lebih efisien terus dilakukan oleh raksasa teknologi. Namun, sikap bijak pengguna internet dalam mengurangi uji coba prompt 80an secara berulang tetap menjadi modal penting untuk menghentikan pemborosan air dan listrik di tengah krisis iklim global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.