Tradisi Pacu Jalur Riau yang Tengah Menarik Perhatian
Tradisi pacu jalur tengah menjadi perbincangan di laman sosial media. Tradisi ini menjadi perbincangan setelah sebuah video yang menampilkan anak kecil menari di ujung perahu yang melaju kencang viral di jagad maya.
Aksi lincah sang anak menari dengan diiringi puluhan pendayung yang kompak berhasil memikat perhatian netizen. Lantas, apa itu tradisi pacu jalur yang tengah viral di laman media sosial?
Tradisi Pacu Jalur
Melansir laman Kemendikbud, tradisi Pacu jalur adalah perlombaan mendayung perahu panjang (disebut jalur) yang berasal dari Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Tradisi ini sudah ada sejak awal abad ke-17, saat jalur digunakan sebagai alat transportasi utama di sepanjang Sungai Batang Kuantan.
Sungai ini terletak di Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di hilir. Namun sejak tahun 1900, jalur mulai dipacukan sebagai bentuk perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Maulid Nabi.
Asal pacu jalur tak bisa dilepaskan dari budaya masyarakat Rantau Kuantan yang hidup berdampingan dengan alam dan sungai. Jalur dibuat dari satu pohon tanpa sambungan.
Sebelum mengambil kayu besar, seluruh masyarakat harus melakukan ritual terlebih dahulu. Tujuannya untuk menghormati dan meminta izin kepada hutan belantara saat mengambil kayu yang besar.
Satu jalur bisa menampung 40 hingga 60 orang. Selain untuk transportasi penduduk, jalur juga menjadi satu-satunya alat angkut hasil bumi seperti pisang dan tebu.
Lama-kelamaan, jalur dibuat makin indah dengan ditambahkan ukiran, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya. Banyak juga yang dilengkapi dengan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).
Jalur pun tidak lagi sebagai alat angkut, tetapi juga identitas sosial. Saat itu hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu.
Asal-Usul Perlombaan Tradisi Pacu Jalur
Awalnya perlombaan tradisi Pacu Jalur ini digelar di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, atau bahkan untuk merayakan Tahun Baru Islam.
Pada 1890, pada masa penjajahan Belanda, acara ini digelar untuk memeriahkan perayaan adat, memperingati hari lahir Wilhelmina (Ratu Belanda) yang setiap 31 Agustus. Kegiatan pacu jalur pada zaman Kolonial dimulai pada tanggal 31 Agustus sampai 1 atau 2 September, tergantung jumlah perahu yang ikut serta.
Pada masa penjajahan Jepang dan masa agresi militer, tradisi Pacu Jalur sempat terhenti karena kondisi sosial dan ekonomi yang sulit. Namun, setelah tahun 1950, perlahan tradisi ini kembali dibangkitkan seiring membaiknya kondisi masyarakat dan ekonomi, terutama karena tingginya harga karet alam.
Kegiatan Pacu Jalur kembali menjadi bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat. Pacu Jalur pun berkembang menjadi pesta rakyat yang meriah dan diadakan rutin setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, yakni 17 Agustus.
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol budaya dan kekuatan kolektif masyarakat Kuantan Singingi. Tradisi Pacu Jalur juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah karena kemeriahan dan keunikannya yang mencerminkan nilai gotong royong serta kecintaan pada warisan leluhur.
Setelah kemerdekaan Indonesia, festival ini semakin berkembang, diselenggarakan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Itu sebabnya Festival Pacu Jalur selalu digelar Agustus.
Tugas Tukang Tari di Ujung Perahu
Dalam tradisi Pacu Jalur tukang tari yang berada di ujung perahu menarik perhatian. Tukang tari selalu diisi oleh anak-anak yang berdiri di ujung perahu.
Anak-anak memiliki berat badannya paling ringan sehingga perahu bisa melaju dengan cepat. Gerakan yang dilakukan tukang tari ini memiliki makna tersendiri.
Mereka menari di depan jalur kalau perahu yang dikendarainya unggul. Pacu Jalur kini mulai dikenal wisatawan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, turis dari negara-negara Asia dan Eropa mulai berdatangan menyaksikan langsung kemeriahannya.
Tradisi Pacu Jalur termasuk dalam Kharisma Event Nusantara dari Kemenparekraf. Tradisi ini juga sedang diusulkan masuk dalam warisan budaya tak benda UNESCO.
Demikian ulasan mengenai tradisi Pacu Jalur yang tengah viral di laman media sosial.