Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang tengah dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memang mengalami pembengkakan biaya (cost overrun). Pihak KCIC telah mengestimasi pembengkakan biaya yang terjadi.

Awalnya, estimasi biaya proyek kereta cepat berkisar US$6,1 miliar. Kemudian, KCIC kembali mengestimasikan terdapat pembengkakan biaya sebesar US$2,5 miliar menjadi US$8,6 miliar pada November 2020. Namun, pihak manajemen terbaru menekan estimasi nilai pembengkakan biaya menjadi US$8 miliar. Hal ini menyebabkan pembengkakan biaya dari estimasi terbaru terhadap biaya awal menjadi sebesar US$1,9 miliar.

Kementerian BUMN menyebut pembengkakan ini akan ditutup dengan dana dari sejumlah sumber, yakni konsorsium pemegang saham dan juga pinjaman alias utang. Konsorsium ini beranggotakan sejumlah BUMN seperti PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co Ltd.

Konsorsium Indonesia akan menanggung 25% dari nilai cost overrun sesuai dengan komposisi saham. Dananya berasal dari penyertaan modal negara (PMN) yang masuk lewat PT KAI (Persero) sebesar Rp 4 triliun. Sementara, konsorsium China diperkirakan akan menambal sebesar Rp 3 triliun. Sisanya 75% dari pembengkakan biaya akan ditutup melalui pinjaman melalui perbankan.

"Di situ dimasukkan dalam semuanya, jadi dimasukkan dalam loan juga 75 persen itu. Itu yang akan diperkirakan apakah cari dari perbankan mana, mungkin dari China, atau dari mana," jelas Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Tenis Indoor Senayan, Rabu (3/8).