Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, disiapkan menjadi sentra industri garam nasional dengan target produksi hingga 2 juta ton per tahun. Proyek Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) seluas 16.000 hektare ini digadang-gadang mampu membawa Indonesia menuju swasembada garam.
Namun di balik ambisi besar tersebut, muncul sejumlah persoalan. Pembukaan lahan mengubah bentang alam dan mengancam hutan lontar serta mangrove. Warga juga khawatir tambak garam dapat mencemari embung yang menjadi sumber air bersih mereka.
Padahal, Rote merupakan pulau kecil yang rentan terhadap kekeringan, gempa, tsunami, hingga kenaikan muka air laut. Di tengah janji penciptaan lapangan kerja, sebagian warga mengaku hanya mendapat pekerjaan kasar.
Lantas, siapa yang paling diuntungkan dari proyek ini? Benarkah industri garam raksasa bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat Rote tanpa mengorbankan lingkungan dan sumber penghidupan mereka?
Ikuti penelusuran Katadata.co.id dari Pulau Rote dalam #ExplainerKatadata berikut ini.
Reporter: Leoni Susanto
Video editor: M.Rafli
Motion: Nadia Pasha
Videografer: Bayu Surya Octavian
Produser: Rizza Ch.
#PulauRote #Katadatacoid #Kalau BicaraPakaiData