ZIGI – Ibu Tompi bernama Safira meninggal dunia karena Covid-19. Kabar duka ini baru disampaikan melalui Instagram pribadinya pada 15 Mei 2021.
Melalui sebuah video berdurasi 24 menit lebih, Tompi menceritakan kronologi meninggalnya sang ibu tercinta. Bagaimana cerita Tompi tentang ibunya yang meninggal dunia karena Covid-19? Berikut cerita selengkapnya.
Meninggal Bulan April Lalu
Tompi mengabarkan kalau ibunya meninggal dunia sebulan lalu tepatnya Rabu, 23 April 2021. Dalam unggahan 26 April 2021, anggota musisi Trio Lestari ini menyertakan foto ibunya mengenakan kerudung warna putih sambil tersenyum.
"Ya Allah tempatkan ibuku di tempat paling mulia. 23 April 2021," tulis Tompi dikutip Zigi.id, Senin, 17 Mei 2021.
Tak berselang lama, unggahan tersebut langsung mendapat ucapan belasungkawa dari warganet termasuk dari kalangan artis.
"Amin Allahuma Amin. Allahumaghfiralaha Warhamha Wa’afiha Wafu’anha. Semoga Husnul Khotimah. Al-Fatihah," tulis Dira Sugandi.
"AlFatihah buat ibu," timpal artis Yini Shara ikut mendoakan.
Ketika itu, ia memang tidak mengungkapkan secara gamblang apa sebenarnya yang menyebabkan ibunya meninggal dunia. Sampai kemudian, Sabtu, 15 Mei 2021, Tompi blak-blakan ibunya meninggal karena Covid-19.
"Setelah dicek Covid, positif. Saya langsung koordinasi dengan beberapa teman di Medan, Banda Aceh untuk ibu saya dirawat," kenang Tompi.
"Saya ngomong dari jam 6 pagi. Tapi ambulans baru ready hampir jam empat sore. Bayangin gap-nya begitu lama. Allah kasih waktunya segitu. Baru naik ambulans saturasi turun. Dalam keadaan tenang, senyap, ibu saya berpulang," sambungnya.
Soroti Fasilitas Kesehatan di Luar Jawa
Akibat lambannya penanganan yang dialami ibunya, Tompi menilai fasilitas kesehatan di luar Pulau Jawa masih jadi persoalan. Di Lhokseumawe, Aceh, tempat ibunya meninggal, Tompi menyoroti akses kesehatan yang jauh dari kata mudah terutama di masa pandemi seperti sekarang ini.
"Lhokseumawe PCR cuma bisa dilaksanakan dua kali seminggu. Padahal dalam kondisi Covid-19 itu Satgas bekerja tujuh hari dalam seminggu," ujarnya.
Tompi menambahkan, untuk mendapat pelayanan yang memuaskan terkadang pasien mesti marah-marah dahulu. Selain itu, tenaga kesehatan dan alat-alat kesehatan juga masih terbatas.
"Kita harus marah-marah dulu, punya koneksi, baru bisa. Itupun pas ibu saya mau cek, labnya nggak bisa, nggak support," bebernya.
"Di luar Jakarta, pulau Jawa, fasilitas kesehatan kita masih menjadi PR besar. Cukup ibu saya yang menjadi korban," tegas Tompi.