Profil Abdul Ghofar, Aktivis WALHI Desak Komitmen G20 Kurangi Emisi

Instagram/@abdelgoffarov
Abdul Ghofar
27/1/2022, 10.55 WIB

ZIGI – Abdul Ghofar, aktivis yang tergabung dalam WALHI Nasional mendesak agar Indonesia memanfaatkan presidensi G20. Bukan tanpa sebab, Ghofar menilai ketika Indonesia jadi tuan rumah G20 bisa menjadi kesempatan besar untuk menyuarakan krisis iklim.

Tak hanya itu, Abdul Ghofar juga bercerita soal berbagai pengalamannya dalam memperjuangkan isu lingkungan di Indonesia. Penasaran dengan sosoknya? Yuk simak profil dan biodata Abdul Ghofar di bawah ini!

Baca Juga: Profil Sumarni Laman, Ingin Suara Masyarakat Adat Didengar di G20

1. Latar Belakang Abdul Ghofar

Abdul Ghofar lahir pada tahun 1993 sehingga di tahun ini usianya akan menginjak 29 tahun. Ia lahir di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ghofar mengungkapkan bahwa sejak kecil sudah diperkenalkan dengan berbagai hal terkait isu lingkungan.

“Jadi keluarga saya keluarga petani. Sejak kecil ya memang sudah terlibat aktivitas pertanian, jadi main ke sawah main ke sungai. Itu yang membentuk pribadi senang kegiatan luar ruangan terus di isu lingkungan sudah diperkenalkan sejak kecil,” tutur Ghofar dalam wawancara bersama Zigi.id pada Kamis, 20 Januari 2022.

Berbeda dengannya yang tertarik isu lingkungan, Ghofar menuturkan bahwa keluarganya adalah aktivis keagamaan. Meski begitu, pihak keluarga selalu mendukung apapun kegiatan positif yang dilakukan oleh Ghofar.

“Kalau keluarga kami sih relatif demokratis sih. Gak ditanyain 'kamu mengerjakan apa, kamu aktif di apa'. Karena sudah tau anak-anaknya aktif di organisasi, mendukung berorganisasi,” imbuhnya.

2. Abdul Ghofar Aktif Organisai Sejak Duduk di Bangku Sekolah

 

Usut punya usut, pria yang akrab disapa Gopang ini sudah aktif berkegiatan sejak duduk di bangku sekolah. Ia lebih sering aktif dalam aktivitas luar ruangan seperti saat SMP mengikuti ekstrakulikuler pramuka dan tergabung dengan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah).

Lalu, saat SMA dan kuliah juga ia mengaku sering terlibat dalam berbagai organisasi. Diketahui bahwa ia kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris di Fakultas Keguruan di UIN Walisongo Semarang.

Ghofar mengungkapkan bahwa alasan ia suka dengan isu iklim karena sejak kecil sudah melakukan aktivitas di luar ruangan seperti berenang di sungai, main ke sawah hingga memancing di laut. Di tambah lagi, ketika sekolah ia juga mengikuti berbagai ekstrakulikuler yang berkaitan dengan alam.

“Ya suka ekstrakulikuler yang semakin meningkatkan minat kegiatan luar ruangan di pegunungan dimana itu, ya sesuatu yang menarik gitu. Sampai SMA juga masih menikmati itu. Terus waktu perkuliahan mulai ke diskusi lingkungan. Kalau dulu kan lebih ke aktivitas gitu, kemah dan lain-lain kalau di kuliah mulai menekuni serius soal perubahan iklim, soal literasinya,” ungkap Ghofar.

3. Abdul Ghofar Buat Komunitas Pecinta Alam

Pada tahun 2014, Ghofar dan teman-temannya membuat komunitas pecinta alam dengan nama Pashtunwali. Dia mengatakan bahwa komunitas tersebut adalah wadah untuk memperjuangkan isu-isu lingkungan. Hingga saat ini, komunitas pecinta alam Pashtunwali masih aktif dengan anggota kurang lebih 50 orang.

“Berharap komunitas pecinta alam ini bisa jadi movement ngajak banyak orang, ikut ke sesuatu yang lebih strategis gitu. Gak cuma aktivitas edukasi terus konservasi tapi juga ke dorongan kebijakan,” tutur Ghofar.

4. Karier Abdul Ghofar di Walhi Nasional

Saat ini, Abdul Ghofar bekerja di WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Nasional dengan jabatan sebagai Manajer Kampanye Transisi Perkotaan Berkeadilan. Awalnya, Ghofar ditawarkan untuk bergabung dengan WALHI Jawa Tengah sejak Maret 2017 sebagai Koordinator Kampanye dan Advokasi.

 

Setelah dua tahun, Ghofar ingin belajar lebih dalam terkait isu lingkungan dan akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan WALHI Nasional. Pertama kali, ia diminta untuk membantu riset ekonomi nusantara karena WALHI tengah membuat buku kajian praktik ekonomi yang ramah lingkungan.

Ghofar juga membantu program officer yang membahas soal keadilan iklim. Dia mendalami soal keadilan iklim sejak tahun 2019 hingga saat ini. Dikutip dari situs resmi WALHI Nasional, organisasi ini didirikan sejak tahun 1980 dan tersebar di beberapa kota Indonesia.

5. Abdul Ghofar Ikut COP26

Abdul Ghofar mengungkapkan bahwa dirinya menjadi delegasi WALHI Nasional di COP26. Diketahui bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Conference of the Parties (COP) ke-26 telah digelar pada 31 Oktober sampai dengan 13 November 2021 di Glasgow, Skotlandia.

Dia menuturkan bahwa mengikuti COP26 adalah pengalaman berkesan baginya karena bisa melihat sudut pandang yang lebih luas. Ghofar mengatakan bahwa delegasi dari berbagai negara lain juga mengungkapkan soal permasalahan iklim di daerah mereka.

“Mereka punya masalah lingkungan yang hampir sama dan punya effort untuk memperjuangkannya. Jadi merasa kayak ‘penderitaan kita ini belum apa-apa, perjuangan kita belum apa-apa. Ada banyak masyarakat yang memperjuangkan itu puluhan tahun’. Jadi kita nemu perspektif baru kalau bukan hanya kita yang berjuang untuk lingkungan tapi masyarakat seluruh dunia,” kata Ghofar.

Di samping itu, Ghofar mengatakan bahwa anak-anak muda Indonesia sudah banyak yang melek terhadap isu iklim. Namun, bahasan tersebut belum meluas pada anak-anak muda yang tinggal di bukan kota besar.

“Belum meluas sampai ke kampung-kampung tapi sudah semakin banyak anak-anak muda di kota, di kampus, di sekolah yang sadar bahwa isu iklim ini adalah sesuatu yang urgent untuk dibicarakan karena soal nasib generasi sekarang dan yang akan datang,” ujar Ghofar.

 

6. Harapan Abdul Ghofar Indonesia Jadi Tuan Rumah G20

Abdul Ghofar sangat antusias ketika Indonesia menjadi tuan rumah G20. Ada harapan besar yang ingin terwujudkan lewat forum kerja sama ini. Pertama, Ghofar berharap agar negara-negara yang mengikuti G20 ini bisa menyadari bahwa mereka adalah top emitters di dunia.

“Harusnya dijadikan momentum untuk pemerintah dijadikan contoh. Jadi kayak pemerintah Indonesia tidak sekadar menjadi tuan rumah G20 tapi juga mendorong negara-negara anggota G20 ini mulai berpikir serius bahwa mereka itu kontributor emisi terbesar di dunia. Mereka harus berkomitmen serius untuk melakukan pengurangan emisi secara signifikan,” tutur Abdul Ghofar.

Ia pernah menuturkan bahwa 75 persen emisi dihasilkan dari negara-negara G20, 19 negara dengan ekonomi terbesar plus 1 Uni Eropa dengan 27 anggota. Sehingga ketika Indonesia ingin menunjukkan komitmen serius dalam menangani krisis iklim, maka momen G20 harus mengajak dan mendorong negara-negara yang ikut turut terlibat secara nyata dalam mengatasi isu ini.

Dia juga meminta agar G20 tidak hanya membahas soal pemulihan ekonomi dan penanganan pandemi. Tapi juga membahas soal urgensi aksi iklim yang harus dilakukan negara-negara anggota G20 yang nantinya juga akan dibawa ke COP27 di Mesir. Sebab, pembahasan COP bermula dari pembahasan G20.

7. Biodata Abdul Ghofar

  • Nama Lengkap : Abdul Ghofar
  • Nama panggilan : Ghofar/Gopang
  • Tempat tanggal lahir : 1993
  • Umur : 28 Tahun
  • Agama : -
  • Profesi : Manajer Kampanye Transisi Perkotaan Berkeadilan WALHI Nasional
  • Pendidikan : S1 UIN Walisongo Semarang
  • Instagram : @abdelgoffarov
  • Tiktok : -
  • Youtube : -
  • Twitter: -

Demikian profil dan biodata Abdul Ghofar, aktivis WALHI Nasional yang memiliki harapan besar pada G20 Indonesia 2022. 

Baca Juga: Profil dan Biodata Candra Darusman, Pencipta Theme Song G20 2022

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.