ZIGI – Rafaela Xaviera, lulusan sarjana Teknik Lingkungan dari Universitas Brawijaya yang kini merupakan seorang aktivis, memiliki harapan besar terhadap G20. Di mana Indonesia harus segera mendeklarasikan darurat iklim serta menghentikan segala kebijakan yang sifatnya merusak lingkungan.
Selama tiga tahun terakhir, Ella, sapaan akrabnya, aktif dalam mengkampanyekan isu lingkungan dengan mengikuti sederet pergerakan dan aksi. Memiliki inisiatif besar untuk menahan dampak pemanasan global, dia tak pernah merasa puas hingga suaranya didengar langsung oleh pemerintah.
Yuk kita kenalan dengan Rafaela Xaviera, sosok inspiratif yang punya harapan besar bagi Indonesia dalam mengurangi emisi dan mencapai Net Zero Emission di bawah ini!
Baca Juga: Profil Sumarni Laman, Ingin Suara Masyarakat Adat Didengar di G20
1. Latar Belakang Rafaela Xaviera
Rafaela Xaviera lahir di Jakarta pada 18 Juni 1999. Dia lulus dari Universitas Brawijaya jurusan Teknik Lingkungan pada tahun 2021 lalu.
Lalu Ella tertarik dengan isu lingkungan setelah mengambil mata kuliah ‘Pemanasan Global dan Perubahan Iklim’ di kampus. Dari situlah, dia mulai menyadari betapa pentingnya lingkungan yang seharusnya dijaga.
Namun sayang, masih banyak isu tentang pelestarian lingkungan yang cenderung merusak di Indonesia. Sekitar tahun 2020, Ella akhirnya bergabung di organisasi Climate Reality Project, disusul dengan pergerakan Extinction Rebellion (XR) Indonesia, serta Jeda Iklim.
Kini, Ella bekerja di Indonesia Cerah Foundation. Sejalan dengan minat, tugasnya adalah untuk menyebarkan kesadaran dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang isu-isu lingkungan termasuk krisis iklim.
“Isu lingkungan banyak istilah sains yang digunakan. Nah, mungkin karena banyak banget istilah scientific dalam isu lingkungan, jadi salah satu faktor orang menjadi sulit untuk lebih paham. Posisi aku berusaha mendekatkan topik lingkungan dan menjadi lebih mudah untuk dicerna untuk publik,” ungkap Ella kepada Zigi.id.
2. Rafaela Xaviera Sebagai Coordinator of Direct Action
Selama hampir dua tahun menekuni profesi sebagai aktivis iklim, Rafaela Xaviera pernah dipercaya menjadi Coordinator of Direct Action dari XR Indonesia. Kala itu, kampanye yang dikoordinasikan oleh Ella bernama Toy Strikes.
Toy Strikes merupakan sebuah pergerakan unjuk rasa dengan mengumpulkan boneka dan mainan anak yang digelar di 3 kota besar di Indonesia termasuk Malang. Aksi ini dilakukan bertepatan dengan Hari Anak Universal.
Karena pandemi Covid-19, sulit untuk mengumpulkan orang untuk melakukan unjuk rasa. Akhirnya, boneka dan mainan anak dijadikan sebagai simbol masa depan anak-anak yang terancam akibat krisis iklim. Ella menyebut ini sebagai ketidakadilan antara generasi.
“Krisis iklim itu disebabkan oleh mungkin orang-orang yang tinggal di zaman dulu, yang punya kebijakan lalu hasilnya hari ini, lingkungan menjadi rusak. Dampak paling parah adalah generasi muda dan masa depan. Aksi Toy Strikes dilakukan untuk menunjukkan hak-hak anak khususnya generasi muda dan masa depan yang berhak mendapat lingkungan sehat dan lestari,” ujarnya.
3. Rafaela Xaviera Tuntut Keadilan Iklim Lewat Jeda untuk Iklim
Selain XR Indonesia, Rafaela Xaviera juga aktif dalam pergerakan Jeda untuk Iklim. Jeda untuk Iklim merupakan gerakan kolektif untuk menuntut keadilan iklim yang terbuka bagi semua individu dan organisasi di Indonesia.
Didirikan tahun 2019, Jeda Iklim telah bekerja sama dengan banyak institusi hingga organisasi lokal dan internasional. Salah satu aktivitas yang sering dilakukan Jeda Iklim adalah membuat suatu aksi yang simbolis dan unik dalam menyebarkan kesadaran krisis iklim.
Kampanye terbaru yang tengah diusung oleh Jeda untuk Iklim adalah mendesak bank-bank nasional untuk menghentikan pendanaan pertambangan batubara.
Berdasarkan penjelasan Rafaela Xaviera, kontribusi paling besar untuk krisis iklim di Indonesia adalah batubara dari sektor energi. Namun bank-bank nasional justru masih memberikan pendanaan terhadap pertambangan batubara sehingga hal ini tidak sejalan dengan apa yang sudah diperjuangkan para aktivis.
“Percuma individu-individu sudah tergabung organisasi lingkungan, atau ikut pergerakan lingkungan, gaya hidup ramah lingkungan, tapi pada akhirnya, uang yang kita simpan atau tabung di bank justru digunakan untuk mendanai batubara yang berkebalikan dengan apa yang kita usahakan,” tandasnya.
Lalu Ella melanjutkan, “Era sekarang kita harus mengurangi krisis iklim di masa depan caranya adalah dengan mengurangi emisi. Makannya dari segi keuangan seperti institusi, perlahan sudah meninggalkan batubara dengan menghentikan pendanaan. Tapi menurut Bank Nasional, ini justru jadi kesempatan untuk mendanai yang sebelumnya itu sudah ditinggalkan sama institusi yang lain,” ujarnya.
4. Harapan Rafaela Xaviera di G20, Indonesia Punya Ambisi Terhadap Iklim
Mengetahui bahwa Indonesia dipilih menjadi tuan rumah G20, Rafaela Xaviera memiliki harapan besar agar negara-negara yang tergabung didalamnya bisa lebih ambisi terhadap iklim.
“Harapannya dengan Indonesia sebagai presiden dari G20, bisa men-encourage, mendorong, memotivasi negara-negara lainnya supaya punya ambisi iklim yang serius. Karena G20 ini sebenarnya cukup signifikan dampaknya terhadap pencapaian menahan laju pemanasan global,” kata Ella.
Karena G20 juga berfokus pada ekonomi dan keuangan, Ella, berharap pengambilan keputusan tidak lagi ekstraktif. Melainkan harus mempertimbangkan antara memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan di masa depan.
“Ini penting dibahas di ajang kumpul negara-negara ekonomi tersebut untuk menerapkan ekonomi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Jadi harapannya, impact bukan hanya dari segi ekonomi saja karena antara ekonomi, sosial, dan lingkungan itu tidak bisa dipisahkan. Menurutku, yang harus dinomorsatukan adalah lingkungannya karena kalau lingkungan tidak memadai, sosial juga tidak bisa sejahtera, dan tidak ada pertumbuhan ekonomi,” lanjutnya.
5. Hasil G20 Diharapkan Hentikan Kebijakan Merusak Lingkungan
Lantas Rafaela Xaviera punya kekhawatiran apabila G20 tidak mendekalariskkan darutat iklim. Yaitu indonesia tidak akan siap dalam menghadapi bencana yang diakibatkan oleh krisis iklim di masa mendatang.
“Kita kalau procrastinate tapi dampaknya di masa depan jadi makin parah dan sulit untuk diatasi. Kalau di G20 tidak goal, enggak ada komitmen yang ditinggiin apalagi tentang berkelanjutan (sustainability), kalau enggak ada aksi yang dilakukan, yang rugi kita semua,” tandasnya.
Terakhir, Ella berharap agar hasil G20 dapat menghentikan kebijakan yang merusak dan memberlakukan kebijakan yang melindungi lingkungan.
“Dari awal adanya XR sama Jeda untuk Iklim, sudah sering banget ngomongin deklarasi darurat iklim, untuk menghentikan segala kebijakan, praktik, dan izin yang sifatnya merusak lingkungan karena segala hal yang merusak lingkungan termasuk sampah sekalipun akan berkontribusi juga pada percepatan krisis iklim. Plastik yang kita buang sembarangan, dari makanan yang tidak kita habiskan, semuanya bisa jadi krisis iklim,” tutupnya.
6. Biodata Rafaela Xaviera
- Nama lengkap: Rafaela Xaviera
- Nama panggilan: Ella / Lele
- Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 18 Juni 1999
- Umur: 22 tahun
- Profesi: Climate Activist
- Pendidikan: Sarjana Teknik Lingkungan Universitas Brawijaya
- Organisasi dan gerakan yang diikuti: Jeda Untuk Iklim (Steering Committee), Extinction Rebellion (XR Indonesia)
- Akun Instagram: @rafaelaxaviera
Itulah profil dan biodata Rafaela Xaviera, seorang aktivis yang punya ambisi besar untuk menahan krisis iklim khususnya di Indonesia hingga harapan agar G20 dapat segera mendeklarasikan darurat iklim.
Baca Juga: Novita Indri, Aktivis Climate Rangers Desak G20 Percepat Target Iklim