ZIGI – Tahukah anda, apa startup akomodasi dan pariwisata terbesar di Korea Selatan? Jawabannya adalah Yanolja. Kini perusahaan tersebut memiliki valuasi hingga Rp 90 triliun.

Namun tahukah bahwa sang pendiri, Lee-su Jin dulunya bekerja sebagai cleaning service di salah satu hotel di Korea Selatan.

Lalu bagaimana Lee bisa membangun Yanolja hingga menjadi seperti sekarang? Berikut kisahnya.

Baca Juga: Mengenal Tipe Pendanaan Startup: Seri A,B,C

Lee Memulai Sebagai Cleaning Service

Kisah Lee kecil selalu dihiasi oleh kemiskinan. Sejak kecil, ia sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk hidup.
Sejak kecil hingga dewasa, Lee hidup bersama keluarga dari mendiang kedua orang tuanya secara berganti-gantian hampir setiap tahunnya.

Menginjak usia dewasa, Lee akhirnya memutuskan untuk bekerja tetap, agar ia bisa memiliki tempat tinggal yang tetap dan tidak berpindah-pindah lagi seperti waktu kecil dahulu.

Untuk itu, di usia 23 tahun, Lee Su-Jin memutuskan untuk bekerja di sebuah hotel dewasa di Korea Selatan. Di hotel tersebut, Lee bekerja sebagai petugas kebersihan. Sehari-harinya, Lee bertugas untuk mengganti sprai dan membersihkan tempat tidur setelah dipakai oleh para pelanggan.

Bekal menjadi petugas kebersihan hotel ini menjadi modal penting Lee untuk membangun kerajaan bisnisnya di masa depan.

Coba Bangun Bisnis Lewat Investasi Saham, Namun Gagal

Setelah mendapatkan cukup uang lewat bekerja sebagai petugas kebersihan, ia pun memulai untuk berinvestasi di saham, lalu mendirikan bisnis makanan sehat. 

Namun keduanya harus berakhir dengan kegagalan. Ia pun memutuskan untuk kembali bekerja di hotel. 

Meskipun kembali bekerja di hotel, ia masih belum menyerah untuk membangun bisnisnya. Ia pun memulai dengan menciptakan komunitas yang berisikan para pengusaha yang bergerak di bidang perhotelan, mulai dari penyedia tisu untuk toilet hotel hingga pemilik hotel. 

Komunitas ini terus berkembang hingga memiliki 10.000 anggota. Dari angka tersebut, di tahun 2005, ia membuat sebuah situs bernama Yanolja, yang berisikan ulasan pengalaman menginap hingga layanan pemesanan kamar secara daring.

Lee mengajak para anggota nya untuk ikut dalam Yanolja. Ia meminta para pengusaha tersebut untuk secara rutin mengunggah foto kamar ataupun hotel yang mereka miliki, untuk nantinya ditawarkan dalam situs Yanolja. 

Strategi ini pun berhasil dengan hebat, banyak orang, khususnya warga Korea Selatan menggunakan Yanolja untuk memesan kamar hotel. Di tahun 2011, perusahaan meluncurkan aplikasi ponsel Yanolja, yang kini telah memiliki 8 juta pelanggan.

 

Banyak sekali penginapan dan hotel yang terbantu berkat aplikasi Yanolja. Dahulu, banyak penginapan dan hotel di Korea Selatan terstigma citra buruk, karena kerap digunakan sebagai tempat berpesta pora, selingkuh, bahkan bunuh diri. 

Namun dengan adanya Yanolja, para pengusaha perhotelan mulai mengubah citra hotelnya menjadi lebih ramah keluarga dan wisatawan, karena dianggap lebih menguntungkan. 

Yanolja Jadi Startup Wisata Terbesar Di Korea Selatan

Mengutip Forbes, setelah industri perhotelan mulai bangkit dan dibuka untuk umum, beberapa perusahaan startup perhotelan mulai kembali bangkit. Sebagai startup pariwisata terbesar di Korea Selatan, Yanolja mencatatkan keuntungan yang signifikan di kuartal pertama di tahun 2022. 

Kini, Yanolja memiliki valuasi fantastis senilai US$ 6,7 miliar atau setara dengan Rp 99 triliun. Yanolja kini tengah bersiap untuk Go Public, dengan melalukan IPO dalam waktu kedepan.

Dalam struktur perusahaan, Lee-Su Jin yang menjabat sebagai CEO adalah pemegang saham kedua terbesar di perusahaan tersebut, dengan kepemilikan saham sebesar 16,54 persen. Istri dan kedua putrinya juga diberikan kepemilikan saham sebesar 5,18 persen. 

Dari jumlah kepemilikan saham tersebut, Forbes menilai bahwa kekayaan Lee dan keluarga berkisar di angka US$ 2 milliar atau sekitar Rp 29 triliun.

Pemegang saham terbesar dari Yanolja kini adalah SoftBank Visions Fund 2, yang membeli saham perusahaan sebesar 25,23 persen pada Juli 2021 lalu, dengan harga US$ 1,7 miliar (Rp 25 triliun) 

Itu tadi kisah inspiratif Lee yang sukses membangun perusahaan yang kini bernilai puluhan triliun.

Baca Juga: Total Kekayaan Nayel Nassar, Menantu Bill Gates Ternyata CEO Aplikasi

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.