Lagu Super Tuna - Jin BTS Disebut Singgung Politik Jepang dan Korsel

Instagram @bts.bighit.official.jin
Jin BTS
10/12/2021, 18.05 WIB

ZIGI – Super Tuna - Jin BTS dirilis pada 4 Desember 2021. Lagu tersebut bercerita tentang Jin yang mencari keberadaan ikan tuna di laut. Namun lirik di dalam lagu sederhana tersebut mendapat protes dari netizen Jepang karena singgung situasi politik antara kedua negara. 

Lagu Super Tuna sendiri sudah banyak mendapat cinta dari netizen internasional setelah viral di TikTok. Penasaran dengan kontroversi lagu Super Tuna - Jin BTS? Cek selengkapnya di artikel ini. 

Baca juga: 7 Proyek Ultah Jin BTS ke-29, Surprise MoonForJin di Konser PTD

Lirik Lagu Super Tuna - Jin BTS Jadi Masalah

Jin BTS merayakan ulang tahun pada 4 Desember 2021. Pada hari yang sama, member tertua ini merilis lagu Super Tuna lewat channel YouTube BANGTANTV. Super Tuna direkam di sela-sela konser BTS di Los Angeles. Lagu ini punya MV yang ceria dengan lirik yang bisa dinikmati oleh siapa pun. 

Hingga kini lagu tersebut masih jadi trending YouTube di posisi enam, dengan jumlah penonton mencapai 22 juta hanya dalam 5 hari. Ditambah Super Tuna Challenge viral di TikTok dengan digunakan oleh 80,6 juta akun untuk video yang mereka unggah. Pencapaian ini membuat penggemar BTS bangga dan senang. 

Namun netizen Jepang merasa ada yang salah dengan lirik dalam lagu tersebut. "East sea, west sea, di mana ikanku berada," adalah bagian lirik yang dipermasalahkan. Jin dianggap tidak hati-hati menggunakan kata 'Laut Timur' alih-alih Laut Jepang. 

Laut Timur atau Laut Jepang yang dimaksud terletak di antara Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara. Di dunia internasional, wilayah ini dikenal dengan nama Sea of Japan (laut Jepang). Namun Korea Utara dan Korea Selatan mengusulkan nama baru agar wilayah tersebut tidak menjadi monopoli satu negara saja. Korsel mengajukan nama Laut Timur (East Sea), dan Korut mengusulkan nama Laut Timur Korea (East Sea of Korea).

 

Penamaan wilayah tersebut berkaitan dengan politik ketiga negara, terutama sejak Jepang melakukan penjajahan di Korea (1910-1945). Keberatan atas nama Sea of Japan pertama kali diajukan Korsel dan Korut ke PBB pada tahun 1992. Sidang tersebut mendatangkan perwakilan tiap negara untuk memberikan argumen pasti terkait konflik wilayah tersebut. Namun hingga kini belum ada kesepakatan apa pun terkait penamaan laut tersebut. 

"Saat ini seluruh negara mendengarkan Super Tuna, oleh karena itu banyak orang Jepang melakukan protes," komentar salah satu netizen Jepang melansir dari Allkpop pada Jumat, 10 Desember 2021. 
"Dia mungkin memilih menulis Laut Timur untuk penggemar di Korea Selatan, tapi seluruh dunia menyebutnya sebagai Laut Jepang," kata yang lain. 

Lagu Jin BTS Tidak Berkaitan Dengan Politik

Mengetahui kabar protes ini, fans langsung membela pelantun Butter tersebut. Lagu Super Tuna ditujukan untuk menghibur ARMY, dan berupa lagu pendek dengan durasi tidak lebih dari 72 detik saja. Menurut fans, protes dari netizen Jepang tersebut terlalu berlebihan. 

"Orang-orang harus berhentu mempolitisasi hal-hal seperti ini... lagu Super Tuna tidak memiliki niatan apa-apa, dan hanya bertujuan menghibur," kata yang lain. 
"Dia adalah orang Korea, kenapa harus menggunakan perspektif Jepang saat lagunya pun berbahasa Korea?" komentar salah satu netizen.
"Mereka mencoba menciptakan konflik politik untuk sesuatu yang begitu sederhana," tanggapan netizen lain. 

Hingga kini HYBE Labels maupun pihak BTS belum memberikan pernyataan apa pun soal penamaan lagu di lirik Super Tuna. Sementara itu lagu solo Jin BTS ini berhasil masuk di tangga lagu Billboard. Membuat banyak orang terkejut dengan pencapaian tersebut. 

Baca juga: Terjemahan Lirik Lagu Super Tuna - Jin BTS, Rilis Saat Ultah ke-29

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.