Penggunaan Media Sosial dalam Pilkada Jabar

Jamilatuzzahro

16 Agustus 2018 | 12:01

Sampai saat ini memang belum ada pendekatan praktis untuk mengenalkan dan menerapkan teknologi saintifik big data dalam membantu kandidat memenangkan pemilu

Secara global, empat miliar penduduk dunia sudah menikmati internet. Indonesia merupakan negara pengguna internet terbesar ke-5 di dunia. Dari sekitar 256,6 juta penduduk, pengguna internet di Tanah Air mencapai 143,26 juta jiwa dan sekitar 85,08%-nya mengakses media sosial.

 

Angka tersebut meningkat dengan pesat beberapa tahun terakhir. Bersamaan dengan hal tersebut, volume data pengguna dan interaksi pengguna yang disimpan oleh perusahaan media sosial juga turut membesar. Dalam konteks ini, istilah big data digunakan untuk menggambarkan jumlah data yang besar dari berbagai jenis variasi dan akurasinya berbeda.

Dengan sistemnya, big data memainkan peran penting untuk mendukung pengelolaan data. Hasilnya, pengguna dapat menemukan pengetahuan atau nilai baru serta berinovasi dengan lebih cepat. Big data, bisa dimanfaatkan dalam segala aspek, termasuk pemilihan umum (pemilu) baik pemilihan presiden, kepala daerah dan anggota parlemen.

Apabila penggunaannya dioptimalkan, big data sebenarnya dapat menjadi senjata ampuh yang memainkan peran penting dalam pemilu Indonesia. Pengguna media sosial Indonesia berjumlah sangat banyak dan aktif. Dengan penggunaan algoritma big data, dapat diperoleh informasi terkait perilaku pengguna dan aktivitas harian sesuai perspektif politik yang diinginkan.

Metode kampanye politik yang diterapkan selama bertahun, dan dianggap paling efektif adalah bertemu langsung dengan masyarakat. Media sosial dan penggunaan big data juga dapat mencakup tujuan tersebut dengan waktu yang lebih cepat dan tenaga lebih sedikit.

Permasalahannya baru sedikit dari para peneliti data atau politikus memanfaatkan peran big data tersebut. Sampai saat ini memang belum ada pendekatan praktis untuk mengenalkan dan menerapkan big data sebagai teknologi saintifik dalam membantu kandidat memenangkan kampanye.

Alih-alih menggunakan big data untuk memenangkan pemilu, partai-partai dan politikus di Indonesia baru sebatas memanfaatkan konten  media sosial sebagai salah satu alat kampanye dan memperkirakan suara kandidat. Fenomena tersebut salah satunya terlihat pada Pilkada di Jawa Barat.

Pilkada Jawa Barat 2018

Pada Juni lalu, ada 171 daerah di  Indonesia terdiri atas 17 provinsi, 39 kota, dan 155 kabupaten menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Kita dapat mengambil contoh penerapan media sosial pada pemilihan gubernur Jawa Barat. Dalam kontestasi politik tersebut, sebanyak empat pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur bersaing untuk memenangkan suara 30,79 juta penduduk yang termasuk dalam daftar pemilih tetap.

Dengan melihat suara-suara yang terekam dalam media sosial seperti twitterfacebook, berita media online, dapat terlihat popularitas serta sentimen masyarakat mengenai isu maupun paslon tertentu. Sepanjang Juni lalu misalnya, sampel penjejakan suara dari twitter dan pemberitaan online menunjukkan paslon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 1, Ridwan Kamil-Uu (Rindu) popularitasnya tertinggi dengan akumulasi 44,9 ribu pengutipan nama dalam cuitan twitter dan berita online. Popularitas kedua ditempati oleh paslon Sudrajat-Syaikhu (Asyik) yang diusung oleh trio Gerindra, PKS, dan PAN dengan total 26,3 ribu pengutipan dalam media sosial dan media online. Disusul oleh Deddy-Dedi dengan 7,1 ribu pengutipan, dan Hasan-Anton dengan 4,2 ribu pengutipan nama.

Hal tersebut sesuai dengan hasil akhir perhitungan pilkada yang dikeluarkan oleh KPU. Berdasarkan sidang pleno KPU Jawa  Barat pada 8 Juli 2018, Ridwan Kamil-Uu ditetapkan menjadi pemenang pilkada dengan perolehan suara sebanyak 7.226.254 atau 32,88 persen dari total pemilih. Sudrajat-Syaikhu  menempati posisi kedua dengan total suara sebanyak 6.317.465 atau 28,74 persen. Paslon nomor urut 4, Deddy-Dedi, menempati posisi ketiga dengan 5.663.198 suara (25,77 persen). Terakhir Hasan-Anton, yang diusung oleh PDIP, mendapat 2.773.078 suara (12,62 persen).

Perjalanan lembaga survei dalam mempublikasikan hasil elektabilitas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Pilkada Jawa Barat menarik perhatian. Penyebabnya pasangan Sudrajat-Syaikhu  mengejutkan seminggu menjelang Pilkada dengan angka yang tinggi berada di bawah pasangan calon Ridwan Kamil – Uu. Padahal enam bulan sebelumnya Sudrajat-Syaikhu stagnan pada angka elektabilitas berkisar 8-10%.

Popularitas dan penggunaan akun personal Ridwan Kamil di media sosial menjadi penyebab tingginya popularitas serta elektabilitas RK-Uu pada hasil survei dibandingkan calon pasangan lainnya. Kondisi ini sudah bisa diperkirakan karena di media sosial di antara para pasangan calon, Ridwan Kamil memimpin dengan jumlah pengikut 8,3 juta followers.

Ridwan Kamil memanfaatkan twitter untuk mendulang suara pasangan Rindu. Dari most retweet pasangan Rindu terlihat sangat progresif yang menonjolkan karakter perubahan dan pembangun Jabar dengan hastag #JabarJuara. Personal Ridwan Kamil yang sudah dikenal selama menjadi walikota Bandung dengan mem-posting setiap kegiatannya di media sosial membuat masyarakat mengenal sosok alumnus arsitektur ITB tersebut dan dapat menarik para pemilih.

Uniknya masyarakat suara pasangan Asyik tidak terdekteksi oleh lembaga survei sebelumnya. Suara pasangan Asyik meloncat tinggi menempati posisi kedua dan bahkan hanya berbeda +/- 3% dari pasangan Rindu.

Perubahan suara signifikan pada pasangan Asyik disebabkan oleh tim kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang secara totalitas memanfaatkan media sosial dengan mengiringi hastag Asyik dengan hastag ganti presiden. Tim kampanye Asyik sangat menafaatkan moment H-7 pemungutan suara di mana pada saat itu para pemilih sedang sibuk untuk menentukan pilihannya.

Dari tren dan volume dari grafik di atas, jauh hari sebelumnya kampanye pasangan #Asyik memang belum massif sejalan dengan hasil elektabilitas Asyik yang masih rendah.  Adapun, volume kampanye #Rindu di media online sudah sangat tinggi, salah satunya dari akun personal Ridwan Kamil di media online. Pemberitaan pun lebih banyak tentang #Rindu sehingga secara popularitas pasangan ini mendapat hasil survei lebih tinggi.

Salah satu sumber data survei elektabilitas adalah dari media sosial, meski ada pula beberapa lembaga survei yang menggunakan wawancara langsung. Kondisi minimnya kampanye Asyik di media sosial sangat mungkin menjadi sebab rendahnya popularitas #Asyik dibanding #Rindu sebelum H-7. Pada H-7 kampanye Asyik mulai dilakukan secara massif. Akun media sosial para tokoh dan influencer pendukung Asyik bergerak secara serentak dengan follower yang saling me-retweet. Ditambah kaderisasi PKS yang berbasis kelompok – kelompok kecil sangat mengikuti arahan pemimpin.

Jumlah pemilih pemula di Jabar sebanyak 30% dari daftar pemilih-- masuk dalam usia pemuda dan beraktivitas di media sosial-- akan menjadikan media sosial sebagai salah satu referensi dalam memilih. Mengingat pula  H-7 adalah hari di mana para calon pemilih sibuk menentukan pilihannya, waktu tersebut menjadi peluang besar bagi para paslon untuk menggaet suara karena pasangan yang sangat aktif sangat mungkin mendapatkan tambahan suara. Pasangan #Asyik memanfaatkan momen tersebut dan berhasil menaikan suara.

Tingginya lonjakan aktifitas kampanye di media sosial, yang biasanya diikuti dengan kampanye di kanal offline oleh tim pasangan calon pemimpin, sangat mungkin menjadi penyebab tingginya perolehan suara.  Penggunaan big data seharusnya dapat menghasilkan temuan-temuan berarti yang dapat membantu menentukan strategi pemenangan politik seperti yang dilakukan oleh Cambrigde Analytics dengan menggunakan algoritma big data untuk mendongkrak suara Donald Trump dalam pemilu Presiden Amerika Serikat pada tahun lalu dengan menggunakan algoritma bigdata. Sayangnya, hingga kini perapan tersebut baru sedikit dilakukan. Media sosial lebih banyak digunakan sebagai wadah kampanye gratis daripada menjadi alat politik yang canggih.

Jamilatuzzahro