Mesin Partai Kunci Pilpres 2019 Ketimbang Sosok Kepala Daerah

Perolehan suara calon presiden dan wakil presiden di daerah gemuk pemilih lebih dipengaruhi oleh kekuatan mesin partai di daerah tersebut daripada kekuatan tokoh dan kader yang menjadi pemimpin daerah.

Nazmi Haddyat Tamara

22/5/2019, 09.00 WIB


Pada Selasa (21/5) dini hari, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil pemilihan presiden (Pilpres) yang memenangkan pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin. Capres petahana ini unggul 16,9 juta suara dari rivalnya, Prabowo Subianto -Sandiaga Uno. Mesin partai dan kepala daerah turut berperan menentukan hasil pilpres tersebut.

Secara rinci, pasangan calon presiden dengan nomor urut 01 meraih 85.607.362 suara, atau 55,5% dari total suara yang sah. Sedangkan pasangan 02 sebanyak 68.650.239 suara atau 44,5%.

Jabar

Jokowi – Ma’ruf unggul di 21 provinsi. Persentase kemenangan pasangan ini paling besar di Provinsi Bali, yakni 91,68% atau sebanyak 2.351.057 suara. Adapun, Prabowo – Sandiaga meraih 213.415 suara.

Sebaliknya, pasangan nomor urut 02 ini unggul di 13 provinsi. Di Sumatera Barat, perolehan suara mereka bahkan enam kali lipat lebih besar dibandingkan suara pemilih 01.

Di daerah dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) banyak, suara kedua pasangan calon bervariasi. Prabowo-Sandi mampu menang di Jawa Barat yang merupakan provinsi dengan jumlah DPT terbanyak. Sedangkan Jokowi-Ma’ruf unggul telak di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang merupakan daerah dengan DPT terbanyak kedua dan ketiga.

Pemilu 2019 (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)

Pemilu 2019 (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)

Jawa Barat


Jumlah pemilih di provinsi ini mencapai 33,3 juta jiwa atau 17,4% dari total pemilih seluruh Indonesia. Di provinsi yang sejak 2014 dikenal sebagai basis masa Gerindra dan PKS ini, Prabowo-Sandi unggul telak dengan meraup 16 juta suara atau hampir 60%. Sedangkan Jokowi-Ma’ruf mengumpulkan 10 juta suara. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dari perolehan Prabowo tahun 2014 yang mencapai 59,78%.

Hasil pilpres tersebut sejalan dengan perolehan suara partai-partai pengusung 02 dalam pemilu legislatif. Gerindra dan PKS menempati posisi pertama dan ketiga dengan perolehan suara masing-masing 17,69% dan 13,46%.

PDIP di urutan kedua dengan perolehan 14,38% suara. Namun, total perolehan suara partai pengusung pasangan nomor 01 unggul tipis dengan 51,64% dibandingkan partai pengusung 02 sebanyak 47,89%.

Jabar

Di sisi lain, mesin partai dan basis kader lebih menentukan hasil pilpres dibandingkan tokoh pemimpin daerah di Jawa Barat. Ini terlihat pada Gubernur Jawa Barat terpilih Ridwan Kamil yang berasal dari partai sama dengan pengusung 01. Meski mendukung pasangan petahana, hasilnya tak mampu mendongkrak suara Jokowi di tanah Pasundan.

Menilik hasil Pilkada Jawa Barat tahun 2018, Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum dan Tb Hassan-Anton yang didukung oleh partai pengusung 01 secara kumulatif mengumpulkan 45,49% suara. Adapun, Sudrajat-Ahmad Syaikhu dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang diusung oleh partai 02 (kecuali Golkar) mengumpulkan 54,51% suara.

Alhasil, meski Ridwan Kamil memenangkan Pilkada, basis suara pendukung 01 masih kalah dengan angka sekitar 40%.

Jawa Timur


Bergeser ke timur, di daerah dengan DPT terbanyak kedua yaitu 30 juta pemilih, pasangan Jokowi-Ma’ruf menang telak dengan meraih 16,2 juta suara atau 65,79%. Sedangkan Prabowo-Sandi mengumpulkan 8,4 juta suara atau 34,21%. Kemenangan Jokowi di Jawa Timur meningkat signifikan dibandingkan 2014 yang sebesar 53,17% suara.

Tak jauh berbeda, perolehan partai pengusung Jokowi juga terkerek naik. Secara agregat, perolehannya mencapai 69,51%. Perolehan ini disokong oleh PDIP dan PKB dengan suara masing-masing 19,57% dan 19,02%.

Partai pendukung 02 hanya mampu mendulang 30,13% suara, dengan Gerindra meraih 10,91% sebagai yang tertinggi. Sisanya, partai pendukung 02 hanya memperoleh kurang dari 8% suara.

Jabar

Dominasi poros Jokowi di Jawa Timur sudah terlihat sejak Pemilihan Gubernur 2018. Saat itu, calon yang bertanding yakni Khofifah Indar Parawansa dengan Saifullah Yusuf merupakan kader PKB. Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf yang didukung oleh PDIP dan PKB akhirnya kalah dari Khofifah yang didukung PPP, Golkar, dan Nasdem.

Di Jawa Timur, partai pengusung 02 tidak punya alternatif calon. PKS dan Gerindra memilih bergabung ke Gus Ipul. Sedangkan PAN dan Demokrat mengusung Khofifah. Alhasil, siapapun yang menang dalam Pilgub, yang paling diuntungkan adalah poros Jokowi pada Pilpres 2019.

Jawa Tengah


Bergeser ke tengah, daerah yang dikenal sebagai “kandang banteng” alias basis massa PDIP, pasangan nomor urut 01 menang telak dengan perolehan 12,5 juta suara atau 77,29% berbanding 4,9 juta suara atau 22,71%. Jawa Tengah merupakan daerah dengan perolehan suara terbesar dan menjadi salah satu lumbung suara bagi pasangan 01.

Tak hanya di hajatan pilpres, koalisi pendukung 01 juga menguasai pemilu legislatif di Jawa Tengah. Secara kumulatif, partai pendukung 01 membukukan 73,37% suara dengan perincian: PDIP 29,71%, PKB 14,04%, dan Golkar 12,26%.  Partai pendukung 02 hanya meraih 26,28%, yang masing-masing partai meraih suara di bawah 10%.

Jabar

Padahal, pada Pilpres 2014, Prabowo masih mampu menggaet 33,35%. Harapan kenaikan jumlah suara pada Pilpres 2019 sempat muncul jika menilik hasil Pilkada Jawa Tengah 2018.

Calon gubernur besutan Gerindra, PKS, dan PAN, yakni Sudirman Said mampu mendulang suara hingga 41,2% melawan calon petahana Ganjar Pranowo yang merupakan kader PDIP. Tapi, tingginya suara saat Pilkada 2018 tidak mampu mendongkrak suara Prabowo-Sandi di Jawa Tengah saat pilpres tahun ini.

Simulasi Pemilu 2019 (Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA)

Simulasi Pemilu 2019 (Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA)

Sumatera Utara


Di daerah dengan jumlah DPT terbesar ke-4 yang mencapai 9,8 juta pemilih. Jokowi-Ma’ruf menang tipis 52,32%. Sementara Prabowo-Sandi 47,68%. Jumlahnya tidak jauh berbeda dibandingkan 2014.

Agak berbeda dengan perolehan Pilpres, peta suara Pileg di Sumatera Utara didominasi oleh partai pendukung 01 dengan persentase 61,81%. PDIP meraih suara terbanyak yaitu 20,95%, sedangkan Gerindra di posisi kedua 13,48%. Secara agregat partai pendukung 02 meraih 37,9% suara.

Jabar

Padahal, melihat Pilgub Sumatera Utara 2018, Edy Rahmayadi terpilih menjadi pemenang dengan suara mencapai 57,67%. Pasangan yang didukung oleh Gerindra, PKS, PAN ini mengalahkan Djarot Syaiful Hidayat yang diusung oleh PDIP dan PPP.

DKI Jakarta


Di Ibu Kota, Jokowi-Ma’ruf menang tipis dengan perolehan 3,2 juta sedangkan Prabowo-Sandi 3 juta suara atau perbandingan 51,68% dengan 48,32%. Untuk Jokowi, angka ini turun tipis dari perolehan 5 tahun lalu yaitu 53,08% berbanding 46,92%.

Di sisi Pileg, kubu pendukung Jokowi-Ma’ruf mampu mengumpulkan 53,65%. Jumlah itu ditopang oleh tingginya perolehan PDIP yang mencapai 25,27%. Partai-partai lainnya hanya meraih kurang dari 6% suara.

Jabar

Hal berbeda terjadi pada poros pendukung Prabowo-Sandi. PKS, Gerindra, dan PAN mampu menempatkan diri di posisi 2 hingga 4 dengan perolehan suara masing-masing 17,37%, 15,38%, dan 6,42%. Secara agregat, partai pendukung 02 mengumpulkan 46,09% suara di DKI Jakarta.

Melihat hasil Pilgub 2017, pasangan Gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang didukung oleh Gerindra dan PKS mengumpulkan suara 57,96% pada putaran kedua. Namun, kemenangan dan tingginya suara yang diraih pasangan ini belum mampu memenangkan pasangan Prabowo-Sandi di kancah Pilpres 2019.

Sulawesi Selatan


Di provinsi ini, terjadi pergeseran suara Jokowi dan Prabowo dibandingkan Pilpres 2014. Hasil pilpres 2019, Prabowo-Sandi menang dengan 57,02% suara. Padahal, lima tahun lalu, suara Prabowo saat itu hanya 28,57% berbanding Jokowi 71,43%.

Hasil Pilpres ini juga berbeda dengan yang tercermin dalam hasil Pileg. Partai pendukung pasangan 02 secara agregat mengumpulkan 39,54% sedangkan partai pendukung 01 sebanyak 59,91% suara.

Jabar

Golkar dan Nasdem menjadi dua partai teratas di Sulawesi Selatan dengan masing-masing 17,89% dan 14,69%. Sedangkan di kubu Prabowo, Gerindra paling tinggi dengan perolehan 13,85%. Di wilayah ini, PDIP hanya mengumpulkan 8,16% suara.

Namun, hasil Pilpres ini terlihat sejalan dengan Pilgub 2018. Gubernur terpilih Nurdin Abdullah didukung oleh PKS dan PAN yang mengumpulkan 43,87% dan Agus Arifin Nu'mang yang merupakan kader Gerindra meraih 9,85%. Alhasil secara agregat, gubernur yang didukung oleh partai pengusung 02 mencatatkan 53,75%.

Dinamika Berbeda

Secara umum, pada daerah-daerah gemuk pemilih, terlihat mesin partai lebih berperan besar mengerek elektabilitas pasangan calon presiden di Pemilu 2019. Hal ini tercermin pada kesamaan tren perolehan suara partai pendukung pada Pileg dan perolehan suara di Pilpres.

Sementara itu, peran tokoh yang menjadi pimpinan daerah belum memiliki efek besar pada suara Pilpres. Hal ini juga tergantung pada besarnya peran tokoh tersebut dalam jalannya kampanye pasangan capres dan cawapres.

***

Nazmi Haddyat Tamara