ANALISIS DATA

Ekspor Mobil Unjuk Gigi, Merek Mana yang Laris?

Performa penjualan mobil sepanjang 2019 menurun, bahkan menyentuh level terendah dalam 8 tahun terakhir. Namun, harapan baru muncul dari pasar ekspor yang terus bertumbuh.


Pasar mobil domestik tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Bahkan, angka penjualan mobil menyentuh level terendah sejak 2012. Di sisi lain, ada kabar bahagia: pasar ekspor otomotif Indonesia tumbuh pada semua kategori.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil sepanjang Januari-Mei 2019 sebanyak 422 ribu unit. Jumlahnya turun 14,7% dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 494 ribu unit.

Penurunan penjualan mobil tahun ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak 2015. Selain itu, total penjualan hingga Mei tahun ini merupakan yang terendah sejak 2012. Saat itu, penjualan mobil pada lima bulan pertama sebanyak 433 ribu unit, sedangkan pada 2011 hanya 347 ribu unit. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Toyota dan Daihatsu masih memimpin penjualan pada 2019. Dua merek di bawah Grup Astra ini menguasai lebih dari separuh pangsa pasar penjualan mobil. Masing-masing sebesar 32,2% untuk Toyota dan 19,2% untuk Daihatsu. Secara total, dua merek ini mampu menjual 216,8 ribu unit mobil sepanjang 2019.

Mitsubishi Motors, Honda, dan Suzuki menempel ketat di belakang dengan masing-masing menguasai pangsa pasar sebesar 12,5%, 12,2%, dan 9,32%. Di bawahnya, Wuling menjadi pabrikan asal Tiongkok yang mampu merangsek dengan pangsa pasar 1,5%, lebih baik dari Nissan dan Datsun yang lebih lama berada di Indonesia.

Tak jauh berbeda dari sebelumnya, kelas Low Multi Purpose Vehicle atau lebih identik dengan mobil keluarga masih menjadi kendaraan terlaris pada 2019 dengan total penjualan 102,8 ribu unit. Lebih dari 24% penjualan dikuasai oleh kelas ini dengan Toyota dan Mitsubishi di tempat teratas. 

Sementara itu, Low Cost Green Car (LCGC) atau mobil murah dan ramah lingkungan juga masih menjadi pilihan masyarakat dengan penjualan 90 ribu unit atau 21,34% dari total seluruh kelas.  Sedangkan kelas SUV hanya mengambil 15,14% pangsa pasar mobil domestik sepanjang 2019.

Harapan Baru Ekspor Mobil

Kabar baiknya, penjualan mobil dalam negeri yang melemah tidak diikuti oleh performa ekspor. Sepanjang 2019, ekspor mobil Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan di semua kategori, baik itu CBU (Completely Build Up) atau mobil jadi, CKD (Completely Knock Down) atau mobil setengah jadi, dan komponen mobil.

Ekspor otomotif Indonesia ditopang oleh pengiriman kendaraan utuh atau CBU. Pada akhir Mei, Gaikindo membukukan ekspor produk CBU sebanyak 115,5 ribu unit atau meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Ekspor itu berasal dari sebelas merek dagang. Di antaranya adalah Toyota, Daihatsu, Suzuki, Hino, Honda, Mitsubishi, Nissan, Hyundai, Chevrolet, dan Datsun.

Sedangkan ekspor CKD tercatat sebanyak 35,5 ribu unit atau hanya naik 5%. Sementara itu, 38 juta unit komponen untuk berbagai mobil juga telah diekspor sepanjang 2019. 

Secara umum, penyumbang ekspor terbesar adalah Daihatsu dengan total pengiriman 35.249 unit. Sedangkan Toyota menjadi kontributor ekspor terbesar kedua dengan mengirimkan sebanyak 25.311 unit kendaraan CBU.

Namun, Xpander menjadi mobil CBU yang paling banyak diekspor dengan total 21 ribu unit atau 18,6% dari total ekspor CBU. LMPV besutan Mitsubishi Motors ini mampu mengalahkan mobil-mobil lain, khususnya dari Toyota dan Daihatsu.

Di tempat kedua, dua mobil besutan Toyota yakni Fortuner dan Rush menempel ketat dengan total ekspor masing-masing 19,3 ribu unit dan 16,1 ribu unit. Kemudian ada Daihatsu Wigo dan Toyota Avanza dengan total ekspor 12 ribu unit dan 11 ribu unit. Terakhir, Suzuki menempatkan All New Ertiga pada deretan papan atas dengan total ekspor 8.029 unit.

Secara umum, negara yang menjadi tujuan ekspor masih seputaran Asia dan beberapa negara Amerika Latin. Ekspor otomotif Indonesia sudah merambah lebih dari 90 negara di dunia. Untuk kategori CBU, Filipina dan Vietnam menjadi tujuan utama ekspor masing-masing 30 ribu dan 17 ribu unit dengan total 40% dari ekspor CBU seluruhnya.

Bergeser ke CKD, mobil setengah jadi ini paling banyak diekspor ke Pakistan. Ekspor CKD ke negara ini mencapai 30% dengan total 13 ribu unit. Negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Myanmar juga menjadi tujuan utama ekspor CKD ini. 

Sementara itu, 38,9% ekspor komponen mobil ke Thailand sepanjang tahun ini mencapai 14 juta komponen. Negara tujuan terbanyak selanjutnya adalah Brasil dan India dengan total ekspor masing-masing 864 ribu dan 441 ribu komponen.

Peluang Besar di Ekspor Otomotif

Saat ini, Indonesia menempati posisi atas dalam daftar pelaku ekspor otomotif di Asia Tenggara, bersaing dengan Thailand, Vietnam, dan Myanmar. Gaikindo memasang target ekspor mobil CBU akan meningkat hingga 25 persen pada akhir 2019. 

Optimisme itu didasari tren pertumbuhan ekonomi global yang positif meskipun ada sentimen negatif dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Dalam jangka panjang, Gaikindo menargetkan ekspor mobil CBU Indonesia bisa mencapai 1 juta unit pada 2025. 

Optimisme ini terus terjaga berkat adanya dukungan dari pemerintah. Saat ini, pemerintah tengah mengkaji kebijakan pelonggaran izin ekspor untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan. 

Kementerian teknis, seperti Kementerian Perdagangan, misalnya, akan menyederhanakan izin ekspor melalui pengurangan laporan surveyor.

Pemerintah juga berencana mengurangi pelarangan dan pembatasan barang ekspor khusus untuk beberapa komoditas. Kebijakan itu diharapkan dapat mengakselerasi prosedur transaksi barang ke luar negeri. 

Sejak 2014, pemerintah telah memproyeksikan bahwa Indonesia bakal menjadi raksasa eksportir mobil di pasar global bersanding dengan negara eksportir otomotif lainnya, seperti Jepang dan Thailand. 

***