ANALISIS DATA

Pandemi Covid-19 yang Terlambat Diantisipasi Indonesia


Andrea Lidwina

26/03/2020, 10.00 WIB

Ilustrasi: Joshua Siringoringo

Ketika negara-negara lain buru-buru menutup pintu setelah virus Corona muncul di Wuhan, Presiden Jokowi dalam rapat terbatas kabinet 17 Februari 2020 justru meminta industri pariwisata nasional memberikan diskon bagi turis asing.


Akhirnya tujuh belas hari setelah kasus pertama diumumkan, Presiden Joko Widodo memerintahkan pelaksanaan tes cepat virus corona secara massal. Hal ini untuk mendeteksi dini orang-orang yang diindikasikan terjangkit Covid-19. Dengan demikian dapat membatasi risiko penularan antar-individu di tanah air.

Indonesia sebetulnya bukan negara pertama di Asia Tenggara yang terjangkit corona. Thailand telah mengumumkan kasus corona pertama pada 21 Januari 2020 yang disusul Singapura dan Vietnam tiga hari kemudian. Sementara Indonesia baru mengumumkan pada 2 Maret, yakni 41 hari setelah kasus pertama di Thailand atau 61 hari setelah pandemi Covid-19 merebak di Wuhan, Tiongkok.

Meski paling belakang, tapi pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia termasuk yang tercepat. Indonesia hanya butuh 12 hari untuk mencapai 50 kasus pertama. Padahal, Singapura perlu 21 hari dan Malaysia 39 hari. Catatan terlama ada pada Vietnam yang mampu menahan hingga 52 hari untuk mencapai kasus ke-50. Bahkan 16 kasus pertamanya berhasil dinyatakan sembuh.

Keberhasilan Vietnam tak lepas dari upaya pencegahan dini saat wabah virus corona merebak di Tiongkok. “Vietnam sudah melakukan tindakan respons pada tahap awal wabah dengan kerja sama multisektor,” kata perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Vietnam Kidong Park, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Di bidang kesehatan, pemerintah menyiapkan segala skenario untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Di dalamnya termasuk manajemen kasus dan kapasitas fasilitas kesehatan. Otoritas kesehatan juga menyampaikan perkembangan terbaru pandemi ke masyarakat setiap hari.

Lalu, membatalkan semua penerbangan dan paket perjalanan dari atau ke negara-negara terinfeksi; meningkatkan pengawasan di daerah perbatasan, terutama dengan Tiongkok; memperpanjang libur tahun baru Imlek bagi sekolah dan universitas hingga akhir Maret 2020; dan mendata warganya yang tinggal di negara terinfeksi jika membutuhkan bantuan.

Selain itu, pemerintah Vietnam bersikap terbuka pada publik mengenai kasus-kasus yang terjadi dan melakukan komunikasi risiko yang jelas. Langkah ini membuat masyarakat lebih kooperatif untuk mencegah penyebaran virus corona, seperti tidak bepergian keluar rumah dan meminta dites oleh tenaga kesehatan jika memiliki gejala virus itu.

Langkah preventif juga dilakukan Singapura. Negara ini belajar dari pengalaman wabah SARS pada 2003 yang mengakibatkan 33 orang meninggal dunia. Pemerintah membangun sistem kesehatan publik untuk penanganan epidemi dan mengirimkan imbauan resmi pada masyarakat untuk rajin mencuci tangan, terutama saat musim flu.

“Di masa tenang, kami merencanakan penanganan untuk epidemi seperti ini,” ujar Wakil Direktur Divisi Penyakit Menular Singapura Lalitha Kurupatham, seperti dikutip dari The New York Times.

Dengan melakukan langkah tersebut, rasio korban meninggal di Singapura termasuk rendah. Dari 432 kasus terkonfirmasi positif, ada 2 pasien yang meninggal per 22 Maret 2020. Sementara pasien yang berhasil sembuh sebanyak 140 orang, menjadi yang terbanyak di Asia Tenggara.

Ketika kasus virus corona muncul di Singapura, pemerintah setempat melakukan penanganan dengan menelusuri kontak para pasien terinfeksi. Kementerian Kesehatan, dilansir dari The Diplomat, mewawancarai pasien untuk mengetahui aktivitas dan orang-orang yang berkontak dekat dengannya dalam 24 jam terakhir. Mereka akan turut dikarantina dan diobservasi.

Penelurusan kontak ini juga dirilis di situs pemerintah sehingga masyarakat yang mengunjungi tempat yang sama dengan pasien bisa memeriksakan diri ke rumah sakit secara gratis atau menghindari fasilitas publik. Alhasil, laju penyebaran virus corona di Singapura bisa ditekan.

Jika membandingkan kasus virus corona di Asia Tenggara, Indonesia sebetulnya memiliki waktu yang lebih panjang untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. Namun sejumlah pejabat negara malah menganggap enteng dan menjadikan ancaman virus sebagai lelucon. Ketika sejumlah negara mulai menutup pintu dari luar negeri, dalam rapat terbatas kabinet pada 17 Februari 2020, presiden justru meminta industri pariwisata nasional mengambil peluang tersebut. Caranya, dengan memberikan diskon bagi wisatawan yang ingin datang ke tanah air.

Peta Sebaran Virus Corona di Indonesia

Sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 pun kewalahan menangani masyarakat yang ingin memeriksakan diri. Misalnya, hanya ditanyai gejala dan diperbolehkan pulang tanpa diperiksa atau dirujuk ke rumah sakit lain. Padahal, mereka sempat melakukan kontak dekat dengan pasien terinfeksi.

Tak hanya itu, dikutip dari Kompas.com, Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Muhammad Adib Khumaidi mengatakan beberapa rumah sakit belum memiliki fasilitas yang memadai, seperti ruang isolasi dan perawatan.

Akibatnya, terjadi peningkatan kasus secara signifikan di Indonesia. Jumlah kasus baru rata-rata mencapai 50 kasus per hari dalam sepekan terakhir. Tingkat kematiannya sebesar 8,4 persen atau paling tinggi di Asia Tenggara, sedangkan tingkat kesembuhannya baru 4,4 persen.

Oleh karena itu, beberapa pemerintah daerah menetapkan kebijakan social distancing untuk menahan laju penyebaran virus corona, seperti sistem bekerja dari rumah dan proses belajar-mengajar secara online sampai akhir Maret 2020. Jokowi juga mengimbau untuk menunda kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang.

 Meski begitu, menerapkan social distancing saja belum cukup untuk mengatasi penyebaran Covid-19. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan semua negara harus mengombinasikan beberapa langkah penanganan.

 Menurutnya, langkah paling efektif adalah melakukan pemeriksaan, isolasi, dan penelusuran kontak. Dengan begitu dapat memutus rantai transmisi virus. “Kita tidak bisa menghentikan pandemi ini jika kita tidak mengetahui siapa saja yang terinfeksi,” ujar Tedros.

***

Safrezi Fitra

Editor | Sejak pertama mengawali profesi sebagai wartawan pada 2008, Safrezi selalu membidangi sektor ekonomi dan bisnis. Dia bergabung dengan KATADATA sejak April 2014, dan sebelumnya berkarir di media online Okezone, harian Indonesia Finance Today, dan majalah mingguan Bloomberg Businessweek Indonesia.