Industri kedai kopi lokal di Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah meningkatnya boikot berbagai produsen yang diduga terafiliasi Israel imbas eskalasi genosida di Palestina, jenama kedai kopi lokal seperti Janji Jiwa, Tuku, dan Fore semakin mendominasi pasar yang dulunya kuat dikuasai pemain global.
Laporan Momentum Works pada akhir 2023, Coffee in Southeast Asia: Modernising Retail of the Daily Beverage, menyebut Indonesia merajai pasar kopi modern di Asia Tenggara. Besaran pasarnya ditaksir mencapai US$947 juta atau setara Rp14,8 triliun (kurs Rp15.633, November 2023). Nilai itu setara dengan 27,7% dari total nilai pasar kopi di Asia Tenggara yang mencapai US$3,4 miliar.
Menurut perusahaan riset yang bermarkas di Singapura tersebut, besarnya pasar kopi di Indonesia sebagian besar didorong oleh ekspansi jaringan usaha kopi lokal.
Adapun data United States Department of Agriculture (USDA), dalam laporan Indonesia: Food Service-Hotel Restaurant Institutional, menunjukkan banyaknya jumlah gerai yang dimiliki Janji Jiwa dan Kopi Kenangan ketimbang Starbucks. Jenama yang disebut terakhir itu berasal dari Amerika Serikat dan sudah beroperasi di Indonesia sejak 2002.
Melantainya PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) di Bursa Efek Indonesia juga menjadi contoh tumbuhnya ekspansi kedai lokal. FORE resmi masuk bursa pada 14 April 2025 dengan menawarkan 1,88 miliar lembar saham di harga Rp188 per lembar. Sahamnya langsung melonjak 34% ke level Rp252 pada hari pertama perdagangan.
Dalam prospektusnya, FORE menargetkan perolehan dana IPO sebesar Rp353,44 miliar. Sebanyak Rp275 miliar dari dana tersebut akan digunakan untuk membuka 140 gerai baru. Sementara itu, Rp60 miliar akan dialokasikan kepada anak usaha mereka, PT Cipta Favorit Indonesia, guna membuka 30 outlet anyar hingga 2027.
Sisa dananya bakal dipakai untuk modal kerja, termasuk untuk pembelian bahan baku seperti biji kopi, gula/sirup, susu, bubuk minuman, kemasan, hingga biaya sewa dan utilitas kedai.
Di atas kertas, kinerja keuangan FORE dalam tiga tahun terakhir menunjukkan perbaikan signifikan setelah terdampak pandemi. Pada 2021, FORE mencatat kerugian Rp33,8 miliar, yang kemudian membengkak menjadi Rp59,9 miliar setahun setelahnya. Namun, pada 2023, FORE berhasil membalikkan keadaan dengan mencetak laba sebesar Rp1,2 miliar.
Laba bersih FORE bahkan melonjak menjadi Rp41,4 miliar hanya dalam sembilan bulan pertama 2024. Pendapatan bersihnya naik lebih dari 577% sejak 2021. Total asetnya juga tumbuh 275,5% dalam periode yang sama.
Menurut CEO perusahaan riset investasi THINK, Sumadi Surianto, keberhasilan FORE tak lepas dari kemampuannya memosisikan diri sejajar dengan Starbucks namun dengan harga yang lebih terjangkau. “Ini yang membuat FORE berhasil,” ujarnya dalam siniar THINK pada 19 April lalu.
Starbucks bisa dibilang cukup dirugikan karena sentimen anti-Israel. International Coffee Organization, misalnya, mencatat Indonesia menduduki peringkat kedua se-Asia Pasifik setelah Jepang dalam konsumsi kopi. Pertumbuhannya pun signifikan sepanjang 2021-2023. Sayangnya, pertumbuhan konsumsi itu tidak sejalan dengan pendapatan Starbucks di Indonesia.
PT Sari Coffee Indonesia, anak usaha MAP Boga Adiperkasa (MAPB) sekaligus pemegang lisensi Starbucks di Indonesia, mengaku terdampak gerakan boikot tersebut. “Penjualan secara keseluruhan turun hingga 35%,” kata Liryawati, Chief Marketing Officer PT Sari Coffee Indonesia, 29 Februari 2024. Starbucks sendiri berkali-kali menyatakan tak memiliki hubungan dengan Israel, termasuk memberi dukungan finansial.
Dari tujuh entitas anak usaha MAPB, lima di antaranya bergerak di sektor makanan dan minuman. Berdasarkan laporan keuangan MAPB, pendapatan dari segmen minuman selalu menjadi yang terbesar, mencatatkan proporsi rata-rata hingga 59% selama empat tahun terakhir.
Data di atas menunjukkan bahwa total pendapatan MAPB mengalami peningkatan dari tahun 2021 ke 2023, tetapi mengalami penurunan yang signifikan di tahun 2024. Penjualan minuman menduduki posisi kedua dengan proporsi penurunan tertinggi, yakni 24,7%. Nilainya merosot dari Rp2,3 triliun pada 2023 menjadi Rp1,7 triliun pada 2024.
Pergeseran ini juga tercermin dari indeks yang dikeluarkan Top Brand. Pada 2021, indeks Starbucks tercatat 49,4%, turun menjadi 49% pada 2023, dan terus melemah ke level 48,5% pada 2024.
Pada saat bersamaan, tren indeks Janji Jiwa, salah satu jenama lokal lainnya, meningkat. Gap antara Starbucks dan Janji Jiwa yang sebelumnya berjarak sekitar 10% menyempit menjadi hanya 3,7% pada 2024. Kenaikan tren Janji Jiwa menandakan bahwa konsumen tidak hanya meninggalkan Starbucks, tetapi juga secara aktif mencari alternatif kedai lokal.
Starbucks memang salah satu yang menjadi sorotan dari gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (DBS Movement) secara global, apalagi di Indonesia. Pada November 2023, sebulan setelah perang Israel-Palestina meletus, Majelis Ulama Indonesia bahkan mengeluarkan fatwa haram bagi muslim yang membeli produk-produk dari jenama tertentu yang diduga terafiliasi dengan Israel.
USDA pun mencatat Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat di dunia. Sepanjang 2019-2024, rata-rata produksi tahunan produksi kopi negara ini mencapai 10,2 juta kantong berukuran 60 kilogram. Sedangkan konsumsi domestik bergerak naik di kisaran 4,5–4,8 juta kantong.
Kesenjangan antara produksi dan konsumsi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki surplus kopi yang cukup besar. Ini membuka peluang bagi pertumbuhan kedai kopi lokal: mereka bisa mengakses kopi dengan pasokan stabil dengan harga dan kualitas yang kompetitif.
Kopi Indonesia dipersepsikan sebagai produk berkualitas tinggi di pasar internasional. Pada 2021, sebanyak 36 varietas kopi Indonesia mendapat pengakuan dari Coffee Cupping Internasional. Lalu 40% biji kopi Starbucks secara global, misalnya, menurut Liryawati, disuplai dari Indonesia.
Dengan ketersediaan produksi kopi lokal yang melimpah dan meningkatnya sentimen konsumen, merek-merek kopi lokal memiliki peluang besar untuk mengakselerasi ekspansi dan memperluas pangsa pasar, baik dari sisi volume penjualan maupun loyalitas pelanggan.
Editor: Aria W. Yudhistira
