Dari atas sepeda motor listrik yang ia kendarai sendiri, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membelah Distrik Agats, Asmat, Papua Selatan. Di sepanjang sisi jalan, masyarakat berbaris merekam momen yang berlangsung pada 21 Juni itu dengan gawai. Mereka mungkin mengalami dejavu, sebab delapan tahun lalu, Joko Widodo (Jokowi), ayah Gibran, juga berkeliling sambil menunggangi sepeda motor di area yang sama.
Dua hari sebelum bertolak ke Asmat, Gibran lebih dulu mengunjungi Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Di tengah gelombang demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di Jakarta, ia mengajak lima mahasiswa turun langsung ke lapangan untuk meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Gibran memang doyan sowan ke daerah. Sejak dilantik hingga paruh pertama 2026, ia sudah melakukan 321 kunjungan kerja (kunker) ke berbagai wilayah di tanah air. Jumlahnya bahkan melampaui kunjungan kerja Jokowi pada periode yang sama saat menjabat sebagai presiden pada 2014 silam, yakni 275 kunker.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto tercatat hanya melakukan 157 kunjungan kerja domestik. Berbeda dengan Gibran, agenda Prabowo lebih banyak ke luar negeri, menghadiri pertemuan bilateral, forum multilateral, maupun kunjungan kenegaraan.
Tradisi turun langsung ke lapangan atau yang populer disebut blusukan telah lama menjadi identitas politik Jokowi. Sejak menjabat Wali Kota Solo, Jokowi membangun citra sebagai pemimpin yang lebih sering mendatangi warga ketimbang menunggu laporan di balik meja.
“Saya sering turun ke bawah, ke daerah, ke masyarakat, menggali masalah-masalah mereka, mendengarkan aspirasi dan keinginan mereka, mengetahui secara detail kepentingan masyarakat,” kata Jokowi pada 2017.
Aktivitas Gibran yang intens turun ke daerah dinilai bukan rutinitas yang lazim bagi seorang wakil presiden. Pendiri lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio melihat pola kunjungan itu sebagai upaya mengadopsi gaya politik Jokowi.
“Guru politik Gibran itu ayahnya. Jadi, dia akan meniru apa yang ayahnya lakukan,” ujar Hendri kepada Katadata, 24 Juni.
Manjurnya Blusukan
Selama lebih dari satu dekade, blusukan menjadi salah satu strategi komunikasi politik yang paling melekat pada Jokowi. Turun langsung ke lapangan, menyapa warga, dan meninjau persoalan di daerah bukan hanya membentuk citra Jokowi sebagai pemimpin yang merakyat, tetapi juga mengubah cara politisi berinteraksi dengan publik.
Belakangan, pola itu lumrah diikuti kepala daerah, menteri, hingga pejabat negara lainnya. Namun, blusukan tidak melulu dimaknai sebagai ruang partisipatif. Sejumlah pengamat, bahkan hasil penelitian, menilai praktik ini juga kerap digunakan semata-mata demi pencitraan belaka.
Rotinga & Regif (2024), misalnya, menyebut blusukan mampu memperkuat persepsi publik terhadap politisi sebagai sosok yang ramah, jujur, dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam kasus Jokowi, strategi itu turut membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, sebuah karakter yang kemudian menjadi modal politik penting sepanjang kariernya.
Citra itu bahkan masih menjadi salah satu kriteria pemimpin yang diinginkan publik menjelang Pemilu 2024. Survei menunjukkan bahwa selain menginginkan pemimpin yang bersih dari korupsi, masyarakat juga menaruh perhatian besar pada sosok yang perhatian pada rakyat.
Di sisi lain, blusukan juga menjadi kesempatan langka bagi warga untuk berinteraksi langsung dengan pejabat negara. Sebagian memanfaatkannya untuk menyampaikan aspirasi atau sekadar mengabadikan momen lewat swafoto. Tak sedikit yang datang demi mendapat bingkisan.
Bingkisan itu bisa berasal dari bantuan sosial pemerintah maupun dana operasional pejabat negara. Salah satu contohnya terjadi pada akhir 2024, ketika Gibran membagikan tas berlabel “Bantuan Wapres Gibran” kepada warga terdampak banjir di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Hasan Nasbi, yang saat itu menjabat Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, mengatakan bantuan tersebut menggunakan dana operasional Wakil Presiden.
Menurut peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute Made Supriatma, pola blusukan yang dilakukan Gibran memiliki kemiripan dengan strategi politik Jokowi.
“Blusukan tidak hanya sekadar politisi bersimpati kepada rakyat, tapi juga image-making bahwa mereka itu merakyat dan populis. Tapi posisi sentralnya, blusukan ini adalah mobilisasi elektoral. Dan itu alat yang sangat manjur,” kata Made kepada Katadata, Kamis, 2 Juli.
Made menilai, periode awal pemerintahan menjadi momentum yang tepat buat Gibran untuk mulai mencicil modal politiknya. Intensitas kunjungan ke daerah, menurutnya, dapat menjadi investasi politik jangka panjang, baik untuk mempertahankan posisinya sebagai calon wakil presiden maupun untuk membuka peluang sebagai calon presiden pada Pemilu 2029.
Elektabilitas Gibran saat ini pun di atas angin. Dalam survei Poltracking pada Maret 2026, Gibran masih merupakan top of mind calon wakil presiden jika pemilu dilakukan saat ini. Sedangkan sebagai calon presiden, Gibran adalah top of mind keempat setelah Prabowo, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
“Profil Gibran semakin hari semakin naik,” kata Made.
Di sisi lain, kunjungan kerja dalam negeri Prabowo yang cenderung lebih sedikit dapat berpengaruh pada penurunan elektabilitasnya. Made menilai, kebijakan Prabowo melakukan efisiensi anggaran daerah juga sedikit banyak bakal memengaruhi elektoralnya.
“Banyak pemerintah daerah yang tidak suka, dan itu berpengaruh besar. Berbeda dengan Jokowi yang memperlakukan kepala-kepala daerah seperti sekutu politiknya,” kata Made.
Pengaruh Jokowi Masih Ampuh
Jokowi memang sudah menurunkan ilmu blusukan-nya ke Gibran, tetapi ia belum benar-benar meninggalkannya. Meski sudah menjadi warga biasa, ia sedang menjalani tur politiknya bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). PSI kini dipimpin putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep.
Jokowi memulai safarinya dari Lampung pada 26 Juni lalu. Setelah itu, ia dijadwalkan berkunjung ke NTT. Ketua DPP PSI Bestari Barus menyebut, pemilihan lokasi tur Jokowi salah satunya berdasarkan kedekatan emosionalnya dengan suatu daerah. Kedua provinsi ini memang merupakan kantung suara Jokowi pada Pemilu 2019.
Made menaksir, blusukan Gibran dan Jokowi nantinya bakal saling bersinggungan, terutama di daerah-daerah yang merupakan basis suara Jokowi pada Pemilu 2019. Dengan itu, elektabilitas Gibran perlahan akan semakin terdongkrak.
Berdasarkan lokasi kunjungan kerjanya, Gibran memang tercatat mengunjungi sejumlah kabupaten/kota di provinsi yang merupakan basis suara kuat Jokowi pada Pemilu 2019, seperti Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
Arah dukungan Jokowi pada Pemilu 2029 masih akan sangat relevan. Survei Poltracking menunjukkan, dukungan Jokowi terhadap salah satu pasangan calon akan lebih kuat mempengaruhi pemilih untuk memilih pasangan tersebut. Pengaruh tersebut lebih kuat daripada dukungan tokoh-tokoh politik kuat lainnya seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau Megawati Soekarnoputri.
Pada Pemilu 2024, blusukan Jokowi terbukti ampuh mendongkrak elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran. Setelah Jokowi secara terbuka menunjukkan dukungannya kepada Prabowo dan melakukan kunjungan ke sejumlah daerah, elektabilitas Prabowo sebagai calon presiden saat itu merangkak naik.
Selama masa kampanye, Jokowi secara intensif blusukan ke Jawa Tengah (Jateng). Baik untuk meresmikan proyek pemerintah, menyalurkan bansos, maupun memberikan sertifikat tanah. Saat itu, santer dugaan bahwa Jokowi ke Jateng untuk mengamankan basis suara Prabowo-Gibran.
Jateng telah lama dikenal sebagai “kandang banteng”, kantong suara terbesar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sebelum Jokowi menjatuhkan dukungannya kepada Prabowo, elektabilitas paslon yang didukung PDIP, Ganjar-Mahfud, menikmati pucuk tertinggi di sana.
Apa lacur, elektabilitas Ganjar-Mahfud langsung tergerus setelah Jokowi bermanuver. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo-Gibran terus naik hingga tembus 50%.
Editor: Muhammad Almer Sidqi
