Advertisement
Analisis | Mikrodrama ala Dracin jadi Primadona Baru Industri Hiburan di Indonesia - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Mikrodrama ala Dracin jadi Primadona Baru Industri Hiburan di Indonesia

Foto: Katadata/Bintan Insani
Cerita CEO yang menyamar, balas dendam keluarga, atau cinderella modern adalah formula mikrodrama Cina (dracin) yang digemari penonton. Format tontonan ini populer di Indonesia, dan sejumlah perusahaan mulai ikut menjajal bisnis tayangan vertikal ini.
Reza Pahlevi
8 Agustus 2026, 16.25
Button AI SummarizeBuat ringkasan dengan AI

Seorang kurir paruh baya diusir petugas keamanan ketika ingin mengantar paket ke dalam gedung perkantoran. Saat si kurir bersiap dengan skuternya, serombongan eksekutif perusahaan beserta para staf berlarian dari dalam gedung dan menghampirinya sambil membungkuk hormat.

“Selamat datang Pak Lin. Silakan masuk,” kata si direktur. 

Ternyata kurir tersebut adalah Lin Jinrui, pemimpin konglomerasi Sixiang yang sudah pensiun. Karena bosan, dia pura-pura menjadi kurir sambil mengawasi jalannya perusahaan yang dia tinggalkan. 

Saat berjalan masuk ke dalam gedung kantor, sang “kurir” melirik sambil tersenyum ke petugas yang mengusirnya. Layar pun gelap dan muncul tombol “Lanjutkan Episode Selanjutnya”.

Itu adalah potongan cerita mikrodrama Cina atau dracin berjudul “Stop Spoiling Me, Dad”. Drama berdurasi 1-3 menit yang tayang secara vertikal ini semakin populer beberapa tahun terakhir. Potongan ceritanya bertebaran di TikTok, YouTube, dan kanal media sosial lain yang memikat calon penonton baru.

“CEO yang menyamar” begitu ungkapan yang sering kita lihat di media sosial. Meski sudah berulang kali direplikasi dengan kemasan berbeda, dracin tetap tak kehilangan penggemar. Salah satunya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengaku menikmati drama pendek ini sebagai penghibur kala merasa stres. 

Dracin digemari karena formatnya yang pendek. Menurut mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini, drama panjang membosankan. “Menghibur, kadang-kadang ceritanya mirip-mirip, tapi ditonton aja udah,” kata Purbaya dalam wawancara bersama CXO Media, September tahun lalu.

Dramanya Singkat, Perkembangannya Pesat

Dracin mulai diproduksi secara massal sejak 2018. iQIYI adalah platform tayangan digital pertama yang menayangkannya lewat serial komedi “Oh My Life”. Kesuksesan iQIYI lantas diikuti platform lainnya, termasuk Douyin yang merupakan versi asli TikTok yang dibuat khusus untuk pasar Cina.

Popularitas dracin meledak pada 2020, saat pandemi Covid-19. Seperti dikutip dari media teknologi Cina TMT Post, industri film dan televisi Cina beralih memproduksi mikrodrama setelah bisnis mereka terpukul pandemi. Alasannya, biaya produksi mikrodrama lebih murah dan waktu produksi lebih cepat.

Lembaga riset pasar Cina, iResearch mencatat nilai pasar mikrodrama naik dari 210 juta yuan (Rp460 miliar) pada 2019 menjadi 48,46 miliar yuan (Rp106,6 triliun) pada 2024. Angka ini mencakup seluruh nilai ekonomi dari industri mikrodrama, termasuk biaya langganan, iklan, hingga pembagian keuntungan atau distribusi hak cipta konten.

Sukses di Cina, perkembangan mikrodrama mulai meluas ke negara-negara Asia lain, bahkan ke Amerika Utara dan Eropa. Korea Selatan yang industri serial televisinya sudah mapan pun menjajal medium cerita ini.

Laporan Media Partners Asia memproyeksi industri mikrodrama secara global dapat tumbuh rata-rata 29,5% secara tahunan dari 2025 hingga 2030. Pasar di luar Cina akan jadi pendorong utama pertumbuhan. Pangsa pasarnya diproyeksi naik dari 22% menjadi 37%.

Akademisi Kajian Budaya Institut Seni Indonesia Anwar Kurniawan menjelaskan popularitas dracin di Indonesia berasal dari plotnya yang “begitu-begitu saja”. Menurutnya, ini memberi kenyamanan untuk penonton ketika melihat orang jahat dipermalukan, orang baik mendapat imbalan, dan kekayaan seolah tak terbatas.

“Hal ini jelas bermakna signifikan bagi penonton Indonesia,” tulis Anwar, dikutip dari The Conversation Indonesia.

Anwar mengatakan penonton Indonesia membutuhkan tontonan dengan akhir cerita bahagia. Terutama di tengah perjuangan ketahanan ekonomi pascapandemi yang penuh ketidakpastian dan stagnasi, serta ketidakadilan struktural dan kesenjangan kelas.

Berebut Penonton Mikrodrama di Indonesia

Potensi pasar yang besar membuat sejumlah perusahaan di Tanah Air mulai melirik mikrodrama ala dracin. Survei IDN Research Institute pada 2025 mencatat 61% milenial dan generasi Z menonton mikrodrama secara rutin. Di sisi lain, hanya 8% responden yang mengaku belum pernah menonton sama sekali.

IDN Media tercatat menjadi perusahaan pertama yang meluncurkan layanan mikrodrama lewat fitur NONTON di aplikasi IDN pada 18 Maret 2025. Grup Emtek mengekor dengan meluncurkan fitur Short Drama dalam aplikasi tayangan digital Vidio pada Mei 2025. Keduanya menyasar pasar Indonesia dengan konten drama Asia dan asli Indonesia.

Terbaru, grup MNC meluncurkan aplikasi terpisah V+Short khusus untuk mikrodrama pada 8 Mei 2026. Berbeda dengan IDN dan Emtek, V+Short turut menyasar pasar di luar Indonesia dengan melakukan alih bahasa kontennya ke tujuh bahasa berbeda.

Ketiga platform menggunakan strategi monetisasi serupa. Mereka menggratiskan beberapa episode awal di setiap judul, lalu mengunci episode sisanya. Meski begitu, Vidio menggratiskan seluruh episode untuk beberapa judul mikrodrama pilihan.

Beberapa judul yang dipilih tersebut adalah hasil adaptasi sinetron dalam arsip Emtek ke layar vertikal. V+Short yang memiliki arsip berlimpah dari MNC juga melakukan adaptasi ini, tetapi mereka tidak menayangkan gratis seluruh episodenya.

IDN dan V+Short menawarkan biaya berlangganan mingguan atau bulanan. Sementara, Vidio menjual koin untuk membuka episode baru yang terkunci, ditambah opsi menonton iklan untuk mendapat koin gratis.

Head of IDN App Zefanya Deby menjelaskan tren mikrodrama dapat tumbuh pesat karena memendeknya rentang perhatian kebanyakan penonton. Selain itu, penonton butuh kepuasan yang instan. 

“Mereka cenderung menonton serial hingga selesai untuk merasa puas, meski alur ceritanya mudah ditebak,” katanya dalam laporan IDN Research Institute yang diluncurkan Juni 2026.

Zefanya optimistis tren mikrodrama ini akan berlangsung lama, apalagi jumlah dan kualitas kontennya terus meningkat. Produksi yang lebih efisien dari film layar lebar memungkinkan medium ini untuk tumbuh signifikan.

Teknologi AI Kunci Pertumbuhan Industri?

Teknologi akal imitasi atau AI bisa menjadi kunci pertumbuhan industri mikrodrama. Di Cina, laporan Guangming Daily mencatat 95% judul mikrodrama baru diproduksi dengan AI pada kuartal I-2026.

Di Indonesia, MNC berencana menggunakan AI untuk membantu produksi mikrodrama. Mereka menargetkan memproduksi 47 judul serial AI pada tahun ini.

Penggunaan AI rencananya dilakukan dalam seluruh tahap produksi. Mulai dari pembuatan naskah, penyuntingan, hingga penciptaan aktor virtual. MNC yakin adopsi AI dapat memangkas dua per tiga biaya produksi dan membantu produksi dua kali lebih cepat.

Laporan Honeywater Tech mencatat 89% pengguna di platform memang ingin menonton lebih banyak mikrodrama AI. Sebagai konteks, Honeywater adalah pemilik platform MyDrama yang populer di Eropa, juga platform MyMuse yang khusus menayangkan drama AI.

“Bagi penonton, hal yang paling menarik bukanlah fakta bahwa konten tersebut adalah AI, melainkan keinginan untuk mendapatkan lebih banyak cerita,” ujar CEO Honeywater Chris Kotz dalam laporannya.

Di sisi lain, adopsi AI ini menyebabkan pekerja televisi dan film semakin rentan. Data Ebrun, lembaga riset industri digital di Cina, menemukan lebih dari 60% kru produksi mikrodrama menganggur usai Tahun Baru Imlek. Dampak ini juga dirasakan aktor kelas menengah yang gajinya dipotong setengah.

Terlepas dari banyak hal yang dijanjikan AI, sejumlah ahli melihat masih banyak batasannya. Dekan Fakultas Drama, Film, dan Televisi Universitas Komunikasi Cina, Sun Bin mengatakan AI memang membantu produksi lebih banyak, tetapi kualitas produksinya masih dipertanyakan.

Selain itu, Sun juga menyoroti AI yang masih belum bisa menyerupai peliknya ekspresi manusia. “AI tidak punya nyawa, kebahagiaan, kemarahan, atau kesedihan, semua emosinya hanya imitasi data,” katanya, dikutip dari Channel News Asia, 5 Juli 2026.

Dia memprediksi, penggunaan AI akan berkurang seiring regulasi yang lebih ketat dan selera penonton yang meningkat. Saat ini, konten AI digemari karena penonton masih melihatnya sebagai teknologi baru, bukan karena benar-benar ingin menikmati jalan ceritanya.

Editor: Aria W. Yudhistira


Buka di Aplikasi Katadata untuk pengalaman terbaik!

icon newspaper

Tanpa Iklan

Baca berita lebih nyaman

icon trending

Pilih Topik

Sesuai minat Anda

icon ai

Fitur AI

Lebih mudah berbagi artikel

icon star

Baca Nanti

Bagi Anda yang sibuk