Pemulihan Ekonomi Pascapandemi Belum Akomodir Prinsip Keberlanjutan

Empat pilar daya saing daerah berkelanjutan jadi solusi pemulihan ekonomi pascapandemi.
Image title
Oleh Hanna Farah Vania - Tim Riset dan Publikasi
8 Oktober 2020, 20:48
Pengrajin menyelesaikan pembuatan topeng batik di desa Bobung, Gunung Kidul.
Donang Wahyu|KATADATA

Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menilai pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 belum mengakomodir prinsip-prinsip keberlanjutan. Padahal pemulihan berkelanjutan memainkan peran kunci untuk bangkit, terutama bagi daerah-daerah.

“Nampaknya program pemulihan ekonomi nasional belum mencerminkan keempat pilar pembangunan berkelanjutan,” ujar Peneliti KPPOD Sarah Hasibuan pada webinar Daya Saing Daerah Berkelanjutan Award berjudul “Daya Saing Daerah, Kunci Pemulihan Indonesia dari Pandemi” yang digelar Katadata bekerja sama dengan KPPOD dan Kinara Indonesia, Kamis (8/10).

Webinar tersebut dihadiri Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi, Sekretariat SDGs Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Setyo Budiantoro, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, Co-founder Du Anyam Hanna Keraf, dan Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati.

Sarah mengungkapkan, ada empat pilar keberlanjutan yang mesti diperhatikan untuk pemulihan pascapandemi yakni lingkungan lestari, ekonomi unggul, sosial inklusif, dan tata kelola yang baik. Di sinilah pentingnya sinergi dari keempat pilar tersebut. Ia mencontohkan, daerah yang bertumpu pada satu sektor pertumbuhan saja akan kesulitan bertahan di masa pandemi.

“Daerah yang menggantungkan pertumbuhan pada sektor jasa misalnya. Ketika mengalami pandemi daerah ini mengalami kontraksi,” tuturnya.

Oleh karenanya KPPOD merekomendasikan tiga hal untuk meningkatkan daya saing daerah yang berkelanjutan. Hal ini penting sebab daerah merupakan kunci bagi pemulihan pembangunan Indonesia. Rekomendasi tersebut antara lain daya saing daerah berkelanjutan dijadikan kunci pemulihan ekonomi dan membuat kebijakan yang variatif dan adaptif sesuai  karakter daerah.

Selain itu, Sarah mengatakan, perlu membuat kebijakan proporsional untuk menyelesaikan dikotomi antara isu ekonomi dengan pilar-pilar lain yang menjadi masalah bersama.

Dalam rangka meningkatkan daya saing daerah, KPPOD bersama dengan Katadata Insight Center dan Kinara Indonesia menggelar inisiatif Daya Saing Daerah Berkelanjutan Award untuk mendorong praktik keberlanjutan dalam pembangunan sebagai landasan peningkatan daya saing daerah. Daya saing yang meningkat akan memperkuat ketahanan daerah.

Pengukuran indeks daya saing berkelanjutan mengacu pada empat elemen yakni lingkungan lestari, sosial inklusif, ekonomi, dan tata kelola yang baik.

Menurut Nur Hidayati, strategi pemulihan tak hanya sekedar kembali seperti semula tetapi berfokus pada keberlanjutan. Jangan hanya terpaku pada pertumbuhan namun juga memperhatikan kesejahteraan dan kehidupan yang bermartabat, perawatan ekosistem lingkungan hidup, serta perekonomian sirkular berbasis alam.

Adapun Setyo Budiantoro mengatakan, sejalan dengan pemulihan berkelanjutan yang inklusif, Bappenas berupaya menuangkan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Perencanaan tersebut memuat 319 indikator yang melibatkan berbagai aktor kunci.

Menurutnya, pemerintah daerah dapat menjadi dirigen untuk menyinergikan daya saing berkelanjutan dengan mengumpulkan seluruh potensi pemangku kepentingan.

Optimalkan Potensi Daerah

I Nyoman Suwirta meyakini dalam pemulihan pascapandemi, daerah tidak boleh mengandalkan satu sektor saja. Apalagi Klungkung yang bergantung pada bisnis pariwisata di Bali terkena hantaman telak. Namun, Suwirta mencoba membangkitkan kembali daerahnya dengan potensi lain.

Dalam sektor pertanian misalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung berkolaborasi dengan Pemerintah Kanada. “Sekarang menggalakan sektor pertanian dan kelautan kembali,” ujarnya.

Pemkab Klungkung juga memfasilitasi industri kecil menengah (IKM) dari hulu ke hilir. Memberikan pemahaman tentang penambahan nilai produk melalui inovasi pengolahan, branding, pembuatan kemasan, hingga standardisasi dan sertifikasi.

Adapun Hanna Keraf yang merintis usaha sosial di bidang kriya berupaya mengoptimalkan potensi di daerah. Hingga saat ini Du Anyam telah memberdayakan 54 desa dan meningkatkan pendapatan mereka hingga 40 persen lewat menganyam.

Upaya memperluas jaringan pemberdayaan masyarakat juga dilakukan, khususnya bagi perempuan di desa. Du Anyam juga mendorong terciptanya ekosistem terpadu untuk memastikan rantai pasok bagi UMKM kriya lokal.

Video Pilihan

Artikel Terkait