Waspada Peningkatan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Usai libur panjang tahun lalu terjadi lonjakan kasus Covid-19 yang berkepanjangan sampai masuk 2021. Mesti belajar dari pengalaman pahit.
Image title
6 Oktober 2021, 07:30
Warga berjalan di kawasan wisata dan niaga Dalem Kaum Bandung, Jawa Barat, Selasa (1/6/2021). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan Provinsi Jawa Barat siaga satu COVID-19 akibat melonjaknya kasus positif COVID-19 pascakebocoran arus mudik dan libur
ANTARA FOTO/Novrian Arbi/rwa.
Warga berjalan di kawasan wisata dan niaga Dalem Kaum Bandung, Jawa Barat, Selasa (1/6/2021).

Libur panjang akhir tahun 2021 berpotensi menyebabkan peningkatan kasus Covid-19 jika tidak diantisipasi. Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan memberi peringatan dari jauh-jauh hari.

"Libur panjang yang disertai peningkatan mobilitas penduduk dan minim protokol kesehatan menjadi risiko tinggi terjadinya lonjakan kasus," tuturnya beberapa waktu lalu, dikutip dari Antara.

Iwan juga menyoroti faktor lain yang bisa menyebabkan peningkatan jumlah kasus. Antara lain penurunan pelacakan kasus, cakupan vaksinasi yang melambat (rendah), serta adanya varian baru yang lebih menular. 

Melihat kondisi tahun 2020 memang terjadi lonjakan kasus akibat dari libur panjang akhir tahun. Tercatat antara 24 Desember 2020-3 Januari 2021, terjadi rata-rata kenaikan kasus harian 37-78 persen. Selain itu, rata-rata kematian mingguan juga naik antara 6-46 persen pada periode yang sama.

Secara umum, setiap liburan panjang memang menjadi momen kenaikan kasus Covid-19 termasuk peningkatan angka kematian. “Masyarakat baru sadar atau menyesal setelah terjadi kenaikan kasus pada dia atau keluarganya terinfeksi," ujar Iwan.

Menurut dia, gelombang kenaikan kasus Covid-19 bisa dicegah dengan menggunakan indikator pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sebagai gabungan indikator transmisi dan kapasitas respons. Iwan menyarankan pemerintah agar tidak ragu untuk meningkatkan level PPKM di daerah rawan.

Adapun dalam beberapa waktu belakangan, kasus positif menunjukkan tren menurun. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan per Senin (4/10), kasus aktif berkurang 1.822 kasus hingga total tinggal 31.054 kasus. Dibandingkan dengan Minggu (3/10), total kasus aktif masih 32.876 kasus. Penurunan kasus aktif hingga di bawah 50.000 kasus terjadi sejak 22 September 2021.

Sementara itu, angka positivity rate harian Covid-19 tercatat 0,63 persen atau semakin jauh dari standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 persen. Puncak tertinggi angka positivity rate pernah terjadi pada 22 Juni 2021 yang mencapai 51,62 persen.

Meski demikian, masih sangat penting untuk tetap waspada dan mencegah munculnya gelombang kenaikan kasus yang baru. 

Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, kerumunan orang kerap diikuti dengan risiko peningkatan kasus, seperti yang sudah terjadi selama ini. 

"Jadi, tinggal apakah libur panjang akhir tahun bisa dikendalikan lebih baik atau tidak," katanya dikutip dari Antara.

Menurut Tjandra penting untuk mengingatkan masyarakat tentang potensi kasus COVID-19 yang meningkat setelah libur panjang. Meski program vaksinasi juga sudah berjalan cukup lancar sejauh ini. 

Sementara itu Penasihat Senior Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Diah Saminarsih menyarankan, momen ini dimanfaatkan untuk menguatkan lagi vaksinasi masyarakat. Vaksinasi perlu diutamakan kepada kelompok prioritas, yaitu lansia dan petugas kesehatan.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait