Covid-19 Bisa Menginfeksi Hampir Satu Tahun

Studi terbaru menunjukkan seorang perempuan penderita kanker di Amerika Serikat terinfeksi Covid-19 selama 335 hari.
Image title
6 November 2021, 07:30
Pengendara melintas di depan mural bertema COVID-19 di kawasan Jalan Nusantara, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (1/11/2021)
ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Pengendara melintas di depan mural bertema Covid-19 di kawasan Jalan Nusantara, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (1/11/2021).

Seorang perempuan di Amerika Serikat terinfeksi virus corona selama hampir satu tahun. Wanita penderita kanker berusia 47 tahun ini merupakan penderita Covid-19 terlama sampai sejauh ini.

Berdasarkan informasi dari Live Science, dia pertama kali mendapat perawatan akibat Covid-19 pada musim semi 2020 di National Institutes of Health (NIH) di Maryland, Amerika Serikat. Perempuan itu lantas mengalami gejala sampai 335 hari kemudian.

Kondisi tersebut juga kian pasti karena hasil tes terus menunjukkan positif Covid-19 setelah dilakukan berulang kali. Bahkan dia juga kerap membutuhkan oksigen tambahan di rumah selama periode waktu tersebut.

Uniknya meski tes terus menunjukkan hasil positif, tingkat virus di tubuh perempuan itu hampir tidak terdeteksi beberapa bulan setelah infeksi awal. Namun pada Maret 2021, atau hampir satu tahun setelah pertama kali gejala Covid 19 hadir, tingkat virus dalam tubuhnya melonjak.

Advertisement

Setelah dibandingkan, peneliti mendapati genom dari sampel dari infeksi pertama dan terbaru menunjukkan kesamaan sebagai virus yang sama. Para peneliti lantas menyimpulkan bahwa sang pasien tidak terinfeksi ulang tetapi menyimpan virus yang sama selama hampir satu tahun.

Virus Corona tersebut diperkirakan dapat bertahan sangat lama karena dia memiliki sistem kekebalan yang terganggu akibat pengobatan limfoma untuk mengobati kankernya. Hal ini diperkuat dengan fakta kalau perempuan itu pernah diobati dengan terapi sel CAR-T sekitar tiga tahun lalu yang melemahkan sistem kekebalannya.

Elodie Ghedin, Ahli Virologi Molekuler NIH yang melakukan studi ini menjelaskan, kasus infeksi terhadap orang dengan sistem kekebalan yang lemah memberi gambaran bagaimana virus Corona dapat menjelajahi ruang genetik.

Lewat analisis sampel dari orang-orang dengan infeksi kronis, termasuk perempuan asal Maryland itu, peneliti mempelajari perkembangan virus. Mereka menemukan dua penghapusan genetik di sampel virus Corona perempuan penderita kanker itu, satu di gen yang mengkode protein spike dan lainnya di luar protein spike.

Berita baiknya, selepas menjalani perawatan intensif di rumah sakit, perempuan penderita Covid-19 terlama itu akhirnya dinyatakan sembuh. Hasil tesnya pun telah menunjukkan negatif Covid-19 sejak April lalu.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait