Dorong Kemajuan Sektor Bisnis, Sibernetik Hadirkan Active Intelligence

Kecepatan menjadi salah satu kunci memenangkan kompetisi bisnis. Lewat realtime Active Intelligence, Sibernetik berupaya membantu pelaku usaha menjawab tantangan tersebut.
Image title
31 Oktober 2022, 11:26
Dorong Kemajuan Sektor Bisnis, Sibernetik Hadirkan Active Intelligence
Katadata

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia beberapa tahun belakangan memaksa kita untuk beradaptasi dengan digitalisasi di berbagai lini. Pandemi seakan menjadi akselerator untuk semakin terintegrasinya teknologi dalam kehidupan manusia.

Salah satu industri yang adaptif dengan kondisi pandemi adalah industri jasa keuangan. Hal ini didorong oleh perubahan pola belanja sejak diberlakukannya pembatasan mobilisasi selama pandemi.

“Di area finansial juga mengalami disrupsi yang sangat-sangat masif dalam transaksi, karena dalam melakukan belanja behaviour kita itu berubah. Tidak lagi ke mall, supermarket, semuanya berubah,” pungkan Stephen Yin Soen CEO Sibernetik Integra Data dalam diskusi bertajuk Winning in Digital Disruption Era (28/9/22).

Diskusi itu sendiri digelar selama dua hari dan bekerjasama dengan Katadata.

Advertisement

Head Enterprise Data Management Bank BRI Maulana Yusuf mengungkapkan bahwa salah satu tantangan dalam digitalisasi adalah edukasi nasabah. Hal itulah yang mendorong BRI untuk BRI juga mempersiapkan 37 ribu digital ambassador.

"Tugas para digital ambassador itu mengajak nasabah yang tadinya anti digital untuk mau menggunakan aplikasi, mereka juga diedukasi dalam menggunakan aplikasi dan melakukan transaksi serta yang tidak kalah penting adalah edukasi dalam mengamankan data. Karena kalau tidak diberi edukasi terkait data akan muncul bencana," pungkas Maulana.

Sementara itu Head of IT Architecture & Strategy Division Bank BNI Ari Pratiwi mengungkapkan bahwa tantangan dalam digitalisasi adalah integrasi data. Selaku bank yang melayani UMKM, BNI meluncurkan layanan digital bernama Xpora.

"Tantangan utama dalam digitalisasi antara lain adalah integrasi data. Kami harus tahu profile data di lokal, UMKM mana yang bisa kami tawarkan untuk dibantu dan UMKM mana yang siap untuk go global. Ini masih menjadi tantangan terbesar," kata Ari.

Dalam kesempatan yang sama, SVP Digital Banking Delivery Bank Mandiri Victor Erico Korompis mengungkapkan bahwa Bank Mandiri meluncurkan aplikasi bernama Livin untuk menjamin keamanan dan kenyamanan transaksi nasabah. Ia juga dengan bangga menyebutkan bahwa Livin merupakan 100% karya anak bangsa.

CTO Sibernetik Integra Data Arief Hasani menyatakan perlunya wadah besar untuk menampung data-data pengguna teknologi dalam aktivitas perbankan. Di sinilah Sibernetik hadir sebagai solusi.

"Pertama, kita punya central point. Tentunya menggunakan messaging sebagai salah satu solusi, dan solusi for front solution yang bekerjasama dengan Qlik dan Confluent. Ini yang memiliki kemampuan skalabilitas yang sangat tinggi, jadi kita bisa menjawab jutaan per second mulai dari ribuan per second, sehingga kita bisa langsung masuk ke dalam ranah real time," kata Arief.

"Kedua, setelah memiliki data besar dan realtime, kita punya challenge, itu taruh di mana, gimana memanfaatkannya. Di sinilah Sibernetik Integra Data juga bekerjasama dengan Imply untuk menganalisa data, dan juga dengan Aerospike untuk bisa menampung data-datanya," sambungnya.

Dalam diskusi kedua, CBO Sibernetik Integra Data Beny Prabowo menyatakan bahwa Sibernetik juga menghadirkan solusi bagi bidang supply chain berupa sistem bernama Active Intelligence.

“Kami naik kelas soal bisnis use case. Bagaimana mendorong pendapatan (drive revenue), mengurangi biaya operasional (reduce operational cost), dan mitigate risk yang membantu enterprise untuk semakin terdepan," ujar Beny menerangkan manfaat dari Active Intelligence.

Beny menegaskan bahwa aliran data dalam volume besar dan kecepatan tinggi adalah tantangan yang dijawab lewat kehadiran Active Intelligence. Hal itu karena kecepatan menjadi salah satu elemen untuk memenangkan kompetisi bisnis. Selain itu, kebutuhan aliran data dalam volume besar dan waktu yang cepat tidak dapat dipenuhi dengan traditional intelligence.

Krusialnya teknologi Active Intelligence diamini oleh sejumlah pimpinan perusahaan. CEO Great Giant Food Tommy Wattimena mengatakan panjangnya rantai pasok yang berujung pada pembengkakan biaya masih menjadi masalah yang kerap dihadapi pelaku usaha di Indonesia.

"Kita butuh teknologi untuk memastikan titik-titik poin, kita mengetahui waste. Apa yang bisa dilakukan satu sama lain," kata Tommy.

Selaras dengan Tommy, Country Director Qlik Indonesia Andreas Nataniel menyebut kehadiran Active Intelligence mempermudah otomatisasi supply chain. Menurutnya benefit dari pemanfaatan Active Intelligence dapat dilihat dari berbagai sudut mulai dari sisi permintaan, pergudangan, kualitas barang, hingga kepuasan konsumen.

Menanggapi pernyataan para CEO, CTO Sibernetik Integra Data Arief Hasnani menyatakan tantangan utama dalam menyiapkan infrastruktur supply chain adalah sistem yang resilien, responsif, elastis secara biaya. Ia kembali mengenalkan teknologi Aerospike besutan perusahaannya.

Sibernetik Integra Data diketahui saat ini sedang menjalin kerja sama dengan Qlik, Confluent, Imply dan Aerospike dalam menyediakan tempat dan pemrosesan realtime bagi data-data para pengguna teknologi.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait