Erick: BUMN Berperan Penting Antisipasi Kenaikan Harga Pangan

Erick mengatakan BUMN berperan penting dalam mengintervensi kenaikan harga pangan di lingkup nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan menggelar operasi Sembako.
Muhammad Taufik
12 Januari 2023, 11:52
Petani menanam bibit padi pada musim pertama tahun 2023 di Aceh Besar, Aceh, Sabtu (7/1/2023). Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan program penguatan pangan, nilai tambah dan daya saing industri, riset, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta
ANTARA FOTO/ Irwansyah Putra/foc.
Petani menanam bibit padi pada musim pertama tahun 2023 di Aceh Besar, Aceh, Sabtu (7/1/2023). Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan program penguatan pangan, nilai tambah dan daya saing industri, riset, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta pendidikan dan pelatih untuk tercapainya target produksi padi sebanyak 54,50 ton pada 2023.

Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan bahwa BUMN akan berperan penting dalam mengintervensi imbas kenaikan harga pangan dunia di Tanah Air. Sebab, tren kenaikan harga pangan dunia saat ini menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah dan berpotensi mengganggu daya beli masyarakat.

Erick menambahkan bahwa pihaknya akan bergerak cepat dan merespons berbagai kemungkinan yang terjadi akibat tren tersebut. Oleh sebab itu, BUMN akan melakukan operasi pasar sembilan bahan pokok (sembako) sebagai langkah antisipasi dari ancaman krisis pangan di waktu mendatang.

“Saya baru mendapatkan data bahwa harga pangan dunia naik 14%. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Artinya kita harus sama- sama mengintervensi dan mengatasi hal – hal seperti ini,” ujar Erick saat melakukan kunjungan di Taman Kota Gunung Sitoli, Pulau Nias, Sumatera Utara, Minggu (7/1), dikutip dari keterangan tertulis.

Saat ini BUMN tengah gencar melakukan operasi pasar di berbagai daerah. Erick berharap bahwa upaya ini dapat berjalan dengan kerja sama antar instansi, sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat dipetakan lebih baik lagi.

Advertisement

”Karena itu BUMN harus membantu kementerian lain, bagaimana mengintervensi kebutuhan pangan yang naik turun. Tetapi tetap dengan penugasan yang jelas, mana orientasi pasar dan mana penugasan yang memang bukan pasar,” ujar Erick.

Selain itu, Erik menekankan BUMN harus bisa bertindak cepat saat melihat situasi perekonomian yang terus bergulir, salah satunya adalah potensi risiko inflasi. Terlebih menurut Erick, kenaikan inflasi tersebut disebabkan oleh dua pemicu, yaitu kenaikan harga Bahan Bakar Mesin (BBM) dan melonjaknya harga pangan.

Sebelumnya, salah satu langkah lain yang dilakukan oleh Erick adalah mempersiapkan BUMN sebagai pembeli siaga (off-taker) bahan pangan pokok. Namun, pelaksana fungsi off-taker tersebut mesti dimulai dari penugasan yang jelas dari pemerintah.

”Yang dapat menjadi salah satu katalisator adalah Bulog, di mana ketika dia mengambil barang (bahan makanan pokok), ternyata ketika harus dikeluarkan, malah tidak bisa keluar,” kata Erick pada awal Desember tahun lalu.

Mekanisme pelaksanaan fungsi off taker, kata Erick, dapat dilakukan dengan mengelola dana yang tersimpan di Perhimpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara). Melalui dana tersebut, BUMN pelaksana fungsi off taker akan menyerap bahan pangan pokok dari petani, baik di momen saat harga naik maupun turun.

”Salah satu mekanisme yang didorong adalah bagaimana ada dana besar ditaruh di Himbara dengan bunga rendah, lalu ID Food dapat ditugaskan sebagai market, dan Bulog sebagai stabilisator,” katanya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.

Artikel Terkait