Perempuan Penggenggam Karat Show
ANTARAFOTO/Muhammad Adimaja
Image title
Oleh Antara
4 Maret 2022, 07:00

[Foto] Perempuan Penggenggam Karat

Pagi itu, kepulan asap mesin las pemotong besi menyeruak di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Surati (55) sesekali menyeka debu potongan besi yang menempel di wajahnya yang terlihat semakin mengeriput.

Surati adalah satu dari 12 perempuan di Cilincing, Jakarta Utara, yang berprofesi sebagai pencari karat besi. Berbekal keranjang persegi kecil dan tongkat magnet, Surati dan kawan-kawannya mencari tiap keping karat yang menempel pada besi kapal yang dibelah.

Demikian pula Datri (61), ia sudah bekerja mencari besi karat selama 17 tahun. Datri terpaksa mengambil pekerjaan guna menyambung hidup usai ditinggal suaminya.

Datri dan Surati mampu mengumpulkan karat besi sebanyak empat sampai lima kuintal dari setiap kapal yang dibelah. Tetapi pekerjaan mereka tidak selalu datang tiap hari, tergantung ada atau tidaknya kapal yang akan dibelah. Karat tersebut kemudian dikumpulkan ke pengepul. Untuk setiap karat yang dikumpulkan, ia menjual seharga Rp 20.000 per kuintal.

Pekerjaan sebagai pencari besi karat tentu memiliki risiko yang tinggi bagi kesehatan. Mereka terpaksa melakukannya karena tak ada lagi pilihan lain yang bisa dikerjakan. Mereka melakukan ini sebagai perjuangan demi menyambung hidup.

Sadar akan risiko yang dihadapi dari pekerjaannya, Surati bersama dengan 12 perempuan lainnya rutin memeriksa kesehatan tiap seminggu sekali. Misalnya hanya sekedar mengecek tekanan darah ke ke tukang tensi keliling dengan ongkos Rp 2.000 untuk sekali periksa.

Terkadang mereka juga melakukan terapi seadanya dengan menghirup oksigen murni dari tangki pengisian oksigen untuk kebutuhan alat las pemotong kapal-kapal bekas. "Lumayan terapi gratis. Katanya bisa nyembuhin penyakit, soalnya ini pas corona dicari-cari orang," kata dia.

Hidup sebagai pencari karat tidaklah mudah. Pilihan bertahan maupun mencari pekerjaan baru menurut mereta juga sama saja susah. Maka Surati, Datri dan 11 perempuan lainnya hanya mencoba berdamai dan berdoa agar nasib apes tak menimpa mereka.

Foto dan Text : Muhammad Adimaja

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.