ANALISIS DATA

Kolapsnya Terusan Suez Mengguncang Perdagangan Dunia


Andrea Lidwina

2 April 2021, 08.30

Foto: Ilustrasi: Joshua Siringo ringo/ Katadata

Terusan Suez merupakan salah satu jalur utama perdagangan global. Tertutupnya jalur tersebut akibat kapal “Ever Given” yang kandas, menyebabkan kerugian besar karena pasokan barang dari Asia ke Eropa dan sebaliknya terhenti. Potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp 139 triliun tiap hari.


Kapal kontainer ”Ever Given“ yang kandas di Terusan Suez berhasil ditarik pada 29 Maret 2021 pukul 18.00 waktu setempat. Sebelumnya, pada 23 Maret, kapal yang mengangkut 18,3 ribu kontainer dari Tiongkok menuju Rotterdam, Belanda itu kandas dan menutup jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Mediterania.

Dikutip dari BBC, akibat terblokade pendapatan Terusan Suez berkurang US$ 14-15 juta (Rp 203-218 miliar) per hari. Lloyd’s List juga memprediksi perdagangan barang senilai US$ 9,6 miliar (Rp 139 triliun) terhambat setiap hari. Jika dilihat lebih rinci, perdagangan menuju arah barat sebesar US$ 5,1 miliar per hari dan arah timur US$ 4,5 miliar per hari.

Kejadian ini juga memengaruhi harga komoditas. Harga minyak mentah, misalnya, naik hampir 6% pada 24 Maret 2021. Kemudian, naik lagi 4% pada 26 Maret 2021. Pedagang dan investor saat itu khawatir blokade Terusan Suez akan berlangsung lama, lalu menyebabkan stok minyak dan produk olahannya menipis.

Made with Flourish 

Blokade di Terusan Suez berpotensi menyebabkan kerugian besar dalam perdagangan global. Jalur itu merupakan satu-satunya yang langsung menghubungkan Eropa dan Asia. Kapal-kapal kontainer memang bisa menempuh jalur alternatif mengitari Afrika, tetapi biaya yang dikeluarkan akan lebih besar.

Jarak tempuh dari Tiongkok ke Belanda, misalnya, diperkirakan sejauh 18,5 ribu km melalui Terusan Suez. Sedangkan jika melewati Afrika, perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar kapal sejauh 6-7 ribu km.

Jarak kemudian memengaruhi total waktu perjalanan dari negara asal ke negara tujuan. Jika menggunakan kecepatan rata-rata kapal 30 km/jam, maka waktu tempuhnya menjadi 25-26 hari lewat Terusan Suez berbanding 34 hari lewat jalur alternatif.

Tak hanya itu, ahli keamanan maritim Dirk Siebels dalam wawancara dengan The Conversation mengatakan, pembajakan kapal di beberapa wilayah Afrika, seperti Somalia dan Teluk Guinea, juga membuat operator kapal lebih memilih Terusan Suez.

Karena itu, sebanyak 18.880 kapal melintas di Terusan Suez pada 2019. Artinya ada sekitar 51-52 kapal setiap hari. Jumlah itu meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, yang ada di kisaran 16-17 ribu kapal per tahun.

Berat komoditas yang diangkut juga naik menjadi satu miliar ton pada tahun yang sama. Rinciannya, sebanyak 572,3 juta ton dibawa menuju Asia dan 458,8 juta ton menuju Eropa. Komoditas itu antara lain terdiri dari minyak dan produk turunannya, batu bara, peralatan mesin, serta gandum.

  

 

Kapal kontainer yang kandas di Terusan Suez bukan kali ini saja terjadi. Dikutip dari Business Insider, setidaknya tiga kapal mengalami hal serupa dalam dua dekade terakhir. Pertama, kapal tangki minyak Tropic Brilliance yang tersangkut selama tiga hari pada 2004. Blokade ini merupakan penutupan jalur paling lama selama bertahun-tahun hingga kapal Ever Given kandas pekan lalu.

Kedua, kapal kontainer Okal King Dor yang terdampar akibat angin kencang selama delapan jam pada 2006. Ketiga, kapal kontainer OOCL yang menutup lalu lintas jalur selama beberapa jam pada 2017.

Namun ketiganya terjadi saat perdagangan global belum masif dan terhubung seperti sekarang, atau tidak terjadi dalam rentang waktu lama. Terusan Suez kini menjadi jalur dari 12% perdagangan global. Penutupan jalurnya selama periode waktu tertentu, layaknya blokade kapal Ever Given, bisa berdampak pada kurangnya pasokan hingga melambungnya harga pada beragam sektor di negara tujuan.

Editor: Aria W. Yudhistira