Analisis | Lalai Protokol Kesehatan Membawa Sengsara di India - Analisis Data Katadata
ANALISIS DATA

Lalai Protokol Kesehatan Membawa Sengsara di India


Yosepha Pusparisa

12 Mei 2021, 10.30

Foto: Ilustrasi: Joshua Siringo Ringo/ Katadata

Kasus Covid-19 di India yang sempat menurun disambut dengan pelonggaran aktivitas publik hingga memicu kerumunan. Protokol kesehatan pun diabaikan. Akibatnya India kini menjadi negara terparah menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19.


India tersapu gelombang kedua pandemi Covid-19. Setelah sebelumnya berhasil menekan jumlah kasus baru dari sekitar 97 ribu per hari pada September 2020 menjadi sekitar 10 ribu pada Januari 2021. Sejak akhir Februari, kasus positif Covid-19 India kembali melonjak dan kini mencapai 400 ribu kasus per hari.

India menjadi negara terparah yang dilanda gelombang kedua pandemi. Penyebabnya adalah digelarnya kembali aktivitas yang menimbulkan kerumunan massa. Sementara pemerintah tidak mengimbanginya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Bahkan pejabat pemerintah turut andil dalam pengabaian protokol kesehatan. Perdana Menteri Narendra Modi dan sejumlah menteri misalnya, berpidato tanpa mengenakan masker dalam kampanye pemilu di beberapa negara bagian. Kemudian festival Kumbh Mela yang menyebabkan ratusan ribu orang berdesakan di Sungai Gangga pada 11 Maret 2021.

Sebenarnya pada Februari lalu, sejumlah ahli telah mencemaskan bakal datangnya gelombang kedua Covid-19. Para pejabat India juga mengabaikan peringatan para ilmuwan yang dibentuk pemerintah, bahwa terdapat varian virus corona dengan penularan yang lebih tinggi.

“Pemerintah tidak mengantisipasi gelombang kedua datang, dan mulai merayakannya (keberhasilan) terlalu dini,” ujar ahli virologi dari Ashoka University, Shahid Jameel, dilansir dari BBC. (Baca: Mengapa Kurva Covid-19 di India Cepat Melandai Daripada RI?)

 

 

Seiring dengan peningkatan laju penularan Covid-19, angka kematian pun meroket. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan India menyumbang satu dari empat kematian akibat Covid-19 dunia. (Baca: Mimpi Buruk Gelombang Kedua Covid-19 di India)

Dalam laman Worldometer, India berada di posisi teratas dengan tingkat kematian tertinggi pada periode 3-9 Mei 2021. Terdapat 27.201 jiwa melayang, naik 14% dari sepekan sebelumnya.

Sejumlah rumah sakit menyatakan banyak pasien yang tak tertolong karena kurangnya pasokan oksigen. Dalam laman PATH, kebutuhan harian oksigen India yang terbesar di dunia. Sekurangnya hingga Minggu 9 Mei, terdapat permintaan 2,49 juta tabung oksigen berukuran 7m3 setiap harinya.

Tak hanya yang hidup mengalami kesulitan, mereka yang meninggal karena Covid-19 juga sulit mendapatkan pelayanan. Salah satu krematorium di Muzaffarnagar, Uttar Pradesh dari biasanya hanya melayani tiga jenazah per hari, meningkat hingga 25 jenazah.

Angka kematian juga salah satu persoalan. Pemerintah tidak mencatat seluruh kasus kematian, sehingga angkanya tidak sesuai kondisi lapangan. Pasien yang meninggal dengan gejala terinfeksi virus corona seperti pneumonia dan fibrosis paru tak masuk dalam hitungan kematian Covid-19.

Sementara di daerah rural yang cenderung memiliki fasilitas kesehatan dan tes Covid-19 yang minim, jumlah kematian dapat lebih besar dibanding yang tercatat. Ketidaksinkronan data kematian dapat menyebabkan kekeliruan perhitungan pendistribusian fasilitas kesehatan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menggagalkan strategi vaksinasi yang tengah berjalan.

“Jika kita tak memiliki data untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi dengan pandemi saat ini, bagaimana India dapat mempersiapkan masa depan?” kata ahli matematika Murad Banaji.

Serupa dengan India, pemerintah Indonesia pernah dikritik mengenai transparansi data. Data antara pemerintah daerah dan pusat masih berbeda hingga kini. Terdapat penghitungan dan standar yang berbeda, baik melalui KTP pasien atau lokasi rumah sakit tempat pasien dirawat atau meninggal dunia.

Vaksinasi adalah salah satu cara untuk menekan laju penularan Covid-19. Dengan begitu, beban rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya dapat berkurang. Penduduknya yang besar merupakan tantangan dalam melakukan vaksinasi. Hingga 10 Mei, India baru menyuntik 170,2 juta orang atau 13% dari total penduduknya.

Di saat bersamaan, India pun mulai kekurangan suplai vaksin, sehingga terpaksa mengembargo pengiriman vaksin AstraZeneca. Padahal India adalah salah satu pemeran penting dalam program Covax, program yang juga mengutamakan pemerataan vaksin Covid-19 di dunia. Pasokan vaksin global pun terhambat. (Baca: Tanda-tanda Pemicu Gelombang Kedua Covid-19 di Indonesia)

Rentetan peristiwa yang terjadi di India menjadi pelajaran penting untuk Indonesia. Mulai dari pemerintah yang terlena dengan turunnya kasus Covid-19 sehingga melonggarkan beragam kebijakan, berakibat pada timbulnya gelombang dua Covid-19.

Pemerintah perlu bekerja lebih keras guna mencegah terjadinya gelombang dua Covid-19. Apalagi kini mobilitas masyarakat meningkat seiring libur Idul Fitri. Dan lonjakan kasus Covid-19 India salah satunya disebabkan pengabaian terhadap protokol kesehatan dalam merayakan festival keagamaan.

Editor: Aria W. Yudhistira