Analisis | Bahaya Ledakan Covid-19 dari Pesta Sepak Bola di Eropa - Analisis Data Katadata
ANALISIS DATA

Bahaya Ledakan Covid-19 dari Pesta Sepak Bola di Eropa


Dimas Jarot Bayu

6 Juli 2021, 16.00

Foto: Joshua Siringo Ringo/ Ilustrasi/ Katadata

WHO memperingatkan potensi lonjakan kasus Covid-19 akibat Piala Eropa 2020 yang tengah berlangsung di 11 negara benua biru tersebut. Selain rendahnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan, ledakan kasus dipicu oleh varian Delta dengan daya penyebarannya tinggi.


Perhelatan kejuaraan sepak bola Piala Eropa (Euro 2020) menjadi antiklimaks penanganan pandemi Covid-19 di benua biru. Setelah berhasil menekan pertambahan kasus sejak pertengahan April 2021, kasus baru Covid-19 mulai bermunculan seiring berjalannya kompetisi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan potensi lonjakan kasus dalam waktu dekat.

Peringatan itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan data WHO terjadi tambahan 389.745 kasus baru pada 21-27 Juni 2021. Jumlah itu meningkat 14,3% dibandingkan sepekan sebelumnya yang sebanyak 340.805 orang. Kasus baru semakin melonjak pada sepekan berikutnya yakni 498.205 orang atau naik sebesar 27,8%.

Menurut Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Kluge, kompetisi sepak bola yang diikuti oleh 24 negara dan berlokasi di 11 negara tersebut berpotensi menjadi superspreader event. Dalam sepekan terakhir, mayoritas negara yang menjadi tuan rumah telah mengalami kenaikan kasus. Denmark yang tertinggi mencapai 84% dari pekan sebelumnya.

Azerbaijan yang terletak di antara Eropa dan Asia tercatat meningkat 69% dalam sepekan terakhir. Inggris juga mengalami peningkatan kasus corona hingga 68%. Kemudian Spanyol sebesar 65%, Belanda 36%, dan Rusia naik hingga 19%.

Penyebab terjadinya lonjakan tersebut adalah longgarnya protokol kesehatan selama kompetisi berlangsung. UEFA memang telah menerbitkan sejumlah aturan bagi pendukung tim yang ingin menonton pertandingan di stadion. Misalnya jarak minimal 1,5 meter dan wajib menempati bangku yang telah disediakan.

Para penggemar juga harus menghindari kontak fisik dan memakai masker. Di stadion pun tersedia disinfektan untuk mencuci tangan. Kemudian penonton yang sedang tidak fit, memiliki gejala Covid-19, atau pernah melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19 dilarang masuk ke stadion.

Namun dalam praktiknya, aturan tersebut kerap dilanggar. Banyak penonton yang tak mengenakan masker dan menjaga jarak selama di stadion. Bahkan melakukan kontak fisik seperti berjabat tangan atau berpelukan. Di luar stadion, pendukung tim datang bergerombol tanpa masker. Ini terlihat ketika laga Skotlandia-Inggris pada 18 Juni 2021, sebagaimana dilansir dari BBC.

Persoalan jadi runyam tatkala sejumlah negara tuan rumah tak membatasi jumlah penonton. Misalnya di Puskas Arena, Budapest yang diisi 61 ribu penonton atau 100% dari total kapasitas saat pertandingan berlangsung. UEFA juga akan mengizinkan suporter masuk Stadion Wembley, London untuk babak semifinal dan final.

Menteri Dalam Negeri Jerman Host Seehofer mengecam UEFA yang dinilainya tidak bertanggung jawab. Pasalnya Euro 2020 digelar dengan melibatkan banyak penonton di stadion yang minim protokol kesehatan.

“Saya curiga ini semua didorong oleh kepentingan komersial. Padahal (semestinya) kepentingan komersial tidak boleh mengorbankan keselamatan publik,” kata Seehofer.

Hantu Corona Varian Delta

Saat ini Eropa tengah dihantui semakin meluasnya penyebaran varian Delta (B.1.617.2) yang berasal dari India. Hasil studi tim peneliti gabungan dari WHO, London School of Hygiene and Tropical Medicine, dan Imperial College London menunjukkan, tingkat penularan varian virus ini 97% lebih tinggi dibandingkan varian aslinya. Hal ini sekaligus yang tercepat dibandingkan varian baru lainnya.

Berdasarkan data Statista per 2 Juli 2021, Inggris merupakan negara dengan kasus penularan varian Delta terbesar. Ada 82.940 kasus yang tercatat di negara itu. Jumlahnya setara dengan 75% dari total varian Delta yang tersebar di 79 negara.

Negara Eropa lain yang juga memliki kasus Delta besar adalah Jerman sebanyak 2.046 kasus. Kemudian, Portugal sebanyak 766 kasus, Spanyol 672 kasus di Spanyol, Italia 618 kasus, Belgia 536 kasus, Rusia 515 kasus, dan Denmark 458 kasus. Negara Eropa lain seperti Prancis, Swiss, dan Austria juga terdeteksi ada penyebaran kasus dari varian tersebut.

Dengan penularannya yang masif, Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Uni Eropa memperkirakan sekitar 90% kasus Covid-19 di wilayah itu merupakan varian Delta pada akhir Agustus 2021.

Wakil Presiden Komisi Uni Eropa Margaritis Schinas mengatakan, potensi kenaikan tersebut juga didorong oleh pelonggaran pembatasan sosial yang mulai terjadi di beberapa wilayah Eropa. Dia khawatir jika babak semifinal dan final Piala Eropa di Stadion Wembley akan disesaki para suporter.

Dia berharap otoritas dapat mengeluarkan kebijakan untuk membatasi penonton di stadion utama di tanah Inggris tersebut. “Saya berpendapat UEFA sebaiknya secara hati-hati mengkaji keputusannya,” kata Schinas pada 28 Juni 2021, sebagaimana dilansir dari VOA,

Vaksinasi untuk Menangkis Kematian

Meski sudah ada kecenderungan peningkatan kasus, tetapi angka kematian akibat Covid-19 di Eropa masih belum mengalami lonjakan. Berdasarkan data WHO, tambahan kasus kematian akibat corona di Eropa mencapai 6.776 orang pada 28 Juni-4 Juli 2021. Jumlah itu hanya naik 3,3% dibandingkan pekan sebelumnya yang sebanyak 6.560 orang.

Salah satunya didukung oleh program vaksinasi yang gencar dilakukan oleh masing-masing negara. Rata-rata setiap negara sudah memvaksinasi lebih dari 30% populasinya. Bahkan, di Malta, Inggris, dan Islandia telah memberikan suntikan vaksin penuh 60% populasi hingga 3 Juli 2021.

Hal tersebut menunjukkan bahwa vaksinasi menjadi salah satu kunci penting dalam mencegah kematian. “Sangat penting untuk menyuntikkan vaksin dengan kecepatan yang sangat tinggi,” kata CDC Eropa pada Minggu, 4 Juli 2021 sebagaimana dilansir dari AFP.

Editor: Aria W. Yudhistira