Analisis | Mengapa Kualitas Hidup Orang Indonesia Terancam Turun di Masa Depan? - Analisis Data Katadata
ANALISIS DATA

Mengapa Kualitas Hidup Orang Indonesia Terancam Turun di Masa Depan?


Dzulfiqar Fathur Rahman

16 Juni 2022, 16.11

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata

BPS memperkirakan umur harapan hidup orang Indonesia tetap bertambah meski dihantam pandemi Covid-19. Namun, ada risiko jangka panjang terhadap kualitas hidup, terutama karena tekanan penurunan ekonomi dan kesehatan.


Kualitas hidup masyarakat Indonesia terpengaruh dampak pandemi Covid-19. Ini terlihat dari tingkat harapan hidup yang pertumbuhannya melambat. Salah satu penyebabnya tingkat pendapatan masyarakat yang turun akibat kemerosotan ekonomi. Situasi ini dapat menimbulkan risiko jangka panjang.

Usia harapan hidup adalah rata-rata jumlah tahun yang seseorang jalani sejak lahir. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harapan hidup manusia Indonesia mencapai 71,6 tahun pada 2021. Rentangnya lebih panjang kira-kira 36 hari dari tahun sebelumnya.

Perempuan memiliki umur harapan hidup 73,6 tahun pada 2021, atau 3,9 tahun lebih lama daripada laki-laki. Rentang usia hidup tersebut, baik perempuan maupun laki-laki, mengalami peningkatan. Namun lajunya cenderung mengalami perlambatan, meskipun tren perlambatan ini sudah terlihat sebelum pandemi. Laju peningkatan pada 2021 ini tercatat paling lambat setidaknya sejak 2011.

Sebuah grafik garis yang menunjukkan umur harapan hidup Indonesia menurut jenis kelamin antara tahun 2010 dan 2021 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Secara keseluruhan, umur harapan hidup masih meningkat selama pandemi. Perempuan memiliki umur harapan hidup 73,6 tahun dan laki-laki 69,7 tahun pada tahun 2021.

“Memasuki tahun kedua pandemi, harapan hidup saat lahir masih belum pulih dari tekanan pandemi,” tulis BPS dalam laporan yang dirilis pada bulan Mei. “Hal ini terlihat dari capaiannya yang terus meningkat tapi pertumbuhannya melambat, bahkan lebih lambat jika dibandingkan tahun pertama pandemi.”

Salah satu faktor yang memberikan tekanan terhadap angka harapan hidup adalah turunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Pandemi menyebabkan tingkat pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan turun 2,53% ke Rp11,1 juta pada 2020 dari tahun sebelumnya.

Umur harapan hidup biasanya bergerak bersama pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan. Antara 2010 dan 2021, umur harapan hidup kira-kira meningkat 1,38% untuk setiap 10% pertumbuhan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan.

Semua kabupaten dan kota di Indonesia mencatat harapan hidup yang membaik antara 2010 dan 2021. Ini seiring dengan meningkatnya kesejahteraan materi sekaligus menandai progres dalam pembangunan manusia.

Sebuah scatter plot yang menunjukkan hubungan antara umur harapan hidup dan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan menurut kabupaten/kota antara tahun 2010 dan 2021, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik. Umur harapan hidup meningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan pada periode ini

Dengan kesejahteraan yang menurun, pandemi diperkirakan memiliki dampak tidak langsung yang bersifat jangka panjang terhadap harapan hidup.

John Gibson dan Susan Olivia, peneliti dari Universitas Waikato di Selandia Baru, memperkirakan umur harapan hidup Indonesia akan 1,7 tahun lebih pendek dari yang seharusnya dalam jangka panjang. Ini berkaitan dengan pendapatan riil di masa depan yang diproyeksikan lebih rendah dari seharusnya.

Saat menyusun penelitian tersebut pada 2020, Gibson dan Olivia mengasumsikan Indonesia akan mencatat kontraksi 4% dalam produk domestik brutonya (PDB) pada tahun pertama pandemi. Kontraksi ini kira-kira dua kali lebih dalam dari kontraksi aktual.

Gibson dan Olivia menambahkan, potensi dampak tersebut juga disebabkan adanya gangguan terhadap program imunisasi. Kegagalan memberikan imunisasi kepada anak-anak tepat waktu, ditambah gizi yang buruk, bisa menghambat pertumbuhan mereka. Sementara itu, tubuh anak yang kerdil berkaitan dengan pendapatan yang lebih rendah saat mereka dewasa.

BPS melaporkan bahwa kira-kira 9,38% dari anak-anak berusia kurang dari dua tahun menunda pemberian imunisasi pada 2021. Kemudian 9,06% tidak diberikan imunisasi sama sekali. Di sisi lain, kira-kira tujuh dari 10 anak-anak dalam kelompok umur ini memilih pemberian imunisasi sesuai jadwal. Sisanya sudah menerima imunisasi lengkap.

Sebuah grafik batang yang menunjukkan proporsi anak-anak berusia kurang dari 2 tahun menurut status imunisasi pada tahun 2021 di kolom sisi kiri, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Di kolom sisi kanan, terdapat grafik batang yang menunjukkan proporsi anak-anak berusia kurang dari 2 tahun menurut alasan untuk menunda atau tidak diberikan imunisasi pada tahun 2021, berdasarkan data dari BPS. Kedua grafik ini menunjukkan bahwa kira-kira ada 18 anak-anak yang menunda dan tidak diberikan imunisasi. Sebagian besar dari mereka menunda atau tidak diberikan imunisasi karena khawatir terpapar COVID-19.

BPS mencatat, sebagian besar dari anak-anak berusia antara 0 dan 23 bulan menunda atau tidak diberikan imunisasi karena khawatir terpapar Covid-19. Kira-kira 17,14% dari mereka menunda atau tidak diberikan imunisasi karena fasilitas kesehatan tidak beroperasi selama pandemi.

Pemerintah bertanggung jawab atas imunisasi dasar untuk bayi berusia kurang dari 1 tahun dan imunisasi lanjutan untuk anak-anak berusia kurang dari 2 tahun. Imunisasi dasar mencakup imunisasi untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC), hepatitis B, poliomyelitis, difteri, pertusis, tetanus dan campak.

Editor: Aria W. Yudhistira