Analisis | Bank Digital Berat di Awal, Berbuah Efisiensi di Masa Depan - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Bank Digital Berat di Awal, Berbuah Efisiensi di Masa Depan

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Bank digital dalam jangka panjang cenderung lebih efisien dibandingkan bank konvensional. Meski rasio beban terhadap pendapatan operasional (BOPO) bank digital butuh investasi infrastruktur teknologi pada tahun pertama sehingga menunda efisiensi tersebut.
Dzulfiqar Fathur Rahman
9 September 2022, 06.05

Bank digital dianggap cenderung lebih efisien dibandingkan pesaing konvensional. Mereka hanya perlu kantor pusat atau setidaknya kantor fisik terbatas. Namun, sebuah indikator menunjukkan bahwa bank digital tidak segera meraih efisiensi, terutama pada babak awal mereka beroperasi.

PT Bank Digital BCA (atau BCA Digital), misalnya, menunjukkan tren peningkatan inefisiensi pada tahun pertamanya. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO)—salah satu indikator keuntungan atau rentabilitas—melonjak ke 135,8% pada 2021 dari 43,4% pada tahun sebelumnya (lihat grafik).

BOPO meningkat akibat beban biaya teknologi informasi (atau IT) dan promosi, serta biaya lainnya untuk ekspansi dan pengenalan produk. BCA Digital mencatat semua beban biaya ini bermuara ke rugi bersih pada 2021.

BCA Digital baru meluncurkan aplikasi seluler untuk jasa perbankan digitalnya, yang disebut “blu”, pada Juli 2021. Ini lebih dari satu tahun setelah PT Bank Central Asia (BCA), yang merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar, melahirkan anak usahanya tersebut pada Mei 2020.

(Baca: Bukalapak dan Standard Chartered Rilis Layanan Bank Digital)

Bank digital telah menjadi semakin populer, terutama akibat momentum yang agak canggung seiring pandemi Covid-19. Walaupun Indonesia sempat jatuh ke dalam resesi pertamanya sejak 1998, bank digital justru melihat peluang bisnis yang menjanjikan di tengah percepatan adopsi layanan keuangan digital.

Transaksi dengan layanan perbankan digital tampaknya akan menetap setelah pandemi mereda. Bank Indonesia mencatat, nilai transaksi perbankan digital tumbuh 27,82% ke Rp4,36 kuadriliun per Juli 2022 dari tahun sebelumnya.

Sejumlah bank digital juga mampu mendorong efisiensi. Meskipun masih menunjukkan tekanan operasional, PT Bank Jago (atau Bank Jago) mencatat penurunan BOPO ke 98,52% pada 2021 dari 261,1% pada tahun sebelumnya (lihat grafik). Ini menandai “peningkatan efisiensi,” menurut bank dengan kode saham ARTO itu.

Bank Jago juga berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp86,02 miliar pada 2021, membalikkan kerugian bersih yang mencapai Rp189,56 miliar pada tahun sebelumnya.

Mirip dengan BCA Digital, Bank Jago juga baru meluncurkan aplikasi selulernya, yang disebut “Jago”, pada April 2021. Bank Jago telah mengambil langkah-langkah transformasi digitalnya sejak 2020. Dengan raksasa ojek daring dan dompet digital Gojek sebagai pemegang saham, mereka juga mengintegrasikan aplikasi layanannya dengan layanan keuangan digital Gopay.

Di sisi lain, bank-bank konvensional besar telah menunjukkan tren perbaikan efisiensi yang seragam pada 2021. PT Bank Mandiri (atau Bank Mandiri), misalnya, berhasil mengembalikan BOPO ke level prapandemi di 67,26% pada 2021, setelah sempat naik ke 80,03% pada 2020.

Walaupun trennya cenderung berbeda-beda pada tahun-tahun awal, bank digital mungkin akan tumbuh lebih pesat lagi pada tahun-tahun berikutnya, sejalan dengan pergeseran perilaku nasabah akibat pandemi. BCA Digital telah menargetkan untuk memperoleh 500.000 nasabah baru pada 2022, yang akan menandai pertumbuhan 90,57% dari jumlah nasabah pada tahun sebelumnya.

Editor: Aria W. Yudhistira